Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 29 April 2026

Rencana Bangun Jalan Tol Medan-Karo, Jadi Wacana Jalan Layang Kelok 11

DPN Inkindo: Prirotas Pertama Harus Perlebar Jalan Tikungan Medan-Berastagi
Redaksi - Rabu, 11 Maret 2020 09:42 WIB
652 view
Rencana Bangun Jalan Tol Medan-Karo, Jadi Wacana Jalan Layang Kelok 11
sumut pos
Ilustrasi
Medan (SIB)
Rencana pembangunan jalan tol pada jalur Medan-Berastagi (Karo) belakangan ini berubah menjadi wacana pembangunan jalan layang yang disebut model Kelok 11, mirip pembangunan jalan layang Kelok 9 di Sumatera Barat.

Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Nasional Konsultan Indonesia (DPN Inkindo) Pusat Ir Sanusi Surbati MBA MRE menyebutkan, perubahan konsep membangun tol menjadi jalan layang diharapkan akan mempercepat realisasi pembangunan, sebab aturan pembangunan jalan tol harus tergantung pada aspek koneksi jalan tol yang sudah ada (eksis) dengan lokasi jalan tol baru.

"Prinsip urgen infrastruktur jalan raya Medan-Berastagi atau Medan-Karo saat ini adalah model apa yang bisa lebih cepat tercapai untuk mengatasi kemacetan, karena sekarang macat tidak lagi hanya pada hari-hari libur, tapi juga pada hari-hari biasa pada jalur dari dan ke Berastagi. Mau bangun jalan tol atau jalan layang, hal terpenting harus didahului dengan memperlebar jalan pada semua lokasi tikungan Medan-Berastagi, khususnya pada tanjakan dari Bandarbaru atau Sibolangit," katanya kepada pers di Medan, Selasa (10/3).

Dia menyebutkan hal itu sekembalinya dari Jakarta, mengikuti Rakor infrastruktur nasional yang diikuti sejumlah pengusaha dan konsultan jasa konstruksi serta kalangan pejabat terkait. Secara khusus, Sanusi mantan Ketua DPP Inkindo Provinsi Sumut itu menyatakan pihak terkait segera memastikan bentuk agenda pengembangan atau pembangunan jalan raya Medan-Berastagi (Karo) tersebut, kalau memang akhirnya dalam bentuk atau model jalan layang Kelok 11.

Soalnya, kondisi jalan Medan-Berastagi sepanjang 66 kilometer yang selama ini sangat rawan karena banyak tikungan, khususnya setelah melewati Desa Bandarbaru atau Sibolangit. Dari sejumlah tikungan tajam yang disebut tikungan spiral-spiral (SS), terdapat delapan tikungan yang sangat rawan yang sering menjadi titik bahaya seperti kendaraan yang jatuh terjungkir, kemacetan panjang, longsor, dan sebagainya. Misalnya pada lokasi tikungan Mata Air Laukaban, tikungan Amoi, dan tikungan Cagaralam.

Semula, rencana pembangunan jalan tol Medan-Karo dimaksudkan untuk memperpendek jalur pada ruas di lintasan lokasi Laukaban (pusat mata air) yang bisa diperpendek hingga 73 persen dari panjang jalan 1.448 meter.

Sebenarnya, ujar Sanusi, wacana pembangunan jalan berupa jalan layang mirip Kelok 9 sudah mencuat dalam rencana pembangunan jalan tol Medan-Berastagi itu. Pertimbangannya, badan jalan mayoritas berupa tanjakan, sementara jalan tol harus mayoritas jalan datar. Pertimbangan lainnya adalah realisasi waktu karena tidak harus tergantung koneksi jalan sekitar dan cukup dengan membangun suplemen objek pilar-pilar penyangga (file slab) badan jalan layang.

"Model konstruksi mirip jalan layang pada ruas Bandarbaru hingga Penatapan (kawasan area wisata di sekitar Desa Doulu arah Kota Berastagi), akan mempersingkat jarak yang selama ini (eksisting) 4,7 kilometer menjadi 1,5 kilometer saja. Tapi badan jalan sekitarnya akan tetap berfungsi sehingga perlu diperlebar pada sejumlah lokasi tikungan. Itu memang sudah dikerjakan pihak BBPJN-II tapi masih kurang lebar karena masih ada spasi yang bisa dipangkas," katanya. (M04/c)
SHARE:
komentar
beritaTerbaru