Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 30 Maret 2026

Maja Wijaya Ginting Minta Kesenian Etnik Diberi Ruang Atraksi Lebih Maksimal

- Rabu, 18 Juli 2018 16:31 WIB
489 view
Maja Wijaya Ginting Minta Kesenian Etnik Diberi Ruang Atraksi Lebih Maksimal
Maja Wijaya Ginting SH
Medan (SIB) -Maja Wijaya Ginting minta kesenian etnik diberi ruang atraksi lebih maksimal ketimbang seni pop yang sudah lebih memassa karena arus global. Menurutnya, kesenian etnik mengalami penurunan drastis dari semua sisi. "Kalau ada perhelatan yang sifatnya seremonial, kesenian etnik ditampilkan. Tapi bila ada iven besar yang mendatangkan artis luar, seni etnik sama sekali tak diberi ruang dan waktu," ujar mantan Kadis Pariwisata Karo tersebut di Sekretaris Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Persatuan Indonesia (Perindo) Sumut, Selasa (17/7).

Menurutnya, secara 'tak sengaja' kesenian etnik 'terpinggirkan' karena memposisikan warisan leluhur sebagai hal skaral. Ia menunjuk dalam industri pariwisata yang cenderung tidak maksimal melestarikan kesenian etnik. "Jika ada iven seremonial industri kepariwisataan, baru ditampilkan kesenian etnik. Tapi jiga kegiatan pariwisata yang biasa-biasa, ditampilkan kesenian pop," ujarnya.

Maja Wijaya Ginting pun menunjuk pada warisan leluhur terkait religi. Ia menunjuk pada Masjid Azizi yang tak dapat dipisahkan dari keseniat etnik Melayu. "Saya ingin sekali ada atraksi kesenian rutin di sekitar masjid. Minimal, bila ada wisatawan religi maka disodohkan juga kesenian Melayu yang identik dengan masjid tersebut," ujar mantan Kabag Hukum Pemkab Langkat tersebut.

Menurutnya, Masjid Azizi adalah masjid peninggalan Kesultanan Langkat yang berada di kota Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara yang merupakan ibukota kesultanan Langkat pada masa lalu. Masjid yang dibuka 13 Juni 1902 itu sangat spektakuler sejak dahulu hingga ke depannya. Dari Langkat, ujarnya, lahir pujangga besar yang Pahlawan Nasional yakni T Amir Hamzah. "Begitu agungnya karya T Amir Hamzah. Dalam maksud melestarikan karyanya, sangat indah jika bersamaan disguhkan kesenian Melayu," ujarnya.

Pria kelahiran Desa Pasar IV Namoterasi, Sei Bingai, Langkat yang menamatkan SD Namuterasi dan SMPN 2 Binjai serta SMA Ksatria 2 Medan itu berharap dengan cara itu maka generasi muda bangsa paham akan warisan leluhur. "Ketika berdinas di Karo, saya mengajak dan terus mengimbau seluruh komponen untuk melestarikan kesenian etnik Karo," ujarnya.

Kini, ketika sudah purnabakti dan kembali ke kampung halamannya, bertekad melestarikan kesenian etnik sesuai akulturasi budaya. "Jika di Langkat dengan warga mayoritas Melayu, maka kesenian Melayu ditampilkan. Saat ada akulturasi budaya,s eperti KAro, maka semua ditampilkan," tutupnya. (T/R10/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru