Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Januari 2026
Pesan Paskah PIKI Sumut:

Warisan Kematian Yesus, Menegakkan Keadilan dan Kebenaran

Redaksi - Minggu, 17 April 2022 09:02 WIB
917 view
Warisan Kematian Yesus, Menegakkan Keadilan dan Kebenaran
Foto: Ist/harianSIB.com
Ilustrasi pengorbanan Yesus di kayu salib.
Medan (SIB)
Paskah sarana keadilan dan kebenaran Allah dinyatakan. Dalam Kitab Roma 3 ayat 23 disebut bahwa manusia telah jatuh kedalam dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Maka tidak ada harapan bagi manusia untuk dapat diselamatkan dari hukum dosa yaitu maut.

Demikian pesan Paskah yang disampaikan Ketua DPD Persatuan Inteligensi Kristen Indonesia (PIKI) Provinsi Sumut Dr Naslindo Sirait SE MM kepada SIB, Sabtu (16/4).

Dijelaskan, setiap orang akan dihukum karena telah berdosa, dimana iblis selalu menuntut kepada Allah agar penghukuman Allah diterapkan kepada orang berdosa dan dipastikan tidak akan ada seorangpun yang selamat, karena orang berdosa tidak dapat menyelamatkan dirinya sendiri ke luar dari konsekwensi dosa yaitu maut.

Dengan kata lain manusia tidak berdaya, tidak memiliki peluang atau harapan untuk diselamatkan, maka untuk mengatasi ketidakberdayaan inilah maka Allah berinisiatif untuk mengorbankan anakNya sebagai tebusan atas seluruh dosa umat manusia melalui pengorbanan Yesus di kayu salib.

Dengan pengorbanan itu maka keadilan Allah (misphat) ditegakkan dan bahwa setiap pelanggaran harus dibayar/ditebus dan Tuhan Yesus melakukan itu sebagai ganti kita yang berdosa, karena Dia satu-satunya yang tidak berdosa yang mampu menanggung seluruh dosa manusia.

Maka prinsip keadilan Allah juga didasari oleh kasih karena Allah adalah kasih itu sendiri, ini lah kebenaran Allah (sedeqah). Tanpa kasih tidak mungkin Allah mau berkorban sedemikian rupa untuk manusia yang telah rusak dan tidak punya nilai lagi di hadapan Allah. Maka ketidakberdayaan itu akan mendapatkan jalan keluarnya yaitu bahwa setiap orang yang percaya akan kematian Yesus di kayu salib adalah untuk penebusan dosa umat manusia, maka dengan iman kepercayaan itulah setiap orang akan beroleh keselamatan dan kehidupan kekal, ujarnya.

Namun demikian setiap orang yang merespon dengan sikap tidak percaya atas penebusan Yesus di kayu salib akan tetap berada dalam hukum dosa yaitu maut. Dengan demikian penerapan keadilan bukan untuk membinasakan tetapi untuk menawarkan kehidupan berdasarkan sikap pertobatan.

Bagaimana gereja merespon paskah dalam membangun keadilan dan kebenaran dalam kehidupan gereja. Membangun keadilan dan kebenaran dalam gereja harus dimaknai bahwa setiap pemimpin membutuhkan kehadiran Allah dan prinsip-prinsipNya dalam kehidupan pelayanan. Tidak ada seorangpun pemimpin yang memiliki hikmat dan kemampuan untuk merekonstruksi keadilan tanpa konektivitas yang erat dengan Allah itu sendiri.

Dengan hubungan yang intim dengan Allah maka setiap orang dalam gereja baik pendeta, penatua maupun jemaat akan mampu membangun kehidupan pelayanan yang berkeadilan dengan prinsip kebenaran dan kasih.

Prinsip kebenaran dan kasih katanya haruslah melandasi setiap kebijakan yang mengatur kehidupan berjemaat dan menjadikan kasih itu sebagai roh untuk menggerakkan setiap tindakan dalam kondisi apapun. Keadilan tanpa kasih akan menjauhkan seseorang dari Tuhan dan sesama, namun sebaliknya kasih tanpa keadilan akan membuat orang berkompromi dengan dosa. Maka untuk memastikan keduanya berjalan beriringan maka gereja harus mampu menyuarakan kebenaran dan keadilan berdasarkan kasih kepada siapapun didalam komunitas gereja, karena tanpa itu fondasi gereja akan runtuh dan tidak lebih dari sekedar organisasi kesibukan saja.

Gereja juga harus mampu mengoreksi kebenaran “relative” yang didasarkan pada upaya menyesuaikan diri dengan kehidupan pos modernisme, dimana kebenaran menjadi abu-abu dan bisa diadaptasi. Padahal prinsip kebenaran adalah mutlak sesuai dengan hukum Allah yang adalah mutlak. Dalam memastikan prinsip keadilan itu diterapkan secara universal, maka gereja harus lebih banyak menjangkau orang-orang lemah, miskin dan tak berdaya sebab di sanalah medan pelayanan yang lebih luas dan merekalah yang paling rentan mengalami ketidak adilan.

Dalam hal ini harus ada skala prioritas pelayanan untuk memastikan bahwa siapa yang paling membutuhkan keadilan, maka merekalah sasaran utama dalam pelayanan itu sendiri, kata Sirait.

Karena itu PIKI Sumut pada Paskah Tahun 2022 menyampaikan pesan paskah bagi gereja dan umat Kristen di Sumut untuk mempraktekkan keadilan dan kebenaran berdasarkan kasih dan menjadi inspirasi utama bagi umat kristen dalam merayakan paskah, melampaui tradisi-tradisi gereja dan budaya yang berkembang di masyarakat modern.

Hendaknya setiap gereja dan lembaga pelayanan umat Kristen harus membangun kehidupan pelayanan yang berkeadilan berdasarkan kasih di dalam konteks pelayanan masing-masing, sehingga kehadiran gereja dan lembaga pelayanan lainnya terus menerus menjadi agen perubahan untuk membawa kehidupan umat Kristen yang tangguh, mampu survive dan berkemenangan dalam segala tantangan yang ada.

Mendorong setiap keluarga Kristen harus membangun fondasi keluarga yang utuh sesuai firman Tuhan sebagai benteng utama untuk menghadapi arus pos modernisme yang tengah melanda dunia, sehingga rencana Allah dalam kehidupan keluarga Kristen dapat digenapi dan mampu terus berlari menuju tujuan tersebut terlepas dari apapun tantangan yang ada.

Mendorong gereja dan lembaga pelayaanan kristen bersama-sama dengan jemaat, harus menjadi corong Allah untuk membawa suara Nabiah di tengah-tengah praktik ketidakadilan yang melanda seluruh lini kehidupan. Sama seperti Nabi Amos, Jeremiah, Yesaya dan banyak Nabi-nabi lainnya yang berani bersuara kebenaran ditengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi, sekalipun harus berhadapan dengan arus utama. Semoga paskah menginspirasi kita untuk menjadi pembawa obor Allah untuk menerangi dunia yang penuh dengan kegelapan ini. (A13/d)

Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru