Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 27 Mei 2026

Penyelesaian Masalah Lingkungan Dibutuhkan Teori Masa Depan

* Realisasi Pemulihan Ekosistem RI Mencapai 50.251 Ha
Redaksi - Kamis, 23 Desember 2021 09:09 WIB
416 view
Penyelesaian Masalah Lingkungan Dibutuhkan Teori Masa Depan
Foto Dok
Wiratno
Jakarta (SIB)
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) KLHK, Wiratno menguraikan capaian kinerja direktorat yang dipimpinnya hingga akhir tahun 2021. Wiratno menjelaskan, banyak persoalan yang perlu diselesaikan dengan cara-cara yang tidak biasa.

"We can't solve problems by using the same kind of thinking we used when we created them, quote dari Albert Einstein tersebut kurang lebih sesuai dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi oleh Direktorat Jenderal KSDAE dalam beberapa tahun terakhir ini," terangnya dalam keterangan tertulis, Rabu (22/12)

Hal itu ia katakan dalam Diskusi Refleksi Akhir Tahun KLHK di Jakarta. Menurutnya, masalah lingkungan saat ini tidak bisa diselesaikan dengan cara atau teori saat ini, sehingga dibutuhkan teori masa depan. Oleh karena itu muncul inovasi dan kreativitas.

Ia kemudian menyebutkan, berbagai capaian kinerja Direktorat Jenderal KSDAE hingga penghujung tahun 2021. Dalam hal pengelolaan kawasan konservasi, capaian kemitraan konservasi yang secara nasional sejak 2018 sampai dengan November 2021 menjangkau kawasan hutan seluas 176.588 Ha, melalui 347 perjanjian kerja sama di 55 UPT, di 69 kawasan konservasi, serta melibatkan 261 desa, 246 mitra, dan 12.621 jiwa.

Selain kemitraan konservasi, Direktorat Jenderal KSDAE juga berkewajiban untuk melaksanakan pembinaan usaha ekonomi masyarakat yang bermukim di daerah penyangga kawasan konservasi. Upaya ini dilakukan agar dapat menciptakan hubungan yang positif antara masyarakat dengan kawasan konservasi itu sendiri. Selama dua tahun terakhir, kegiatan pemberdayaan masyarakat ini telah menghasilkan 1.359 jenis usaha ekonomi produktif di 644 desa, 965 kelompok, serta melibatkan 26.157 orang anggota kelompok.

Lebih lanjut, upaya-upaya pemulihan ekosistem telah dilakukan sebagai bagian dari penanganan area terbuka pada kawasan konservasi. Pada periode 2015-2019, dari target pemulihan ekosistem seluas 100.000 Hektar (Ha) dapat dicapai seluas 84.067 Ha atau sebesar 84,07%.

Adapun untuk periode 2020-2024, ditargetkan pemulihan ekosistem seluas 200.000 Ha. Hingga tahun 2021, telah dicapai realisasi pemulihan ekosistem seluas 50.251 Ha atau sebesar 25,13%. Pemulihan ekosistem juga dilakukan melalui skema kemitraan konservasi.

Hingga saat ini, pemulihan ekosistem dengan skema kemitraan konservasi telah dilakukan pada area seluas 13.830 Ha, pada 18 UPT Direktorat Jenderal KSDAE.

Terkait konservasi spesies dan genetik, untuk mengantisipasi kepunahan spesies, Direktorat Jenderal KSDAE melakukan upaya-upaya konservasi spesies secara insitu dan eksitu. Upaya konservasi insitu antara lain dilakukan melalui pengelolaan habitat, penanganan konflik, serta eradikasi invasive alien species dan zoonosis. Adapun upaya konservasi eksitu dilakukan melalui pengembangbiakan spesies, restocking hasil penangkaran, serta melakukan rescue, rehabilitasi dan release.

Pada tahun 2020-2024, Direktorat Jenderal KSDAE menargetkan pelaksanaan inventarisasi dan verifikasi pada 70 juta Ha area indikatif dengan potensi keanekaragaman hayati tinggi. Sampai dengan November 2021, telah dilaksanakan inventarisasi dan verifikasi pada areal seluas 15 juta Ha atau sebesar 21,50% dari target. Hal ini tentu penting untuk kembali memetakan kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia, serta kemudian kembali merencanakan pengembangan jaringan kawasan konservasi.

Capaian lain dari upaya konservasi spesies dan genetik pada tahun 2021 yaitu, pelepasliaran sejumlah 27.792 individu satwa, kelahiran 2.790 individu satwa, upaya-upaya repatriasi satwa liar, serta restocking satwa liar ke habitatnya.

Saat ini, Direktorat Jenderal KSDAE telah mengembangkan aplikasi wisata alam berbasis android dan IOS yang di-launching pada tanggal 24 November 2021. Selain itu, pemanfaatan media sosial terus dikembangkan untuk melengkapi kebutuhan wisata di masa pandemi yang dikembangkan lewat virtual tour dengan memanfaatkan berbagai platform. (detikcom/c)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru