Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 30 Agustus 2025

Ratusan Warga Desa Banuaji Demo ke Kantor Bupati Taput

* Usut Tuntas Temuan Gas Beracun di Persawahan Warga, Tutup PT SOL Ltd
Redaksi - Selasa, 18 Februari 2020 09:24 WIB
494 view
Ratusan Warga Desa Banuaji Demo ke Kantor Bupati Taput
Foto: SIB/Bongsu Batara Sitompul
DATANGI: Ratusan warga dari Desa Banuaji I, II dan IV, Kecamatan Adiankoting mendatangi Kantor Bupati Taput, Senin (17/2). 
Tapanuli Utara (SIB)
Ratusan masyarakat Desa Banuaji I II dan IV Kecamatan Adiankoting KabupatenTapanuli Utara, Senin (17/2) mendatangi kantor Bupati Tapanuli Utara menuntut usut tuntas dugaan gas beracun H2S yang menelan korban jiwa di Desa Banuaji IV.
Dalam aksi damai itu, terpantau sejumlah emak-emak turun ke halaman kantor Bupati dengan memegang poster tutup Sarulla Operation Ltd.

Koordinator aksi Donfri Sihombing dalam orasi tuntutannya meminta Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara menindaklanjuti surat dari LSM Pencegahan Korupsi Anggaran Pemerintah (PKAP) yang sudah dilayangkan pada 9 Desember 2019 ke Dinas Lingkungan Hidup Taput.

Dalam surat itu kata Donfri Sihombing, diduga ada penyebaran polusi gas beracun asam sulfit atau H2S di areal persawahan warga Desa Banuaji IV Kecamatan Adian-koting. Diduga penyebaran gas tersebut, seorang petani meninggal dunia di areal pertanian warga.

"Kami menduga bahwa penyebab kematian salah seorang petani Banuaji IV bernama Sabungan Sinaga (67) pada 16 Mei 2019 adalah akibat polusi gas asam sulfit atau H2S," kata Dolfri Sihombing.

Donfri juga mengatakan, sesuai hasil investigasi LSM PKAP menemukan kerusakan lahan seluas 130 hektar. Bahkan sudah melebar ke dua desa tetangga yakni desa Banuaji I dan II.

"Yang kita takutkan ini adalah dampak kegiatan di SOL. Maka dari ini kita suarakan kepada Bupati agar menggiring ini dan menghadirkan ahli dalam bidang ini," kata Donfri.

Bupati Tapanuli Utara Nikson Nababan di hadapan pengunjuk rasa membenarkan temuan gas beracun di lokasi areal pertanian warga Banuaji IV Adiankoting.

"Kejadian ini tahun 2019, kita sudah surati Bapedal. Dan ditemukan disitu gas H2S yang melewati ambang batas," kata Nikson kepada wartawan.

Untuk menuntaskan tuntutan masyarakat pendemo ini, Bupati mengatakan, pihaknya berharap kerjasama dari insan pers untuk ambil andil mendorong Walhi dan Kementerian ESDM lakukan penelitian objektif.

"Kalau ada dugaan SOL, kita sudah minta lembaga independen agar melakukan penelitian secara objektif. Dan tanah warga yang gagal panen akan kita bantu dari Dinas Sosial. Nanti ada kajian dan sesuai keterangan Kades bahwa timbulnya gas H2S baru tahun ini," kata Nikson.

Kepala Teknik Panas Bumi (KTPB) Sarulla Operations Ltd Donny Tambunan dalam keterangan persnya mengatakan, SOL telah berkoordinasi dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Tapanuli Utara dan Kepolisian Resort Tapanuli Utara terkait unjuk rasa atas nama masyarakat Desa Banuaji perihal adanya gelembung cairan panas (fumarol) yang terjadi di Desa Banuaji IV, Kecamatan Adian-koting Kabupaten Tapanuli Utara.

"Fenomena fumarol atau keluarnya uap air dan gas (seperti karbon dioksida, belerang dioksida, asam klorida dan hidrogen sulfida) ke permukaan merupakan salah satu bentuk jenis-jenis manifestasi alam di dalam sesar besar Sumatera yang memiliki tektonik aktif. Desa Banuaji berlokasi sekitar 10 Km ke arah Barat Laut di atas hulu dari lokasi produksi PLTP Sarulla, " jelasnya.

Dikatakan Donny, lokasi Desa Banuaji cukup jauh dari wilayah operasional PLTP Sarulla. Desa Banuaji juga tidak terkategori sebagai desa terdampak dalam AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan) milik SOL. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa apa yang terjadi di Desa Banuaji tidak terkait dengan kegiatan operasional SOL. (G02/d)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru