Jakarta (SIB)
Ketua Satgas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan, peningkatan kasus positif Covid-19 semakin tinggi. Dalam dua bulan terakhir ini, kasus aktif Covid-19 di Indonesia meningkat dua kali lipat.
"Adanya peningkatan kasus yang sangat tinggi dalam 2 bulan terakhir ini. Kemarin Bapak Presiden juga menjelaskan pada Sidang Kabinet, juga pada pengarahan kepada seluruh gubernur bahwa dalam tempo 2 bulan terjadi peningkatan 2 kali lipat kasus aktif yang pada awal November 54 ribu orang dan pada hari kemarin sudah 110 ribu orang dan sorenya dilaporkan Satgas 120 ribu orang," kata Doni dalam jumpa pers Update Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di Berbagai Daerah Jawa dan Bali di saluran YouTube BNPB, Kamis (7/1).
Doni mengatakan, meningkatnya kasus Covid-19 tersebut mengakibatkan bertambahnya pasien di rumah sakit. Hal itu membuat keterisian rumah sakit ikut meningkat.
"Konsekuensinya adalah penambahan pasien di hampir semua RS. Walaupun pemerintah telah menyiapkan sejumlah fasilitas milik pempus dan pemda dibantu fasilitas milik TNI dan Polri, ini tidak bisa menjamin kita melayani melonjaknya masyarakat kita yang terpapar Covid," kata dia.
Ditambah lagi, terbatasnya tenaga kesehatan untuk menangani pasien Covid-19. Karena itu, menurut Doni, diperlukan langkah yang tepat agar kasus aktif Covid-19 di Indonesia tidak terus meningkat.
"Ditambah lagi sumber daya manusia (SDM) tenaga kesehatan kita yang jumlahnya terbatas. Sehingga perlu ada langkah-langkah yang tepat dan terukur agar kasus aktif ini tidak meningkat dan kita bisa mengendalikan masyarakat untuk tidak semakin banyak yang terpapar," ujar Doni.
Doni menambahkan, terbatasnya jumlah SDM itu juga diperparah dengan banyaknya tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 dan meninggal. Karena itu, dia meminta agar ada perlindungan bagi para tenaga kesehatan.
"Dampak dari jumlah masyarakat yang dirawat itu paralel dengan dokter nakes yang juga ikut terpapar yang dampaknya langsung meningkatnya kematian para dokter kita. Padahal jumlah dokter kita di tanah air juga sangat terbatas sehingga perlu ada perlindungan segera agar fasilitas-fasilitas kita tidak mengalami kepanikan. Fasilitas RS, tenaga dokter dan perawat harus mendapatkan perlindungan," papar dia.
Klaster Keluarga
Pada kesempatan itu, Doni bicara mengenai awal mula penyebaran virus Corona di Indonesia. Doni mengungkapkan awal mula kasus Covid-19 terbanyak berasal dari klaster keagamaan.
"Awal mula kasus Covid Indonesia paling banyak adalah dari klaster keagamaan, mulai kegiatan di berbagai daerah, baik itu Islam maupun Kristen Katolik," kata Doni.
Doni mengatakan banyaknya kasus Covid-19 yang berasal dari klaster keagamaan itu pun menimbulkan banyak dampak. Salah satunya meninggalnya para tokoh agama.
"Itu menimbulkan begitu banyak dampak, bahkan tokoh-tokoh agama tidak sedikit yang akhirnya wafat," ujarnya.
Kemudian, kata Doni, setelah klaster keagamaan, muncul klaster pasar. Selanjutnya, mulai muncul klaster-klaster lain hingga klaster keluarga.
"Kemudian bergeser ke klaster pasar, kemudian tempat-tempat keramaian, kemudian di perkantoran dan sekarang adalah klaster keluarga paling banyak," kata Doni.
Doni mengatakan, saat ini, kasus Covid-19 di Indonesia didominasi klaster keluarga. Menurutnya, banyaknya klaster keluarga itu akibat ketidaktahuan orang tanpa gejala (OTG) yang kemudian menulari orang sekitarnya.
"Tetapi, kalau kita lihat pun, klaster keluarga ini rata-rata terdampak dari mereka yang beraktivitas di luar, terutama apabila ada di antara anggota keluarga itu yang usia muda, bekerja di luar, mobilitasnya tinggi, mereka rata-rata tidak menunjukkan gejala, sebenarnya sudah positif Covid, lantas pulang ke rumah akhirnya menulari tanpa disadari. Nah, ini yang harus kita ingatkan, menyampaikan tentang edukasi," tuturnya.
Karena itu, Doni pun meminta semua pihak, terutama tokoh masyarakat, terus mengingatkan bahaya Covid-19. Untuk mengingatkan bahwa Covid-19 itu nyata dan telah banyak menimbulkan korban jiwa.
"Saya mengajak kepada seluruh pihak, terutama tokoh-tokoh nonformal di daerah, tokoh-tokoh yang punya pengaruh langsung pada masyarakat, mohon bisa mengingatkan kembali bahwa Covid ini nyata, ini bukan rekayasa, ini bukan konspirasi," kata Doni.
"Covid ini telah menimbulkan korban jiwa. Di seluruh dunia, hampir 2 juta orang yang meninggal dunia, di Tanah Air kita sendiri korban yang telah meninggal dunia telah mencapai lebih dari 23.296 orang. Suatu angka yang sangat besar sekali. Jadi nyata. Semakin hari mereka yang terpapar Covid semakin dekat dengan kita," sambung dia.
Pecah Rekor
Sementara itu, kasus positif virus Corona di RI kemarin pecah rekor dengan tambahan 9.321. Total kasus positif Corona di Tanah Air menjadi 797.723.
Berdasarkan data tim Humas BNPB, tercatat juga ada tambahan pasien sembuh dari Corona sebanyak 6.924. Total pasien sembuh menjadi 659.437.
Pasien yang meninggal akibat virus Corona bertambah 224. Jumlah kumulatif pasien meninggal akibat Corona sebanyak 23.520.
Jumlah pasien suspek Corona yang dipantau sebanyak 68.753. Sedangkan spesimen yang diperiksa sebanyak 68.019.
Pada hari sebelumnya, total kasus kumulatif virus Corona sebanyak 788.402, 652.513 pasien sembuh dari Corona, dan 652.513 pasien meninggal akibat Corona. (detikcom/f)
Sumber
: Hariansib edisi cetak