Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Januari 2026

Putar Film Nusantara di Beijing, China Ingin Restorasi Film Kuno Indonesia

- Kamis, 20 September 2018 22:21 WIB
453 view
Beijing (SIB) -Badan Arsip Film China (CFA) menawarkan kerja sama restorasi film kuno pada Indonesia untuk memberikan edukasi kepada generasi millenial nasional. Tawaran itu menyusul pemutaran 4 film Nusantara di Beijing.

Kepala Bidang Festival Internasional dan Diplomasi Luar Negeri Badan Perfilman Indonesia (BPI) Dimas Jayasrana di Beijing, Rabu, (19/9) mengatakan, China punya teknologi dan telah merestorasi ratusan film. CFA yang memiliki studio dilengkapi perangkat teknologi mutakhir mampu merestorasi 200 judul film dalam satu tahun. "Kita sampai saat ini saja baru bisa merestorasi lima judul film kuno," ujarnya di sela-sela mendampingi Deputi Pemasaran Luar Negeri Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Joshua PM Simandjuntak ke Ibu Kota China itu.

CFA juga memiliki gudang penyimpanan film-film kuno. Dari ratusan film yang telah direstorasi, film paling tua buatan tahun 1921.

Sebelumnya, Indonesia merestorasi 5 filmnya di antaranya 'Lewat Djam Malam' karya Asrul Sani pada 1954 dan 'Tiga Dara' karya Usmar Ismail pada 1957.

Menurutnya, biaya restorasi film kuno di Indonesia yang bisa mencapai Rp4 miliar tidaklah mahal, terutama jika dikaitkan dengan edukasi kepada generasi millenial. "Kalau buat 'film sampah' saja yang menghabiskan Rp10 miliar kita bisa, kenapa Rp4 miliar karya terbaik bangsa tidak bisa?" ujarnya.

Film yang diputar di beberapa gedung bioskop di China pada 21-22 September 2018, disesuaikan dengan kebudayaan setempat yakni Cek Toko Sebelah, Kartini, 'Sweet 20' dan 'Galih dan Ratna'.

Keempat judul film tersebut hasil seleksi ketat pihak CFA dengan pertimbangan kesamaan budaya Indonesia-Cina, pemberdayaan kemanusiaan, dan kisah romantisme anak manusia.

Namun dari keempat judul film tersebut, pihak CFA menganggap film Kartini mampu menginspirasi kaum perempuan muda dalam memperjuangkan hak-haknya dan melawan penindasan kolonialisme. "Kami hanya memiliki kuota 10 judul film asing yang bisa diputar di sini dalam satu tahun," kata Deputi Direktur CFA Zhang Xiaoguang saat menerima delegasi Indonesia yang difasilitasi oleh Red and White China.

Red and White China sebagai lembaga yang menjembatani pertukaran budaya Cina-Indonesia menginisiasi pemutaran keempat judul film nasional di negara berpenduduk terbesar di dunia itu. 

Tentang restorasi, Direktur Humas CFA Li Tao menyatakan bersedia memboyong teknologi restorasi film kuno ke Indonesia. "Di sini untuk satu judul film saja yang direstorasi biayanya sekitar Rp600 juta dengan membutuhkan waktu sekitar dua pekan," katanya. (T/Ant/R10/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru