Kedatangan Raja dan Ratu Negeri Belanda, Willem Alexander dan Maxima Zorreguieta Cerruti, ke daerah Sumatera Utara untuk mengunjungi objek wisata Danau Toba di Parapat dan Samosir yang semula direncanakan Jumat (13/3) kabarnya dipercepat jadi Kamis (12/3) hari ini.
Kepala negara Belanda itu memang sudah tiba di Jakarta pada Senin (9/3) lalu dan disambut langsung Presiden RI Joko Widodo dan ibu negara Iriana Jokowi. Ada tiga hal bersejarah dan monumental atas kunjungan Raja dan Ratu Belanda itu, yakni pengembalian keris pusaka milik Pangeran Diponegoro yang diboyong ke Belanda pada 1931 silam (89 tahun sudah), penandatanganan kerja sama ekonomi RI-Belanda untuk investasi senilai Rp14,3 triliun, dan pernyataan maaf Belanda atas tindak kekerasan di masa kolonial atau agresi 1947 silam, pasca Kemerdekaan RI 17 Agustus1945.
Berkah Bulan Maret
Setidaknya bagi penulis, khususnya dalam konteks pariwisata, ada hal menarik dari kedatangan Raja dan Ratu Belanda itu pada bulan ini, Maret 2020. Soalnya, pada bulan yang sama pada 1996 lalu, bahkan pada tanggal yang berdekatan, 8-11 Maret 1996, ningrat negeri kerajaan Kincir Angin itu, yaitu Pangeran (Prince Bernhard), juga mengunjungi Danau Toba.
Pangeran Bernhard ketika itu memang tidak disertai istri. Dia bersama ajudan khusus Abraham Meeldyk, sekretaris pribadi R Alberts, pelayan khusus (valet) Connelle Maria Gilles, dan pengawal khusus J Hammaekers. Tiga hari di Danau Toba (Parapat dan Samosir), petinggi kerajaan dan ningrat Belanda itu didampingi staf ahli Menteri PU Firdaus Malik, Gubernur Sumut Raja Inal Siregar, Bupati Simalungun Djabanten Damanik dan Ketua Umum Yayasan Perhimpunan Pecinta Danau Toba (YPPDT) Dr Midian Sirait.
Kunjungannya antara lain ke Taman Satwa Kera di Bukit Sibaganding yang dikelola Grup Umar Manik, Makam Raja Sidabutar di Tomok Samosir, Desa Wisata Simanindo, Desa Ambarita, dan pesiaran dengan kapal wisata Horas dari Hotel Natour, tempatnya menginap. Tentang dia disematkan Ulos Batak ketika menyaksikan tarian (tor-tor) penyambutan tamu wisata agung, mungkin hal biasa yang memang acap diperlakukan kepada tamu spesial. Tapi bahwa Pangeran Belanda itu singgah minum tuak di satu warung (lapo) kecil di tepi jalan kawasan Aek Nauli dalam perjalanan balik ke Medan (11 Maret 1996) jelang kembali ke negerinya via Jakarta, itu tentu hal unik-menarik dan luar biasa, di luar agenda acara.
Entah apa mimpi orang atau keluarga parlapo itu, sehingga merasa dapat berkah di bulan Maret itu, bukan karena itu kebetulan tanggal Supersemar, bukan pula karena tuak segelas-nya itu dibayar dengan rupiah ratusan ribu (ketika itu), melainkan karena ada seorang keluarga raja yang mampir ke warungnya, yang selama ini hanya disinggahi dan dikunjungi para warga jelata.
Kebetulan atau bukan, bulan Maret agaknya jadi semacam bulan berkah bagi daerah Sumatera Utara, bilanglah dalam hal pariwisata. Adakah yang tahu? Pertengahan Maret 1990 silam ada lagi torehan sejarah dalam kancah pariwisata Danau Toba, yaitu ketika turis mancanegara yang ke 2 juta orang ke Indonesia, tiba di Sumut, mendarat di Bandara Polonia Medan. Turis atau Wisman yang ke 2 juta itu, ternyata pasangan suami istri dari Belanda, Rasevenjan Verscurent dan Marice Verscurent.
Setiba di Bandara, Gubernur Sumut Raja Inal Siregar dan Wali Kota Medan Bachtiar Djafar serta Ketua PHRI Sumut Ruslan Hasyim, menyambut turis asal Belanda itu dengan kalungan bunga dan sematan Ulos Batak, plus sajian tarian khas daerah Batak dan Melayu. Turis suami istri itu mengaku sangat surprise karena tak menyangka akan disambut semeriah itu, terlebih hal serupa juga dialami ketika tiba di kota turis Parapat, yang disambut GM Hotel Natour Parapat Abbas Yunus dan Ketua PHRI Simalungun Husin Toniatin. Setelah Danau Toba, Wisman asal Belanda itu piknik lanjut ke Bohorok, Bukit Lawang.
Lalu, dalam rangka Kunjungan Wisata ke ASEAN (Visit Asean Year-VAY) 1992 untuk destinasi Indonesia di Sumut, pada 1 Maret 1992, lag-lagi dari Belanda, 87 turis asal Amsterdam yang merupakan rombongan penumpang perdana penerbangan langsung Amsterdam-Medan, langsung meluncur ke Parapat (Danau Toba) setibanya di Bandara Polonia dengan pesawat Garuda GA 805.
Kunjungan turis asal Belanda itu merupakan realisasi dari pembukaan resmi jalur terbang langsung mancanegara, yang disepakati (tourism joint promotion--TJP) antara Garuda Indonesia Airlines (GIA), PT Angkasa Pura II Medan, ASITA Sumut, PHRI Sumut dan Pemda Sumut. Kerjasama yang digagasi Ketua Asita Sumut Ben Sukma Harahap atas dukungan Gubernur Sumut Raja Inal Siregar itu diteken pada 10 Januari 1992 di kantor PT Angkasa Pura II, Bandara Polonia, Medan.
Masih pada bulan Maret, tepatnya pada 10-12 Maret 2005 di masa Gubernur Sumut T Rizal Nurdin, Danau Toba menjadi satu fokus dunia internasional, ketika Parapat dan Samosir, pada salah satu sesi hari di antara jadwal tersebut, menjadi tuan rumah penyelenggaraan kongres pembangunan kawasan regional (Network of Regional Goverment for Sustainable Development-nrg4SD). Forum internasional ini disebut Lake Toba Summit yang dihadiri delegasi PBB dari Unitar, UN Habitat dan UNEP.
Hanya saja publik Sumut di Danau Toba ketika itu akhirnya kecewa karena Gubernur Arkansas AS, Arnold Swarzenegger aktor kesohor laga Terminator, batal datang walau sempat dipublisir luas melalui media-media lokal di Sumut maupun Jakarta.
Rindu Ningrat
Dalam beberapa reportase pasca kunjungan Pageran Bernhard dari Belanda ke Sumut / Parapat pada Maret 1996 silam, termasuk reportase penulis sendiri di edisi Sabtu April 1996, ada pernyataan bahwa salah satu alasan para petinggi atau ningrat negeri Belanda itu adalah: rasa rindu untuk Danau Toba. Bahasa lainnya disebut juga: Danau Toba sudah seperti kampung halamannya.
Hal itu, antara lain diungkapkan pasangan suami istri dari kalangan saudagar Belanda di Rotterdam, Jan dan Elly Abbenhuis yang sudah 26 kali datang ke Parapat-Danau Toba, sejak 1947 (hingga 1996). Melalui agen wisata Braband Travel Group, Jan dan Elly selalu mengajak teman atau para kerabatnya dalam rombongan pelancongan lanjut ke Danau Toba sejak 1976. Salah satu tradisi turis Belanda bila melancong adalah, mengajak istri masing-masing, khususnya di kalangan usia lanjut.
"Ada dua pilihan khusus turis asal Belanda ini bila melancong, yaitu objek-objek budaya yang bernilai atau latar belakang sejarah, dan objek wisata petualangan (adventure). Itu sebabnya mereka selalu pilih Samosir-Parapat, Berastagi dan Bukit Lawang. Medan biasanya dinikmati sebelum kembali ke Belanda atau lanjut ke destinasi lainnya di Indonesia," ujar Ir Henry Hutabarat, mantan pemilik Avia Interlinear Travel yang menyajikan paket wisata inbound Toba-Bohorok Adventure, dulunya.
Fakta tradisi kerinduan orang Eropa dari Belanda untuk Danau Toba ini, ternyata tak terlepas dari kiprah perjalanan sejarah Ratu Belanda, Wilhelmina, di era 1900-an. Dalam satu acara rapat Detil Engineering Design (DED) proyek pembangunan baru Jembatan Tano Ponggol Samosir, unsur pimpinan Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional (BBJN)-II Medan Ir Jon Sudiman Damanik MM, di aula kantor itu pada Agustus 2017 lalu menyebutkan bahwa Ratu Wilhelmina dari Kerajaan atau Negeri Belanda yang sudah berada di Sumut / Medan pada pertengahan 1913, datang ke Samosir untuk meresmikan jembatan Tano Ponggol, yang ketika itu disebut Wilhelmia Canal atau Terusan Wilhelmina.
Jembatan itu disebut Tano Ponggol, karena memang melintasi 'tanah terpenggal' berupa sungai atau kanal yang menjadi batas fisik antara Pulau Samosir dengan Pulau Sumatera. Kalangan praktisi jasa konstruksi di BBPJN-II Medan menyebutkan alasan ahli infrastruktur Belanda dulunya untuk mengeruk kanal atau memperlebar sungai setempat adalah demi kelancaran transportasi tirta untuk angkutan hasil bumi lintas lokal seperti daridan ke Tigaras, Haranggaol, Pangururan dan sekitarnya.
Pada 1995-1996 lalu, Kepala Dinas Pariwisata Sumut Drs Frans Mangara Banjarnahor bersama Kabid Pemasaran Drs Dolin Sembiring dan Drs Rusia Sembiring dari Deparpostel (kini Kemparekraf) menyebutkan, fakta tingginya minat warga Belanda untuk menjadi turis ke Danau Toba, antara lain dengan banyaknya pengunjung stan daerah Sumut di setiap acara promo wisata internasional Tongtong Fair yang digelar setiap tahunnya di kota-kota (secara bergantian) di Belanda.
"Misalnya, hasil dari Tongtong Fair 1993 lalu, ada 34 turis asal Belanda yang datang dalam satu rombongan keluarga dari kalangan pengusaha atau saudagar (ningrat). Tiga pasang suami istri di antaranya bilang, ikut lagi ke Toba Lake karena rindu dan ingin melihat bangunan sejarah peninggalan 'nenek moyang'nya di Kota Berastagi," ujar Arapen Sembiring, Kepala Cabang Biro Travel National Travel Bureau (Natrabu) Medan, pada pertengahan 1996 lalu.
Mudah-mudahan tak ada halangan untuk kedatangan Raja dan Ratu Belanda Willem Alexander dan Maxima Zorreguieta Cerruti, ke Danau Toba. Kunjungan itu, tentu akan menambah catatan nama-nama petinggi atau ningrat Belanda sebagai tamu wisata ke Sumut, khususnya Parapat, Danau Toba. Lalu, kedatangan itu akan menjadi sejarah luar biasa, kalau saja jauh hari sebelumnya ada lobby para petinggi negeri ini, agar dokumen atau benda pusaka Raja Sisingamangaraja XII yang sejak dulu dibawa Kapten (tentara bayaran Belanda) ke Belanda (dan Belgia) pada 1907 silam. Bisa dibawa Raja dan Ratu Belanda itu, untuk dikembalikan ke Indonesia, bersama keris pusaka Pangeran Diponegoro itu, kemarin.(c)