Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026
Refleksi Akhir Tahun KAD Pencegahan Korupsi Sumut

Korupsi di Sumut Sudah “Merah Darah”, Diyakini ke Depan Bisa “Seputih Salju”

* Bakal Tidak Ada Lagi Setoran Proyek
Redaksi - Kamis, 31 Desember 2020 09:09 WIB
642 view
Korupsi di Sumut Sudah “Merah Darah”, Diyakini ke Depan Bisa “Seputih Salju”
Foto/ilustrasi: arsip JPNN.com/Ricardo
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). 
Medan (SIB)
Komite Advokasi Daerah (KAD) Pencegahan Korupsi Sumatera Utara bersyukur kepada Tuhan bisa melalui tahun 2020 ini dengan sehat meski dalam masa pandemi Covid-19. KAD juga berterima kasih kepada pemerintah pusat, provinsi sampai kabupaten/kota dengan segala jerih payah yang luar biasa bisa membantu rakyat terdampak Covid.

“Kami juga mensyukuri pilkada di sejumlah daerah di Sumut berjalan dengan baik. Khususnya kemenangan pasangan Bobby Nasution-Aulia Rahman terpilih menjadi Wali Kota/Wakil Wali Kota Medan. Kami optimis akan perubahan besar di Kota Medan, sebab komunikasi pemerintah pusat dan kota Medan akan berjalan sangat baik,” kata Kabid Pengadaan Barang dan Jasa KAD Sumut Ir Erikson Tobing kepada wartawan, Selasa (30/12).

Disinggung tentang korupsi di Sumut yang sempat menjadi perhatian aparat penegak hukum di pusat termasuk KPK, Erikson mengatakan bahwa KAD berjuang agar korupsi bisa diminimalisasi. Tingginya tingkat korupsi di Sumut selama ini sampai-sampai digambarkan seperti “merah darah”, diharapkan tahun 2021 bisa putih kemerahan, artinya banyak perubahan. Karena sosialisasi untuk pencegahaan korupsi ini kata dia membutuhkan waktu.

“Tahun 2020 ini KAD masih “memanaskan” mesin dulu, karena baru dilantik bulan Agustus lalu. Tahun depan (2021), selain program-program resmi dari setiap bidang, kami dari bidang pengadaan barang dan jasa berencana melakukan gerakan membuat 10.000 kaos bertuliskan “Ayo Cegah Korupsi” dari KAD Pencegahan Korupsi Sumut,” terangnya.

Menurut dia, kalau sosialisasi pencegahan ini dilakukan secara konsisten dan kreatif dengan melibatkan anak-anak muda, kaum milenial dan pelajar-pelajar di sekolah dengan membagikan kaos bertuliskan "Ayo Cegah Korupsi" sebanyak-banyaknya, diyakini, tahun depan Sumut bisa berubah menjadi putih kemerahan.

“Tahun depan belum putih seperti salju, tapi lima tahun kemudian barulah boleh ada harapan kita menjadi seputih salju. Ya, korupsi harusnya berkurang drastis. Karena, masyarakat akhirnya nanti sadar, bahwa korupsi itu bukanlah budaya yang baik. Tidak ada lagi seperti pendapat orang-orang pada umumnya sekarang ini, kalau tidak nyetor dianggap salah. Anggapan sekarang ini adalah, tidak ada kerjaan (proyek) yang gratis,” ungkapnya.

Karena, lanjut dia, proyek-proyek yang ditenderkan itu bukan milik si pejabat bersangkutan. Tapi budaya berpikir sebahagian orang sudah seperti itu. Sehingga ada anggapan kalau tidak nyetor ke pejabat setelah uang proyek cair dianggap “nembak” setoran.

"Ini adalah istilah-istilah yang sudah umum diakibatkan oleh budaya korupsi yang sudah menahun. Karena itu harus ada gerakan mengubah budaya yang sudah salah ini, KAD ini adalah mitra KPK untuk pencegahan korupsi. Kami hanya sebagai jembatan antara para pihak dengan KPK. Penindakan itu wilayahnya KPK. Kalau KAD sudah berusaha mencegah tapi tidak dihiraukan juga, mana ada hak KAD menindak, kita hanya mencegah. KPKlah nanti yang menindak,” tegasnya. (M10/a)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
5 Toko di Gunungsitoli Terbakar

5 Toko di Gunungsitoli Terbakar

Gunungsitoli(harianSIB.com)Kebakaran hebat melanda deretan toko di Jalan Gomo, Kota Gunungsitoli, Kamis (9/4/2026). Sedikitnya lima unit tok