Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 11 April 2026
* Kongres AS Resmi Sahkan Kemenangan Biden

Pendukung Trump Serbu Capitol Hill, 4 Tewas

* Trump Janjikan Transfer Kekuasaan “Tertib” ke Biden
Redaksi - Jumat, 08 Januari 2021 09:06 WIB
557 view
Pendukung Trump Serbu Capitol Hill, 4 Tewas
Foto: AP
DUDUKI: Pendukung Presiden Donald Trump menduduki area luar Gedung Kongres AS, di Washington, DC, Kamis (7/1). Sebanyak 4 orang tewas dalam kerusuhan saat pendukung Trump memaksa masuk ke Gedung Capitol untuk menggagalkan pengesahan kemenangan Jo
Washington DC (SIB)
Kepala Departemen Kepolisian Metropolitan Robert J Contee melaporkan bahwa empat orang tewas di halaman Gedung Capitol Amerika Serikat dan 52 orang telah ditangkap. Capitol dilanda kerusuhan saat para pendukung Presiden Donald Trump menyerbu untuk menghentikan Kongres yang akan mengesahkan kemenangan Presiden terpilih Joe Biden.

Dilansir Channel News Asia, Kamis (7/1) dalam konferensi pers larut malam, Contee menolak untuk mengidentifikasi wanita yang tewas ditembak petugas Kepolisian Capitol. Wanita itu ditembak ketika massa mencoba menerobos pintu yang dibarikade di Capitol, di mana polisi bersenjata berada di sisi lain. Dia dirawat di rumah sakit dengan luka tembak dan kemudian meninggal. Tiga orang lainnya meninggal pada Rabu karena keadaan darurat medis.

"Seorang wanita dewasa dan dua pria dewasa tampaknya menderita keadaan darurat medis terpisah yang mengakibatkan kematian mereka," katanya, Rabu (6/1). "Setiap kehilangan nyawa di Distrik itu tragis dan pikiran kami bersama siapa pun yang terkena dampak kehilangan mereka," lanjutnya. Contee mengatakan bahwa 47 dari 52 penangkapan sejauh ini terkait dengan pelanggaran jam malam pukul 6 sore yang ditetapkan Walikota Distrik Columbia Muriel Bowser, dengan 26 di antaranya melibatkan orang-orang yang ditangkap dengan alasan aksi di Capitol AS.

Beberapa orang lainnya ditangkap dengan tuduhan terkait membawa senjata api tanpa izin. Selain itu, kata Contee, dua bom pipa ditemukan dari markas besar komite nasional Partai Republik dan Demokrat. Ada pula pendingin dari kendaraan di halaman Capitol AS yang berisi bom molotov.

Polisi mengatakan baik penegak hukum dan pendukung Trump mengerahkan bahan kimia yang menyebabkan iritasi selama berjam-jam di gedung Capitol, yang kemudian dibersihkan oleh aparat penegak hukum pada Rabu (6/1) malam.

Kompak Serang Trump
Sebanyak empat mantan presiden Amerika Serikat (AS) pada Rabu (6/1), kompak menghujat Donald Trump atas kerusuhan di Gedung Capitol. Penyerbuan Gedung Capitol ini membuat anggota parlemen harus mengamankan diri. Massa yang mendukung Trump menentang sertifikasi Joe Biden yang sedang berlangsung di Kongres, guna mengonfirmasi kemenangannya di pilpres AS.

George W Bush menyebut Trump yang merupakan sesama anggota Partai Republik telah mengobarkan pemberontakan, dan menyamakan situasi ini dengan "Banana Republic". "Saya syok dengan perilaku sembrono dari beberapa pemimpin politik sejak pemilu dan kurangnya rasa hormat yang ditujukan hari ini untuk institusi kami, tradisi kami, dan penegakan hukum mati," kata Bush dikutip dari AFP.

Barack Obama juga menyalahkan Partai Republik dan Trump, yang bohong besar tentang hasil pemilu AS meski salah. Presiden AS 2009-2017 itu menyebut penyerbuan Capitol Hill adalah aib besar bagi bangsa Amerika. "Tapi kita bercanda kalau melihatnya sebagai kejutan besar," ujar Obama. Ia juga menyebut kerusuhan Capitol Hill sebagai konsekuensi dari Trump dan para pendukungnya yang menolak hasil pilpres Amerika Serikat. Kemudian Bill Clinton mengecam penyerbuan gedung Kongres AS tersebut sebagai serangan yang pertama kali terjadi.

"Hari ini kita menghadapi serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap Capitol kita, Konstitusi kita, dan negara kita," kata presiden AS 1993-2001 itu. "Api dikobarkan oleh Trump dan para pendukungnya, termasuk banyak orang di Kongres, untuk membatalkan hasil pemilu di mana dia kalah."

Kemudian Jimmy Carter (96) presiden ke-39 yang menjabat pada 1977-1981 mengatakan, dia kecewa dengan kerusuhan massa di Capitol yang dia sebut tragedi nasional. "Kami bergabung dengan sesama rakyat dalam mendoakan resolusi damai, agar bangsa kita bisa sembuh dan menyelesaikan perpindahan kekuasaan seperti yang kita lakukan selama lebih dari 2 abad," ucap Carter.

Resmi Sahkan
Sementara itu, Kongres Amerika Serikat (AS) telah secara resmi mengesahkan kemenangan Presiden terpilih AS, Joe Biden, atas Presiden Donald Trump dalam pilpres AS 2020. Wakil Presiden Mike Pence yang memimpin sidang pengesahan resmi mengumumkan bahwa Biden menang dengan 306 electoral votes.

Seperti dilansir CNN dan CBS News, Kamis (7/1), kemenangan Biden dalam pilpres dipastikan saat Kongres mengesahkan hasil voting Electoral College untuk negara bagian Vermont, yang memberikan 3 electoral votes mereka kepada Biden yang menang di negara bagian itu dalam pilpres 3 November lalu.

Dengan tambahan 3 electoral votes, Biden telah mencapai batas minimum perolehan electoral votes -- 270 electoral votes -- untuk bisa dinyatakan sebagai pemenang pilpres AS. CBS News merinci bahwa Biden ditetapkan menerima 270 electoral votes oleh Kongres AS pada Kamis (7/1) dini hari, pukul 03.33 waktu setempat. Proses kemudian dilanjutkan untuk negara bagian lain yang tersisa dan pukul 03.39 waktu setempat, penghitungan dan pengesahan hasil voting Electoral College untuk seluruh 50 negara bagian AS telah diselesaikan. Pengesahan ini akhirnya selesai setelah sempat mengalami penundaan selama beberapa jam akibat serbuan massa pro-Trump ke Gedung Capitol AS pada Rabu (6/1) siang waktu setempat.

Hasil akhir perolehan Electoral College dalam pilpres AS 2020 diumumkan secara resmi oleh Pence yang menjalankan tugasnya memimpin sidang. Pukul 03.40 waktu setempat, Pence mengumumkan Biden sebagai pemenang pilpres AS dengan meraup 306 electoral votes atas Trump dengan 232 electoral votes.

Pengesahan ini sempat diwarnai sejumlah keberatan yang diajukan Partai Republik. Baik House of Representatives atau DPR AS maupun Senat AS kompak menolak keberatan yang diajukan untuk hasil voting Electoral College di negara bagian Pennsylvania. Keberatan untuk negara bagian Georgia, Arizona, Nevada dan Michigan juga ditolak. Usai resmi disahkan sebagai pemenang pilpres AS, Biden selanjutnya akan dilantik menjadi Presiden ke-46 AS pada 20 Januari mendatang.

Trump Janjikan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjanji melakukan transfer kekuasaan “secara tertib” menyusul pengukuhan kemenangan Joe Biden oleh Kongres pada Kamis (7/1). Kendati telah dinyatakan kalah dalam perolehan suara elektoral (electoral college), Trump mengklaim keputusannya itu mewakili akhir masa jabatan pertama terbesar dalam sejarah presiden AS. "Meskipun saya sama sekali tidak setuju dengan hasil pemilu, dan fakta menujukkan kepada saya, namun akan ada transisi [kekuasaan] yang tertib pada 20 Januari," tulis Trump dalam pernyataan.

"Saya selalu mengatakan kami akan melanjutkan perjuangan kami untuk memastikan bahwa hanya suara sah yang dihitung. Meskipun ini merupakan akhir dari masa jabatan pertama terbesar dalam sejarah kepresidenan, ini hanyalah awal dari perjuangan kami untuk membuat Amerika Hebat Lagi," klaim Trump seperti dikutip dari CNN.

Blokir
Sementara itu, Facebook telah memblokir akun resmi milik Presiden Donald Trump. Orang nomor satu di Amerika Serikat itu tidak mampu memosting di situs tersebut selama 24 jam. Keputusan itu diambil setelah ketiga platform sosial media tersebut menghapus postingan yang dibuat Trump untuk mendukung massa pendukungnya yang menyerang Capitol AS pada Rabu (6/1).

"Kami telah menilai dua pelanggaran kebijakan terhadap Halaman Presiden Trump yang akan mengakibatkan pemblokiran fitur selama 24 jam, yang berarti dia akan kehilangan kemampuan untuk memposting di platform selama waktu itu," demikian bunyi pernyataan laman Facebook, dilansir laman The Verge, Kamis (7/1).

Tidak hanya Facebook, akun Trump di Instagram juga dikunci selama 24 jam. Hal ini dikonfirmasi Kepala Instagram, Adam Mosseri. Sebelumnya pada Rabu, Facebook menghapus video yang diposting beberapa jam setelah serangan dimulai, di mana Trump meminta pengunjuk rasa untuk pulang dan menyatakan secara tidak benar bahwa "kami mengadakan pemilihan yang dicuri dari kami.

Perusahaan juga menghapus postingan teks yang meminta pendukungnya untuk "mengingat hari ini selamanya!" Tidak sampai di situ, Twitter juga telah membatasi Trump pada platformnya, mengunci akunnya selama 12 jam setelah menghapus tiga tweet yang menurut perusahaan itu "pelanggaran berat" terhadap kebijakannya. (AFP/Rtr/dtc/kps/CNNI/c)
Sumber
: Hariansib edisi cetak
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru