Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 27 Februari 2026

Ibu dan 3 Anaknya Tewas dalam Kebakaran di Karo

- Kamis, 03 Desember 2015 10:06 WIB
781 view
Ibu dan 3 Anaknya Tewas dalam Kebakaran di Karo
SIB/Marlinto Sihotang
TERBAKAR: Rumah yang dihuni Marneta boru Sembiring di Desa Sempajaya Berastagi terbakar, Rabu (2/12).
Tanah Karo (SIB)- Peristiwa memilukan terjadi di Jalan Pekong Dusun 3 Desa Sempajaya Kecamatan Berastagi Kabupaten Karo. Satu keluarga terdiri dari ibu dan dua anak yang masih balita serta bayinya tewas terbakar di dalam rumah kontrakan sekira pukul 06:40 Wib, Rabu (3/11).

Keempat korban bernama Marneta beru Sembiring Depari (30), Zesika Sitepu (5), Zehan Sitepu (3) dan Zeriko Sitepu (1 bulan). Api sementara diduga berasal dari dapur rumah korban dan dengan cepat menyambar bangunan rumah yang terbuat dari dinding tepas dan triplek.

“Sekira pukul 06:30 Wib (Zakaria Sitepu) suami Marneta datang kemari memesan teh susu dan membeli rokok. Tapi belum sempat aku buatkan teh susunya, tetangga di sebelah rumahnya teriak kalau rumahnya terbakar. Ya langsunglah dia berlari menuju rumahnya untuk menyelamatkan istri dan anak-anaknya. Namun gak sempat lagi, karena api sudah membesar,” ujar Muliani (48) pemilik warung kopi Villa Bukit Mas yang jaraknya tak jauh dari rumah korban kepada wartawan.

Menurutnya, dua rumah yang terbakar itu milik Ngolu Sitanggang (70) dan Det beru Sembiring Depari (60) penjaga Vihara. Satu unit dikontrak Zakaria Sitepu dan satunya lagi dihuni Mama Ogah bersama suami dan cucunya bernama Deny (17) siswa SMK Berastagi.

Mantan Kades Sempajaya Bantu Purba ketika ditemui di sela-sela acara penguburan keempat korban di Losd Desa Sempajaya mengatakan, korban merupakan pengungsi erupsi gunung Sinabung berasal dari Desa Sukanalu Kecamatan Namanteran dan ditempatkan di Posko Gedung Serbaguna KNPI Kabanjahe. "Karena korban (Marneta beru Sembiring) berasal dari Desa Sempajaya, suaminya asal Desa Sukanalu, maka mereka tinggal di desa ini.

Rumah itu gak dikontrak, tapi korban masih ada keterkaitan keluarga dengan pemilik rumah tersebut. Kan kasihan, udah mengungsi pula masak mau minta sewanya lagi. Lagian mereka masih punya anak kecil-kecil, jadi keluarga disini juga tak ingin mereka tinggal di posko pengungsian. Daripada ngontrak, mereka ditawari tinggal di situ,” terang Purba.

Dijelaskannya lagi, keempat korban dikuburkan sesuai dengan agama yang dianut korban (Islam). Mereka dikuburkan di pekuburan umum Desa Peceren. “Keempat korban disatukan dalam satu peti, karena posisi mayat korban sedang duduk memeluk anak-anaknya seperti sedang melindungi. Jadi gak kita pisahkan, tetap kita satukan. Sementara suaminya masih terpukul dengan kejadian ini. Belum bisa kalian (wartawan) jumpai,” ujarnya.

Dengan kejadian ini sebutnya lagi, Pemerintah Kabupaten Karo langsung terjun ke lokasi. Bupati Karo Terkelin Brahmana, Camat Berastagi dan Dinas Sosial sudah menjenguk keluarga korban.

Terpisah, Kapolres Tanah Karo AKBP Viktor Togi Tambunan melalui Kanit Reskrim Polsek Berastagi Ipda J Munteh ketika dikonfirmasi melalui telepon selulernya menyebutkan peristiwa tersebut masih dilakukan penyelidikan. “Sebab-sebab kebakaran belum bisa disimpulkan. Penyelidikan masih dilakukan, sementara ini kebakaran terjadi karena ada api yang berasal dari dapur rumah. Tadi saat kejadian, Kapolsek Berastagi dan personil bekerjasama dengan masyarakat turun ke lokasi untuk melakukan evakuasi dan olah TKP. Tidak ada barang-barang yang tersisa semua rata dengan tanah,” ujarnya.

Akibat kurangnya perhatian dan belum adanya solusi dari pemerintah pusat, provinsi maupun daerah, pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung mulai jenuh tinggal berlama-lama di posko pengungsian. Ada yang kembali ke desanya masing-masing ada juga yang tinggal di rumah-rumah kontrakan yang tak layak huni. (Dik MAS/q)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru