Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 09 Februari 2026

PM Muhyiddin Mundur, Raja Malaysia Kumpulkan Pemimpin Partai Politik

Redaksi - Rabu, 18 Agustus 2021 08:13 WIB
390 view
PM Muhyiddin  Mundur, Raja Malaysia Kumpulkan Pemimpin Partai Politik
AP/FL Wong
Setelah diterpa banyak kritikan karena dinilai tak bisa mengatasi pandemi Covid-19, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin akhirnya mundur.
Kuala Lumpur (SIB)
Setelah diterpa banyak kritikan karena dinilai tidak bisa mengatasi pandemi Covid-19, Perdana Menteri Malaysia, Muhyiddin Yassin akhirnya mundur. Muhyiddin mengundurkan diri setelah 17 bulan menjabat sebagai Perdana Menteri Malaysia. Selama itu pula, kepemimpinannya di negeri jiran itu penuh gejolak.

Kepemimpinan Muhyiddin terus digoyang oposisi terutama setelah ia terlibat selisih pendapat dengan Sultan Abdullah terkait pemberlakuan status darurat nasional Covid-19.

Sejak itu, oposisi menganggap Muhyiddin melanggar konstitusi karena melangkahi wewenang Sultan Abdullah. Para penentang Muhyiddin juga merasa sang perdana menteri berupaya menghindari mosi tidak percaya dengan menunda rapat parlemen.

Setelah menentang seruan untuk mundur selama berminggu-minggu, seorang menteri di Kantor PM, Mohd Redzuan Md Yusof, mengatakan Muhyiddin telah memberi tahu anggota partainya, Bersatu, bahwa ia akan mengundurkan diri sebagai PM.

Muhyiddin Yassin kemudian mengajukan surat pengunduran diri kepada Raja Abdullah Alam Ahmad Shah, Senin (16/8) waktu setempat. "Hari ini adalah hari terakhir saya sebagai perdana menteri dan saya ridho dengan ketentuan Illahi ini," ujar Muhyiddin dalam pidato kenegaraan yang dikutip Reuters.

Ia melanjutkan, "Sesungguhnya jabatan yang saya pikul bukan kemegahan. Ini adalah beban tanggung jawab yang amat berat."

Muhyiddin juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Malaysia dan kabinetnya serta menyatakan harapan agar raja dapat memilih penggantinya dengan baik. "Mudah-mudahan Raja diberikan rahmat kebijaksanaan untuk memilih PM yang baru menurut kehendak lembaga persekutuan," tuturnya.

Muhyiddin Yassin tetap memegang jabatan Perdana Menteri (PM) Malaysia sementara meski sudah mengajukan pengunduran diri pada Raja Malaysia, Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah.

Muhyiddin memegang sementara jabatan PM hingga ada penggantinya secara definitif. "Setelah pengunduran diri, Muhyiddin tetap mengisi peran sebagai perdana menteri sementara sampai perdana menteri baru ditunjuk," demikian pernyataan resmi Kerajaan Malaysia dalam pernyataan resmi di Facebook seperti dikutip Reuters, Senin (16/8).

Kumpulkan Pemimpin Partai
Hingga kini belum jelas siapa yang akan menggantikan Muhyiddin jika ia resmi mundur. Namun, Raja Malaysia dilaporkan mulai mengumpulkan pemimpin partai politik, untuk mencari pengganti Muhyiddin Yassin. Raja Malaysia memiliki kewenangan menunjuk anggota parlemen untuk menjadi perdana menteri yang menurutnya paling mungkin mendapat dukungan mayoritas suara di parlemen.

Yang di-Pertuan Agong Sultan Abdullah Sultan Ahmad Shah tidak ingin pemilu dini digelar karena masih pandemi. Karena itu, siapa PM Malaysia yang baru akan berada di tangannya berdasarkan sosok yang bisa membuktikan dukungan mayoritas. Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim dan ketua partai politik lainnya dilaporkan menemui Sultan Abdullah di Istana Negara Kuala Lumpur.

Sejauh ini seperti dilansir AFP Selasa (17/8), belum ada kandidat menonjol yang pantas menggantikan Muhyiddin Yassin. Pihak oposisi menjagokan Anwar, yang memang sudah mengincar posisi orang nomor satu "Negeri Jiran" dalam 20 tahun terakhir. Terdapat spekulasi bahwa pemerintahan yang kuat bisa tercapai saat pandemi berakhir, dan pemilu bisa dihelat secara aman.

Raja Malaysia asal Pahang itu sudah meminta anggota parlemen untuk memasukkan nama piihan mereka paling lambat Rabu (18/8). PM Malaysia yang baru harus memperoleh suara sedikitnya 111 anggota Dewan Rakyat dari total 222 dukungan. Oh Ei Sun, dari Singapore Institute of International Affairs menuturkan Sultan akan membandingkan pertemuannya antara para tokoh politik dengan hasil pemilihan. Karena itu, keyakinan bahwa drama politik di negara tetangga Indonesia tersebut masih bisa berjalan selama beberapa hari ke depan.

Muhyiddin naik menjadi orang nomor satu pada Maret, setelah memanfaatkan kemelut di Februari akibat mundurnya Mahathir Mohamad. Tetapi, pemerintahannya terus dirongrong oposisi, dan berbuntut kepada kolapsnya dukungan di Perikatan Nasional. Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO) sebagai pendukung terbesar Muhyiddin memutuskan mencabut keyakinan mereka. (AFP/CNNI/c)
Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru