Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 02 April 2026

Pangdam I/BB Rasakan Sulitnya Profesi Wartawan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Proxy War, Minta Pertajam Analisis dan Intelijensia

Redaksi - Sabtu, 02 April 2022 08:44 WIB
397 view
Pangdam I/BB Rasakan Sulitnya Profesi Wartawan di Era Revolusi Industri 4.0 dan Proxy War, Minta Pertajam Analisis dan Intelijensia
Foto: SIB/Oki Lenore
SILATURAHIM: Pangdam I/BB Mayjen Achmad Daniel Chardin, Kamis (31/3) bersilaturahim dengan wartawan di Media Center Kodam I/BB di Jalan Rotan 1 Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah. 
Medan (SIB)
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) I Bukit Barisan, Mayor Jenderal TNI Achmad Daniel Chardin, Kamis (31/3) bersilaturahim dengan wartawan di Media Center Kodam I/BB di Jalan Rotan 1 Kelurahan Petisah Tengah Kecamatan Medan Petisah. Pertemuan untuk mengenalkan diri serta membangun sinergi dengan pekerja pers agar sama-sama meningkatkan peran untuk membangun bangsa.

Menurutnya, di era informasi terbuka, profesi jurnalis menghadapi pekerjaan sulit. “Orang butuh informasi, tinggal klik ke Mbah Google... semua ada. Jika yang disajikan seperti yang sudah ada di mesin pencarian, kurang menarik diikuti (lagi di media). Sama seperti intelijen... kalau dapat laporan intel tapi sudah saya ketahui lebih dulu... sudah tak saya baca,” tegasnya.

Menurut analisisnya, di era informasi terbuka yang disebut masa Revolusi Industri 4.0, 95 persen informasi sudah ada di dunia maya. Pers dan intelijen, menurutnya, bekerja di ruang yang tersisa 5 persen. “Di ruang 5 persen itu, agar menarik dan akurat serta terpercaya hingga diikuti komunikan (baca: audiens/pembaca), harus dipertajam analisis dan intelijensia,” simpulnya.

Ia mencontohkan pekerjaannya bila membuat laporan ke KSAD dan Panglima TNI. “Jika pers dan intelijen bekerja di ruang 5 persen, saya bekerja di ruang yang tersisa 1 - 2 persen. Karena pimpinan saya pasti sudah lebih dahulu tahu seluruhnya.

Jadi, lagi-lagi saya harus mempertajam analisis dan intelejensia. Harus mengumpulkan informasi semaksimalnya. Satu di antaranya dari media,” tegas mantan Wadanpussenif Kodiklatad tersebut.

Pers dan TNI, lanjutnya, sama-sama berperan sesuai bidangnya dengan muara membangun dalam bingkai NKRI. Ia menunjuk masa proxy war di mana dalam informasi terbuka penuh dengan informasi. Mulai yang berkualitas hingga hoax dan fake. “Di era proxy war pers berperan mengisi dengan berita berkualitas dan berguna, TNI mengawalnya agar NKRI yang sudah final ini tetap terjaga. Itu sebabnya TNI dengan pers harus bersinergi,” pintanya.

Dalam kebersamaan tersebut, lanjutnya, pers harus jujur. Ia minta jurnalis memberitakan dengan jujur dan apa saja tentang TNI - AD. Baik atau buruk. “Syukur berita buruk dikonfirmasi ke kami untuk dicarikan solusi agar tidak kontra produktif dan berkembang liar di masyarakat,” tambahnya.

Pria putra Pama CPM yang lahir di Makassar itu mengurai komunikasi sesuai teori Wilbur Schramm tentang 5 komponen komunikasi. “Satu di antaranya dengan silaturahim seperti ini, tatap muka antara saya sebagai komunikator dan pers sebagai komunikan,” tegasnya.

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sumut Farianda Putra Sinik SE diwakili Sekjen Sahat Rahmat Hamonangan Panggabean mengatakan, PWI - TNI AD dalam hal ini Kodam I/BB tak dapat dipisahkan. “Kebetulan saya pengurus KONI.

Orang-orang dekat Pangdam adalah para jawara di sejumlah cabang olahraga produk KONI, termasuk wartawan,” ujarnya didampingi Wakil Ketua Rizky Warisan.

Menurutnya, wartawan dan Kodam punya tugas yang sama yaitu sama-sama membela kepentingan rakyat. “Kami ingat PWI dan Kodam I/BB sejak dulu sudah terjalin harmonis,” paparnya.

Usai bersilaturahim, Pangdam didampingi jurnalis senior Effendi Setiawan meninjau ruang Media Center. “Nanti di ruangan ini disediakan kopi dan teh sebagai teman diskusi,” tambah Kapendam I/BB Kol Inf Donald Ericson Silitonga, yang disela jenderal bintang dua agar jangan menyediakan kopi dalam saset. “Kopi seduh, kopi hitam,” usulnya. Tentang Media Center di luar Makodam, ia memahami profesi wartawan yang tidak selamanya berada dalam protokoler. Kadang, lanjutnya, karena harus di lapangan, tidak bersepatu. (R10/f)
Sumber
: KORAN SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru