Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 16 Februari 2026

Pasca Bentrok Warga Natumingka vs TPL, Mantan Anggota LSM ‘Buka Rahasia'

* LSM AMAN dan KSPPM Membantah, Mereka yang Membelot
Redaksi - Sabtu, 12 Juni 2021 08:25 WIB
549 view
Pasca Bentrok Warga Natumingka vs TPL, Mantan Anggota LSM ‘Buka Rahasia'
Foto: SIB/Dok
HALANGI: Warga Natumikka, Kecamatan Borbor, Kabupaten Toba menghalangi pihak TPL menanam ecaulyptus di tanah adatnya. Aksi itu mendapat perlawanan dari pihak TPL, puluhan warga menjadi korban luka berat
Medan (SIB)
Sejumlah mantan anggota lembaga swadaya masyarakat (LSM) Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan LSM Kelompok Studi Pengembangan Pemrakarsa Masyarakat (KSPPM) menduga terjadinya peristiwa bentrokan fisik pada 18 Mei lalu di Desa Natumingka Kecamatan Borbor Kabupaten Toba, sepertinya sudah direncanakan kelompok tertentu yang memperalat warga desa setempat.

Mantan anggota dari kedua LSM tersebut, Morlan Simanjutak (65) dan Jimmy Simanjutak (45) asal Desa Nagasaribu Dusun III Kabupaten Tapanuli Utara mengimbau masyarakat agar jangan gampang terpecah belah akibat aksi adu domba dari lembaga-lembaga atau organisasi yang tidak jelas misi dan fungsinya bahkan terkesan sebagai musuh pemerintah.

"Awalnya,kami ikut LSM setelah diperkenalkan seorang pendeta. Tujuannya untuk membantu ekonomi keluarga dan warga desa. Selama empat tahun lebih, kami melakukan berbagai kegiatan rapat dan berkumpul dengan anggota KSPPM lainnya di berbagai tempat, termasuk kumpul untuk ikut demo di sejumlah tempat. Semua itu atas perintah Delima Silalahi dan Rokky Pasaribu" ujar Jimmy Simanjuntak kepada pers di Balige, Rabu (9/6).

Mereka mengungkapkan hal itu sebagai reaksi lanjut atas sikap Nursedima Parhusip (67),warga Dusun II Nagahulambu, Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara, selaku seorang mantan anggota LSM AMAN dan KSPPM. Nursedima juga menyatakan penyesalan dan kecewa telah bergabung dengan LSM tersebut selama ini (SIB 7/6).

Secara khusus, Jimmy dan Morlan memaparkan pengalaman pahit yang mereka alami dan berlawanan dengan nurani sejak awal, yaitu ketika disuruh harus berangkat ke Jakarta bertemu Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar untuk menerima surat pembebasan tanah adat di desanya. ‘

Warga Desa Nagasaribu ketika itu sangat senang, namun mereka akhirnya kecewa karena informasi itu tidak benar, malah ditanyai apa dasar pelepasan tanah itu. Menteri tanya dan minta surat dari Bupati, Camat, dan Kepala Kantor Kehutanan Balige. Padahal, pihak KSPPM selama ini mengiming-imingi masyarakat desa akan memperoleh hak (surat tanah), karena status tanahnya adalah tanah adat yang berada dalam kawasan hutan negara, tapi bukan lagi Hutan Negara berdasarkan SK Mahkamah Konstitusi Nomor 35.

"Kami, sebagai warga desa maupun anggota LSM itu habis dibohongi. Bahkan, desa-desa yang mereka dampingi selama ini tidak ada yang membaik sosial ekonominya, apalagi sejahtera. Apa salah, kalau bagi kami mereka adalah pembohong. Aksi KSPPM dan AMAN yang menonjol hanyalah demo. Apa itu tujuannya agar mendapatkan uang dari luar negeri?" ujar Jimmy dan Morlan bernada geram.

Terpisah, Ketua LSM KSPPM Delima Silalahi SH dan Ketua LSM AMAN Tano Batak Roganda Simanjuntak SH, ketika dikonfirmasi langsung Kamis (10/6) petang melalui telepon seluler, membantah pernyataan Morlan Simanjuntak dan Jimmy Simanjuntak, walau mengakui keduanya memang sempat bergabung dalam LSM tersebut.

Roganda Simanjuntak menegaskan bahwa kedua warga Desa Nagasaribu itu sepenuhnya mantan anggota LSM KSPPM, bukan LSM AMAN (wilayah) Tano Batak.

"Kami tidak pernah menyuruh mereka ke Jakarta berjumpa menteri untuk ambil surat pengakuan tanah. Bagi kami di KSPPM, kedua mereka itulah yang membelot karena kami lihat sudah mendukung program dan kegiatan di TPL, tapi mereka tetap kami hormati karena itu juga orangtua kami. Morlan Simanjuntak dan Jimmy Simanjuntak adalah warga desa adat Onanharbangan, bukan desa adat apalagi Raja Patih Pohan Jae Dusun III Kecamatan Siborong-borong seperti yang mereka bilang. Coba tanyakan dulu masyarakat Desa Natumingka, siapa rupanya yang merasa ada rekayasa kasus 18 Mei lalu, siapa sebenarnya yang mengadu domba," ujar Delima Silalahi sembari mengisahkan peranan Jimmy dan Morlan selama bergabung di KSPPM. (A05/c)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru