Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Januari 2026

Warga Israel Serbu Rumah Netanyahu Lagi, Siram Jalan Pakai Cat Merah

Redaksi - Rabu, 24 Januari 2024 09:07 WIB
357 view
Warga Israel Serbu Rumah Netanyahu Lagi, Siram Jalan Pakai Cat Merah
(Yonatan Sindel/Flash90)
DIRIKAN TENDA: Demonstran mendirikan tenda ketika menggelar aksi protes di depan rumah dinas PM Israel Benjamin Netanyahu, di Yerusalem, Senin (22/1) malam. 
Tel Aviv (SIB)
Massa Israel kembali menyerbu sekitar rumah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menggelar unjuk rasa di Yerusalem pada Senin (22/1) malam waktu setempat.
Para pedemo menuntut kesepakatan pembebasan sandera dan gencatan senjata. Mereka menyiram jalan dekat kediaman Netanyahu dengan cat merah, demikian dikutip Al Jazeera.
Menurut laporan Times of Israel, aksi siram cat merah ini berlangsung di Jalan Azza, Yerusalem.
Warga juga membawa banner bertuliskan "darah para sandera di tangan Anda." Beberapa yang lain mengangkat poster kerabat atau anggota keluarga yang masih disandera.
Di media sosial X video aksi itu beredar luas. Di rekaman tersebut tampak sekelompok orang berjalan sembari membentangkan banner berbahasa Ibrani.
Mereka berjalan di atas aspal yang sudah tersiram cat merah.
Demo di dekat kediaman Netanyahu bukan kali pertama. Pada November lalu, mereka melaksanakan aksi serupa.
Di demonstrasi November lalu, warga menyebut Netanyahu adalah bencana bagi Israel dan menuntut dia mundur dari kursi PM.
"Bibi berbahaya, mundur sekarang!" demikian tulisan di salah satu poster pedemo. Bibi merupakan panggilan akrab Netanyahu.
Netanyahu kini berada dalam tekanan usai nyaris empat bulan Israel melancarkan agresi ke Palestina.
Keluarga kerabat yang masih disandera mendesak Netanyahu segera membuat kesepakatan dengan Hamas sehingga para sandera bisa berkumpul kembali dengan keluarga.
Sementara itu, pihak oposisi mempertanyakan keputusan yang akan diambil pemerintah apakah akan terus perang atau memilih fokus pembebasan sandera.
Upaya damai Israel dan Hamas masih terus diusahakan Qatar dan Mesir. Hamas mengajukan tawaran penarikan total pasukan Israel dan mengakui kelompok ini sebagai pemerintahan di Jalur Gaza.
Namun, Netanyahu menolak persyaratan itu. Dia menilai tawaran tersebut menyia-nyiakan usaha pasukan Israel selama ini.
Israel juga disebut-sebut telah mengajukan tawaran baru. Usulan ini mencakup jeda pertempuran dua bulan dan pembebasan seluruh sandera secara bertahap.



Didesak Mundur
Netanyahu makin tersudut usai mengusulkan sejumlah tawaran gencatan senjata dengan Hamas Palestina.
Al Jazeera melaporkan makin banyak pihak di Israel mendesak Netanyahu mundur, terutama keluarga 137 sandera warga Israel yang sampai saat ini masih ditahan Hamas di Gaza.
Koalisi Netanyahu disebut-sebut semakin terpecah dan tidak satu suara terutama dalam menangani agresi Israel di Palestina. Tak hanya di dalam pemerintahan, desakan terhadap Netanyahu agar mundur juga muncul dari berbagai pihak sehingga membuat posisi sang PM kian terpojok.
Menurut laporan Al Jazeera, dalam internal pemerintah ada pihak-pihak yang tak setuju dengan langkah Netanyahu. Kondisi ini tercermin saat pembahasan kesepakatan pembebasan sandera Hamas sejak November lalu.
Ketika itu, Israel dan Hamas sepakat menerapkan jeda kemanusiaan selama sepekan dengan perpanjangan dua kali. Kesepakatan itu mencakup pertukaran pembebasan sandera Hamas dan warga Palestina yang dipenjara di Israel.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel melepas 240 tahanan Palestina, sementara Hamas membebaskan 107 sandera, termasuk warga negara asing.
Menurut Al Jazeera dan media lokal Israel, anggota partai sayap kanan sekaligus Menteri Keamanan Itamar Ben Gvir dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich tak setuju dengan kesepakatan dengan Hamas tersebut. Namun, Smotrich pada akhirnya mendukung langkah Netanyahu, tetapi Ben Gvir tetap menolaknya.
Desakan lain juga muncul dari oposisi terkait keputusan pemerintah apakah akan melanjutkan perang di Gaza atau fokus memulangkan sandera.
Desakan mundur kembali terdengar dari para keluarga sandera setelah Netanyahu menolak syarat negosiasi dari Hamas soal pembebasan sandera.
Hamas mengajukan syarat penarikan total pasukan Israel di Palestina dan mengakui kelompok perlawanan itu sebagai pemerintahan di Jalur Gaza.
Netanyahu menilai syarat itu mengkhianati upaya pasukan Zionis dan operasi militer.
"Kami menolak syarat penyerahan pasukan yang diminta Hamas. Kami tak bisa menjamin keselamatan warga kami jika kami menerima ini," ujar PM Israel.
Melihat situasi tersebut, jurnalis Al Jazeera Hamdah Salhut menilai tujuan-tujuan yang telah dituliskan militer Israel, sejak awal agresi tak bisa tercapai secara bersamaan.
Netanyahu sempat bersumpah tak akan berhenti perang sampai Hamas musnah dan bakal membawa sandera. Namun, komitmen soal sandera ini agaknya pudar.
"Mungkin Israel harus mempersiapkan diri untuk melakukan penarikan total dan mengakhiri perang," kata Salhut di laporan Al Jazeera. (**)



SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru