Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 05 Maret 2026

Berlibur dengan Ibu, Balita Asal Iran Diperkosa di India

* Dua Pertiga Korban Pemerkosaan di Liberia Adalah Anak-anak
- Kamis, 30 Januari 2014 09:57 WIB
824 view
Berlibur dengan Ibu, Balita Asal Iran Diperkosa di India
SIB/Int
Ilustrasi
New Delhi (SIB)- Parah! Lagi-lagi pemerkosaan di India. Kepolisian India menangkap seorang pria terkait kasus pemerkosaan. Pria tersebut memperkosa balita berusia 4 tahun asal Iran yang sedang berlibur dengan ibunya. Kasus pemerkosaan ini terjadi pada 22 Januari lalu di sebuah desa bernama Arpora, yang menjadi tempat tinggal pelaku dan menjadi lokasi tempat tinggal sementara korban dan ibunya selama di India. Seperti dilansir Asia One, Rabu (29/1), kepolisian Goa menangkap pelaku yang berusia 32 tahun, Senin (27/1) lalu.

Korban memberitahu ibunya usai insiden keji ini terjadi pada Senin (27/1) lalu. Sang ibu kemudian melapor ke polisi setempat. Dituturkan, pelaku sempat berusaha melarikan diri dari kejaran polisi. "Polisi memulai operasi pencarian dengan segera dan berhasil menangkapnya," terang Inspektur Polisi setempat, Paresh Naik.

Tindak pemerkosaan warga asing di India memang bukan lagi hal baru. Sejak tahun lalu, maraknya pemerkosaan di negara ini menjadi perhatian dunia internasional. Meskipun sebagian korban merupakan wanita India, namun tidak jarang beberapa kasus melibatkan warga asing atau turis yang sedang berlibur di negara ini. Salah satu yang terjadi pada awal bulan ini di mana seorang turis asal Belanda diperkosa sejumlah pria di New Delhi. Akibat hal ini, negara-negara seperti Inggris dan Prancis terpaksa mengeluarkan travel warning ke India bagi warga negaranya, merujuk pada maraknya aksi kekerasan seksual terhadap wanita asing.

Sementara itu Pemerintah Liberia menyampaikan data yang mengejutkan kepada publik. Disebutkan bahwa dua pertiga dari korban pemerkosaan di Liberia, sepanjang tahun 2013 adalah anak-anak. Menyedihkan! Kementerian Pembangunan dan Gender Liberia menyebutkan, sebanyak 65 persen dari 1.002 kasus pemerkosaan yang dilaporkan sepanjang tahun 2013 merupakan anak-anak. Anak-anak yang menjadi korban pemerkosaan rata-rata berusia 3-14 tahun. Dengan jumlah kasus sebanyak itu, hanya sekitar 137 kasus saja yang dibawa ke pengadilan dengan hanya 49 pelaku pemerkosaan yang dijatuhi hukuman.

"Sebagai akibatnya, sebanyak 10 anak dari delapan wilayah dengan usia antara 3 tahun hingga 14 tahun yang menjadi korban, tewas sepanjang tahun 2013. Dalam beberapa kasus, pelakunya masih bebas berkeliaran," demikian penyataan Kementerian Pembangunan dan Gender Liberia.

Pihak kementerian menambahkan, rendahnya jumlah kasus yang disidangkan bisa jadi karena masih banyak keluarga yang menutup-nutupi kasus pemerkosaan yang menimpa keluarga mereka. Terutama jika pelaku masih memiliki hubungan kekerabatan dengan korban.

Pernyataan itu juga menyebutkan kurangnya aparat keamanan yang mendukung korban. Ditambah lagi sebagian besar jaksa setempat tidak memprioritaskan kasus pemerkosaan, serta kurangnya ahli medis profesional yang ahli menangani korban pemerkosaan.

"Orangtua lebih memilih mengkompromikan kasus semacam ini, terutama jika pelakunya masih kerabat atau teman mereka. Kita bisa mengatakan bahwa jumlahnya bisa lebih banyak, sedikitnya tiga kali lipat dari ini jika saja orangtua tidak berkompromi," demikian pernyataan pihak kementerian.

Pemerkosaan menjadi marak di Liberia terutama sejak dijadikan sebagai senjata perang pada masa perang sipil Liberia tahun 1989-2003 lalu. Sayangnya, hal semacam ini masih terus merajalela hingga saat ini dengan banyaknya pelaku yang tidak diadili.

Presiden Liberia Ellen Johnson Sirleaf dalam pidatonya pada Senin (27/1) kemarin menyatakan bahwa pemerkosaan anak merupakan tantangan terbesar dan juga keprihatinan terbesar Liberia. Presiden wanita ini mengimbau masyarakat untuk berani melapor ke pihak berwajib dan bukannya berkompromi dengan pelaku pemerkosaan. (Detikcom/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru