Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 05 Maret 2026

Peringatan 3 Tahun GM Panggabean Dalam Kenangan, Bishop GKPI: Manusia Berarti Karena Ada Yang Mengingat

*Taman Memorial DR GM Panggabean “Didesain” Oleh Almarhum Sendiri *Puluhan Tangan Keluarga, Sanak Saudara dan Simpatisan Ikut Meletakkan Batu Pertama
- Senin, 27 Januari 2014 11:29 WIB
1.480 view
 Peringatan 3 Tahun GM Panggabean Dalam Kenangan, Bishop GKPI: Manusia Berarti Karena Ada Yang Mengingat
SIB/Horas Pasaribu
Dalam peringatan 3 tahun wafatnya DR GM Panggabean, Bishop GKPI Pdt Patut Sipahutar bersama keluarga besar Alm DR GM Panggabean dan puluhan kerabat dan simpatisan DR GM Panggabean dari Medan dan Jakarta memanjatkan doa saat meletakkan batu pertama sebagai
Medan (SIB)- Manusia berarti karena diingat dan dikenang, bukan karena pengetahuannya. Kehidupan bertumpu pada peringatan karena peringatan penting, bukan untuk berhala, ujar Bishop Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI), Pdt Patut Sipahutar MTh dalam khotbah kebaktian peringatan tiga tahun wafatnya Pak GM di Medan, Senin (20/1).

Acara diawali dengan ziarah, bertindak sebagai Inspektur Upacara, Dr RE Nainggolan MM, tokoh masyarakat Sumut. Dilanjutkan dengan acara tabur bunga di pusara  DR GM Panggabean yang diawali Ibu R Br Hutagalung dan diikuti anak, menantu dan cucu-cucu serta tokoh masyarakat yang hadir serta karyawan Harian SIB, Percetakan PT Sere Megawati dan ketiga fungsionaris perguruan tinggi yang didirikan DR GM Panggabean.

Acara dihadiri Ketua PGPI Pusat yang juga sahabat DR GM Panggabean yaitu Pdt DR MD Wakkary, Staf Ahli Menko Kesra RI Ir Leo Nababan, Mantan Wagubsu Lundu Panjaitan MA, Ketua Yayasan Sumatera Berdoa  JA Ferdinandus, Pengurus PGI Sumut Pdt Lucas Timotheus, artis Batak Bunthora Situmorang, Anggota DPRD Medan Drs Godfried Lubis, Anggota DPRD Sumut Tahan Panggabean, Sanggam SH Bakkara, Prof MPL Tobing, Pdt A Hutauruk dan sejumlah undangan lainnya.

Peringatan tiga tahun berpulangnya Pak GM diisi dengan peletakan pembangunan Taman Memorial DR GM Panggabean di lahan keluarga, Kompleks Graha DR GM Panggabean, di Marindal, Medan, yang dimulai dengan peletakan batu pertama oleh 20 an undangan disaksikan 250 lebih hadirin yang antusias hadir memenuhi undangan keluarga besar almarhum Pak GM untuk mengenang mendiang yang sudah tiga tahun berpulang ke Sang Pencipta.

Bishop GKPI mengangkat topik kiat-kiat suksesnya regenerasi Raja Daud yang merupakan satu-satunya regenerasi yang berhasil saat bangsa Israel dipimpin Raja-raja pada zaman perjanjian lama dengan mengutip Alkitab 1 Raja-raja 2 ayat 1-4.

Di akhir hidupnya Raja Daud bukan mewariskan harta yang melimpah ruah kepada anaknya Raja Salomo. Tetapi Raja Daud mewariskan tiga hal utama. Yang pertama diwariskan iman yang teguh, kemudian kasih kepada Allah dan bangsa Israel serta semangat perjuangan dan kerja keras.

Terbukti bahwa Raja Salomo mematuhi pesan Raja Daud dan dia juga tidak meminta harta kekayaan kepada Allah tetapi hikmat dan kebijaksanaan. Sehingga Raja Salomo berhasil bahkan menjadi raja tersohor selama kepemimpinannya, ujar Sipahutar. Pewarisan dari Raja Daud itu patut diteladani dalam proses regenerasi di semua aspek kehidupan, yaitu dengan terus memiliki semangat dan perjuangan mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama.

Generasi  saat ini, kata Sipahutar banyak yang melenceng karena justru mewariskan harta dan mengutamakan materi memperkaya diri sendiri.
 â€œSampai kapan bangsa ini bertahan jika generasi penerusnya sudah lebih mencintai uang dan harta?,” ujar Sipahutar.

Kalau hal itu terjadi maka yang terjadi adalah awal dari perpecahan. Maka yang perlu dipegang dalam regenerasi adalah mewarisi kasih dari Tuhan untuk dibagikan kepada sesama  bangsa dan negara.

“Dalam komunitas banyak  regenerasi membuat keributan karena yang diwarisi tertuju pada harta dan materi semata. Jika harta yang ditinggalkan, maka perpecahan yang datang. Tapi kalau kasih dan semangat yang diwarisi maka kerukunan dan kebersamaan yang tercipta,” ujarnya.

Dalam konteks peringatan 3 tahun wafatnya GM Panggabean dan peletakan batu pertama Taman Memorial DR GM Panggabean, maka yang perlu dimaknai adalah mewarisi semangat yang dimiliki  DR GM Panggabean semasa hidupnya. Beliau terus bersemangat dalam perbuatan mengasihi Tuhan dan sesamanya.

Sikap DR GM Panggabean yang  selalu memulai dan mengakhiri harinya  dengan bersyukur kepada Tuhan patut diteladani keluarga maupun masyarakat banyak.

Kalau Pak GM tidak mewarisi cinta kasih, maka tak mungkin keluarga almarhum DR GM Panggabean bisa bermufakat membangun taman memorial bagi orangtuanya. Beda halnya kalau cuma harta yang diwarisinya, bukan mustahil putra-putrinya akan terlibat perebutan harta dan berkelahi.  

Desain GM Panggabean
Ir GM Chandra Panggabean mewakili keluarga almarhum DR GM Panggabean, dalam sambutannya  menjelaskan pembangunan Memorial Park DR GM Panggabean, mengatakan bahwa semasa hidupnya DR GM Panggabean selalu akrab dengan masyarakat, tokoh agama dan tokoh gereja.

Untuk menunjukkan gambaran itu maka desain Memorial Park DR GM Panggabean mengikuti keinginan DR GM Panggabean  semasa hidupnya.

Dikatakannya bahwa banyak hal yang disampaikan secara spesifik semasa hidup DR GM Panggabean yang pengagum arsitek dan banyak melihat berbagai desain bangunan maupun monumen di dalam dan luar negeri. Baik berupa kebiasaan maupun simbol-simbol.

Misalnya kebiasaan yang umum adalah memilih posisi rumah, kantor, meja kerja bahkan tempat tidur pun selalu menghadap ke arah Timur. Hal itu menggambarkan semangat untuk bekerja keras dan menyambut matahari dan bahkan selalu mendahului  matahari dengan bangun lebih cepat untuk membaca koran.

Penekanan yang diartikan dari kebiasaan itu adalah selalu memulai satu hari dan mengakhiri satu hari  dengan tidak pernah luntur dari semangat yang terus menggelora.

Selain itu juga menggemari angka 9 sehingga bangunan kubah tempat pusara almarhum di areal Memorial Park itu dibuat dengan 9 tiang yang kokoh dan di sekitarnya dialiri air.

Pak GM semasa hidupnya juga suka bercerita mengikhlaskan bagaimana nantinya kesukaannya akan tempat peristirahatannya terakhir dan berharap keturunannya bisa nyaman berkumpul dengan keluarga di tempat pusaranya. 

Konsepnya taman memorial ini pada intinya mengadopsi seluruh kesukaan almarhum, bisa dikatakan, sebetulnya Pak GM sendiri yang “merancang” taman memorial ini, jelas Chandra.

Rancangan itu dituangkan dalam desain yang dikerjakan Darwin, seorang arsitek pemula. Namun sejak menangani desain itu dia kebanjiran order. Sehingga Darwin sudah masuk klub desainer internasional, ujar GM Chandra sambil mempersilakan Darwin untuk berdiri yang disambut aplaus oleh para undangan.

Chandra memaparkan bahwa Memorial Park itu diharapkan sebagai sarana untuk mengingat semangat dari DR GM Panggabean untuk dapat selalu berbuat yang terbaik.

Salah satu hal yang dilakukan DR GM, lanjutnya, dalam hidupnya  selalu mengandalkan Tuhan dan selalu berpasrah kepada Tuhan sehingga peringatan 3 tahun wafatnya DR GM Panggabean diawali dengan kebaktian. Kebaktian itu sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan untuk memulai karya karya yang besar. Bapak DR GM Panggabean juga menekankan untuk terus membina kebersamaan dan persaudaraan dalam mengambil langkah langkah besar, ujarnya.

Melestarikan Perjuangan
Sementara itu Sahabat DR GM Panggabean, Pdt MD Wakkary dalam sambutannya mengatakan bahwa Memorial Park DR GM Panggabean adalah ditujukan sebagai taman kenangan indah. Figur DR GM Panggabean adalah sahabat yang memiliki semangat yang meluap luap.

Seorang pejuang yang tidak pernah mengharapkan imbalan dalam berkorban demi satu gagasan yang memperjuangkan orang banyak. Bahkan rela berkorban demi suatu ide perjuangan.

Disampaikannya bahwa peringatan 3 tahun wafatnya DR GM Panggabean ditandai dengan Peletakan Batu Pertama Taman Memorial dan kebaktian karena Taman Memorial itu akan berfungsi sebagai satu langkah melanggengkan, melestarikan dan  memantapkan ide perjuangan GM Panggabean  yang perlu diikuti dan dikembangkan oleh generasi berikutnya. Sehingga Memorial Park ini diharapkan akan menjadi berkat bagi masyarakat  Sumut dan Indonesia.

Peletakan Batu Pertama dilakukan Bishop GKPI Pdt Patut Sipahutar MTh, Ny DR GM Panggabean Ramlah boru Hutagalung beserta putra putri Pak GM, menantu dan cucupun ikut sebagai generasi pewaris kenangan Pak GM berikutnya.

Kemudian diikuti oleh Pdt  MD Wakkary, Staf Ahli Menko Kesra RI Ir Leo Nababan yang juga Caleg DPR RI dari Partai Golkar, Mantan Wagubsu Lundu Panjaitan, Ketua Yayasan Sumatera Berdoa  JA Ferdinandus, Pengurus PGI Sumut Pdt Lucas Timotheus, artis batak Bunthora Situmorang, anggota DPRD Medan dan Caleg DPRD Medan dari Partai Gerindra Medan, Drs Godfried Lubis, Anggota DPRD Sumut, Tahan Panggabean, Sanggam SH Bakkara, Prof MPL Tobing Rektor Universitas Sisingamangaraja  XII (mantan Rektor US XII) , Dr Togu Harlen Lumbanraja MSi, Rektor Universitas Sisingamangaraja XII Tapanuli Ir P Parapat MSi,  Pembantu Ketua STMIK Sisingamangaraja XII, Joan Berlin Damanik SSI MM, Wapemred I Harian SIB Ir Parluhutan Simarmata mewakili Harian SIB,  PT Sere Megawati diwakili Lerry Panggabean, Ketua Umum Raja Hutagalung, Drs Bukti Hutagalung,  Dr RE Nainggolan MM,  Ketua Panggabean Kota Medan Murtama Panggabean, IS Sihotang, dan arsitek Darwin.

Tata ibadah dibawakan Pdt A Hutauruk dari GKPI Medan Kota dengan diiringi  Paduan Suara Solfeggio Choir Unimed dan pembawa acara Lamhot Sihombing. Sedangkan  Doa Syafaat disampaikan  Pdt DR MD Wakkary. (R1/A9/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru