Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026

Polda Sumut Telusuri Penyebab Harga Kacang Kedelai Tinggi

Redaksi - Kamis, 07 Januari 2021 09:31 WIB
592 view
Polda Sumut Telusuri Penyebab Harga Kacang Kedelai Tinggi
pixabay
ilustrasi kedelai
Medan (SIB)
Polda Sumut akan menelusuri terlebih dahulu apa penyebab harga komoditas bahan pokok kacang kedelai masih tinggi.

" Iya, kita akan menelusuri terlebih dahulu penyebab masih tingginya harga komoditas bahan pokok termasuk kacang kedelai di kalangan importir hingga distributor," kata Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan kepada SIB, Rabu (6/1) di ruang kerjanya.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Hadi Wahyudi lewat telephone selulernya menampik adanya kelangkaan kacang kedelai atau kelangkaan tahu dan tempe. Karena sejauh ini ketersediaan kacang kedelai terpantau masih aman di Sumut. Namun diakuinya kacang kedelai saat ini mengalami kenaikan harga.

Bahkan pihaknya melalui tim Satgas Pangan Polda Sumut selalu memonitor ketersediaan dan harga-harga sembako lainnya.

"Sejauh ini ketersediaan kacang kedelai terpantau masih aman di Sumut. Pihak kita selalu memonitor ketersediaan termasuk dengan harga-harga sembako lainnya," terang Hadi Wahyudi.

Sebelumnya diberitakan SIB, tingginya harga komoditas bahan pokok termasuk kedelai di kalangan importir hingga distributor, menyebabkan sejumlah produsen atau pengrajin usaha tempe dan tahu di Kota Medan terancam gulung tikar.

Bahkan sejumlah produsen tempe dan tahu sudah mengeluhkan kenaikan harga kedelai di tingkat distributor sejak 2 bulan lalu.

Pihak produsen tempe dan tahu akhirnya mengurangi berat dan ukuran dari sebelumnya dengan harga masih tetap sama, agar bisa mampu menekan biaya produksi.

Harga kedelai sebelumnya Rp 6.500 per Kg. Saat ini mengalami kenaikan hingga mencapai Rp 9.300 per Kg.

Kepala KPPU Wilayah I, Ramli Simanjuntak mengatakan, permasalahan kedelai sudah terjadi di awal Desember 2020 lalu. Hal itu disebabkan masalah ongkos pengangkutan yang naik dan jadwal juga berubah-ubah.

Ditambah lagi dengan permasalahan gagal panen di negara produsen, seperti Amerika dan Argentina. Ia berharap kepada para importir agar tidak mempermainkan harga dan pasokan kedelai.

“Para distributor di bawah importir, diharapkan juga tidak melakukan kesepakatan-kesepakan harga dan pasokan serta menahan pasokannya,” pinta Ramli Simanjuntak. (RH/a)

Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru