Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Januari 2026

Rusia Gempur Pabrik Perangkat Militer di Ibu Kota Ukraina

18 Anggota Misi Uni Eropa Diusir
Redaksi - Minggu, 17 April 2022 08:26 WIB
452 view
Rusia Gempur Pabrik Perangkat Militer di Ibu Kota Ukraina
(Foto: Reuters)
Ilustrasi: kerusakan di Ukraina akibat serangan Rusia.
Jakarta (SIB)
Sebuah pabrik perangkat keras militer di Kiev, ibu kota Ukraina digempur Rusia pada Sabtu (16/4) dini hari waktu setempat.

Serangan terjadi setelah pasukan Rusia menggempur sebuah unit rudal di luar Kiev.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (16/4), asap mengepul di daerah itu dan ada banyak polisi dan militer datang setelah Wali Kota Kiev Vitali Klitschko mengumumkan di media sosial telah terjadi ledakan di distrik Darnyrsky di Kiev.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan, pasukan Rusia telah menggunakan senjata "jarak jauh presisi tinggi" untuk menggempur fasilitas-fasilitas di pabrik persenjataan di Kiev tersebut.

Serangan di ibu kota Ukraina itu adalah salah satu yang pertama sejak pasukan Rusia mulai menarik diri dari wilayah sekitar Kiev bulan lalu, dan mengalihkan fokus mereka untuk menguasai wilayah Donbas, Ukraina timur.

Gempur
Pasukan Rusia juga menggempur pabrik roket Ukraina setelah tenggelamnya kapal andalannya, Moskva di Laut Hitam.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (16/4), wartawan AFP melaporkan bahwa pabrik Vizar, dekat bandara internasional Kiev tersebut, rusak parah dalam serangan itu.

Rusia mengatakan, telah menggunakan rudal jarak jauh berbasis laut untuk menghantam pabrik itu. Menurut produsen senjata Ukraina, pabrik itu memproduksi rudal jelajah Neptunus, proyektil yang menurut Kiev dan Washington digunakan untuk menenggelamkan kapal perang Moskva.

"Ada lima serangan. Karyawan saya berada di kantor dan terlempar karena ledakan itu," kata Andrei Sizov, pemilik bisnis kayu di dekat pabrik tersebut, kepada AFP.

"Mereka melakukan pembalasan kepada kami karena menghancurkan Moskow," katanya.

Ancam AS
Pemerintah Rusia secara resmi telah menyampaikan komplain kepada Amerika Serikat atas bantuan militernya ke Ukraina.

Rusia mengingatkan adanya "konsekuensi tak terduga" jika pengiriman persenjataan canggih diteruskan.

Dilansir dari kantor berita AFP, Sabtu (16/4) yang mengutip pemberitaan media Washington Post, dalam nota diplomatik minggu ini, Moskow memperingatkan Amerika Serikat dan NATO agar tidak mengirim senjata "paling sensitif" untuk digunakan Ukraina dalam konflik dengan Rusia.

Peringatan itu datang pada minggu yang sama ketika Presiden AS Joe Biden menjanjikan paket bantuan militer baru senilai US$ 800 juta untuk Ukraina, termasuk helikopter, howitzer, dan kendaraan lapis baja pengangkut personel.

"Apa yang Rusia katakan kepada kami secara pribadi adalah persis apa yang telah kami katakan kepada dunia secara terbuka -- bahwa sejumlah besar bantuan yang telah kami berikan kepada mitra Ukraina kami terbukti sangat efektif," tulis Washington Post mengutip seorang pejabat senior pemerintah AS yang berbicara dengan syarat anonim mengenai nota diplomatik Rusia itu.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menolak mengomentari laporan tentang surat nota diplomatik itu.

"Kami tidak akan mengkonfirmasi korespondensi diplomatik private apa pun," kata juru bicara Departemen Luar Negeri AS.

Sebelumnya, Biden telah memberi tahu Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tentang paket bantuan senjata baru AS melalui pembicaraan via telepon pada Rabu (13/4) lalu, saat Rusia memfokuskan kembali upayanya ke wilayah Ukraina timur.

Diusir
Selain itu, Pemerintah Rusia telah memerintahkan 18 anggota misi Uni Eropa di negara itu untuk meninggalkan Rusia.

Moskow juga menyalahkan Uni Eropa karena telah menghancurkan hubungan.

"Delapan belas pegawai Delegasi Uni Eropa untuk Rusia telah dinyatakan sebagai 'persona non grata' dan harus meninggalkan wilayah Federasi Rusia dalam waktu dekat," kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam sebuah pernyataan seperti diberitakan kantor berita AFP, Sabtu (16/4).

Langkah itu dilakukan setelah 19 diplomat Rusia diperintahkan meninggalkan Uni Eropa pada 5 April.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan, telah memanggil Markus Ederer, Duta Besar Uni Eropa untuk Rusia, untuk memberitahunya tentang tindakan pembalasan tersebut.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Rusia mengatakan Uni Eropa memikul tanggung jawab atas "penghancuran yang konsisten dari arsitektur dialog dan kerja sama bilateral" yang telah memakan waktu beberapa dekade untuk dibuat.

Diketahui bahwa negara-negara Barat telah mengusir puluhan diplomat Rusia di tengah meningkatnya kemarahan atas invasi militer Rusia di Ukraina. Pemerintah Rusia pun telah mengatakan bahwa mereka akan membalas semua pengusiran tersebut. /(detikcom/d)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru