Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026
Gagal Ginjal Akut Merebak

Waspadai Obat Sirop Anak Langka dan Mahal

Redaksi - Minggu, 06 November 2022 08:58 WIB
341 view
Waspadai Obat Sirop Anak Langka dan Mahal
Foto : iStockphoto/spukkato
Ilustrasi
Jakarta (SIB)

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menghimbau seluruh pemangku kepentingan, khususnya produsen obat wajib mengantisipasi terjadinya kelangkaan, serta mahalnya sediaan obat/farmasi terkait obat sirup anak.

Hal ini menyusul merebaknya kasus gagal ginjal akut anak yang diduga disebabkan oleh konsumsi obat sirup.

Kemendag berharap produsen tetap memproduksi dan menjual obat yang sesuai dengan standar obat yang telah ditentukan
“Produsen obat dan farmasi wajib menyediakan serta mengaktifkan hotline layanan konsumen. Kami berharap peran aktif produsen dalam memitigasi, mengidentifikasi, dan mengecek produk secara berkala serta melakukan penarikan produk dari peredaran apabila produk terindikasi adanya cemaran atau kontaminasi yang dapat membahayakan kesehatan,” kata Direktur Jenderal Perlindungan Konsumen dan Tertib Niaga Kementerian Perdagangan Veri Angrijono, Sabtu (5/11).

Selain itu, Kemendag juga meminta masyarakat tidak membeli dan menggunakan produk-produk yang tengah diindikasikan dapat merugikan kesehatan.

"Kami meminta masyarakat untuk melaporkan jika masih menemukan obat-obat yang diindikasikan tercemar oleh BPOM dan untuk tidak mengonsumsi produk-produk obat tersebut,” ujar Veri.

Dia menegaskan, Kemendag senantiasa berkoordinasi dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) agar konsumen dapat terlindungi dari obat dan produk farmasi lainnya yang tidak sesuai ketentuan.

“Untuk mencegah semakin banyaknya kasus gagal ginjal akut yang tengah terjadi saat ini, Kemendag berkomitmen terus mendorong upaya perlindungan konsumen atas produk obat dan farmasi yang tidak sesuai ketentuan. Hingga saat ini Kementerian Perdagangan terus melakukan pengawasan di lapangan,” tegas Veri.


Obat Penawar

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyatakan, sebagian besar obat penawar (antidotum) Fomepizole merupakan donasi dari negara lain, yaitu Australia dan Jepang. Adapun saat ini, terdapat 246 vial Fomepizole sudah didatangkan di Indonesia, di mana 146 vial Fomepizole sudah didistribusikan kepada 17 rumah sakit di 11 provinsi Indonesia. Sementara 100 vial lainnya menjadi buffer stock pusat.

“Kita cukup beruntung saat ini ada 246 vial fomepizol yang sudah ada di Indonesia dimana sebagian besar atau 87 persennya adalah donasi gratis dari negara lain," kata Syahril dalam siaran pers, Sabtu (5/11). [br]



Syahril mengungkapkan, sejauh ini sudah ada beberapa rumah sakit yang terdistribusi obat jenis antidotum ini. Rumah-rumah sakit tersebut, yaitu RSUD Zainoel Abidin Aceh; RSUP Prof Dr. I.G.N.G. Ngoerah, Bali; RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta; RSAB Harapan Kita, RSUP Fatmawati, dan dan RSCM Jakarta. Lalu, RSUP Hasan Sadikin, RSUD Dr. Hafiz dan RSU Hermina Mekarsari, Jawa Barat; RSUD Bangli dan RSUD Dr. Saiful Anwar, Jawa Timur; RSUD Dr. Soedarso Pontianak, Kalimantan Barat; RSUD Kuala Pembuang, Kalimantan Tengah; dan RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo, Sulawesi Selatan.

"RSUP Dr. M Djamil, Sumatera Barat; RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang, Sumatera Selatan; dan RSUP H. Adam Malik, Sumatera Utara," ucap dia.

Syahril menuturkan, penggunaan fomepizole berdampak positif bagi pasien gagal ginjal akut, di mana 95 persen pasien anak di RSCM menunjukkan perkembangan yang terus membaik selama mendapatkan terapi. Artinya, efikasinya baik dalam memberikan kesembuhan dan mengurangi perburukan gejala.

“Fomepizole menjadi bagian dari terapi pengobatan, dan diberikan secara gratis kepada pasien. Kami tidak lakukan komersialisasi obat. Saya ulangi, tidak ada komersialisasi obat, tujuannya semata mata untuk keselamatan anak indonesia," kata Syahril. (Liputan6/Kompas/c)




Sumber
: Koran SIB
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru