Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 14 Februari 2026

Di Mata Putin, Indonesia Masih Bersahabat

Redaksi - Kamis, 10 Maret 2022 09:06 WIB
840 view
Di Mata Putin, Indonesia Masih Bersahabat
Foto: Reuters
Presiden Rusia, Vladimir Putin. 
Jakarta (SIB)
Buntut perang dengan Ukraina, Rusia merilis negara-negara mana saja yang saat ini menjadi sahabatnya, juga menjadi musuhnya. Ada 27 negara yang dianggap Rusia sebagai musuhnya. Lalu, di mana posisi negara kita? Di mata Presiden Rusia, Vladimir Putin, Indonesia masih sahabat.

Sejak Rusia menyerang Ukraina, Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Eropa menjatuhkan serentetan sanksi ekonomi sebagai bentuk protes ke Rusia. Mulai dari pembekuan aset, larangan perjalanan, sampai pembekuan di pasar keuangan.

Tujuan utama sanksi itu hanya satu, bikin rakyat Rusia menderita karena resesi, dan diharapkan bisa menekan presidennya untuk menghentikan perang.

Sanksi yang dijatuhkan tersebut, terbukti ampuh. Dalam sepekan sanksi dijatuhkan, ekonomi Rusia mulai oleng. Bursa saham milik negara Beruang Merah itu, terus anjlok hingga 30 persen. Tidak hanya harga saham-saham Rusia yang jatuh, harga obligasi pemerintahnya juga, ikut terjun bebas.

Nilai Rubel, mata uang Rusia juga anjlok hampir 60 persen. Bahkan, nilai Rubel ini hanya dihargai lebih rendah dari 1 sen dolar AS. Tidak sampai di situ saja, kondisi keuangan yang carut marut juga membuat warga Rusia lebih pilih uang tunai dibanding menyimpan di bank. Di sejumlah tempat, warga antre panjang di mesin ATM, demi menguras isi tabungannya.

Akibatnya, kini banyak warga Rusia yang tak bisa lagi bayar cicilan kredit rumah karena suku bunga naik tajam. Sebagian lagi, mulai kerepotan karena tak bisa lagi melakukan pembayaran via Visa, Mastercard, Apple Pay dan Google Pay yang sudah diblokir Barat.

Tak hanya memberikan sanksi ekonomi ke Rusia, AS kembali menyerukan kepada negara sekutunya agar tak mengimpor lagi minyak dari Rusia. Sebagian sekutu AS, sudah manut dengan arahan tersebut. Sebagian lagi masih pikir-pikir. Jerman misalnya, menolak ajakan AS itu, karena khawatir mendapat sanksi balasan dari Rusia.

Bagi Rusia, ajakan dari AS itu sudah benar-benar mengancam ekonominya. Soalnya, minyak menjadi sumber pendapatan penting setelah negara itu dibekukan dari pasar keuangan Barat.

Presiden Putin pun langsung merespons. Dia memperingatkan agar negara lain tak mengikuti ajakan AS. Kata dia, ikut memberikan sanksi sama saja dengan mendeklarasikan perang dengan Rusia.

"Kami akan segera menganggap mereka sebagai peserta dalam konflik militer dan tidak peduli anggota organisasi mana mereka," ancam Putin, akhir pekan lalu.

Tak hanya itu, Putin juga mengancam akan menghentikan pasokan gas ke Eropa. Mengingat selama ini, Rusia adalah negara pemasok 40 persen kebutuhan gas bagi Eropa. Kalau pasokan gas dihentikan, maka berbagai kegiatan ekonomi di Eropa tentu bakal berdampak hebat.

Tak hanya mengancam, Rusia langsung mengeluarkan daftar negara yang dianggap tidak bersahabat. Total, ada 27 negara yang dianggap musuh Rusia. Daftar negara tak bersahabat itu dirilis kantor berita Rusia, TASS News Agency, kemarin.

Mayoritas negara yang dianggap tak bersahabat ini adalah negara yang ikut menjatuhkan sanksi ekonomi, juga yang mengecam tindakan Rusia ke Ukraina.

Urutan paling atas dari daftar tersebut adalah Amerika Serikat, lalu anggota Uni Eropa. Setelah itu ada Inggris, Swiss, Jepang, Korea Selatan, Australia, Selandia Baru, Singapura, dan Taiwan. Ada juga Albania, Andorra, Islandia, Liechtenstein, Monako, Norwegia, San Marino, Makedonia Utara, dan Mikronesia. Belum jelas apa yang akan dilakukan Putin dengan daftar tersebut. Namun, menurut Newsweek, transaksi bisnis di Rusia yang melibatkan negara-negara ini, akan memerlukan otorisasi khusus dari pemerintah.

Bagaimana dengan Indonesia? Rusia rupanya masih menganggap Indonesia, sebagai negara sahabat. Padahal dalam voting di Majelis Umum PBB, Indonesia cenderung ikut Amerika Serikat dan kawan-kawan. Meski tidak secara spesifik mengecam invasi Rusia, namun Indonesia mengutuk sebuah tindakan peperangan. (RM/c)
Sumber
: KORAN SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru