Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 04 Mei 2026

Markus Horo dan Festival Kearifan Lokal Sambut HUT Republik Indonesia

- Selasa, 12 Agustus 2014 13:02 WIB
525 view
Markus Horo dan Festival Kearifan Lokal Sambut HUT Republik Indonesia
Medan (SIB)- Menjelang bulan ketiga di Sumut, Markus Horo SH sudah hampir paham tentang tradisi multi etnis di provinsi bertetangga dengan Aceh ini bila menyambut hari ulang tahun (HUT) Republik Indonesia. “Ada agenda pecinta alam mendaki Gunung Sinabung merayakan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Sebagian anak muda di Danau Toba memperingati Kemerdekaan Indonesia dengan menyelam,” ujar Kepala Cabang PT (Persero) Jasa Raharja Sumut itu usai menyerahkan bantuan mobil ambulans yang diterima Kepala Rumas Sakit Dam I Bukit Barisan Medan, Senin, (11/8). “Saya sebagai anak Indonesia, menyemangati dan harus mendukung semua kegiatan untuk membangkitkan nasionalisme dalam maksud memupuk dan melestarikan!”

Walau tergolong baru di daerah ini tapi pria yang kadang seorangan di Medan sebab istrinya mengurusi anak di Bogor tersebut mampu dan berhasil membumi dengan warga setempat. “Dalam setiap langkah, saya memegang keyakinan seperti dalam Markus 9:23 itu,” ujarnya sambil mengurai nats Tidak Ada yang Mustahil Bagi Orang yang Percaya.

Melalui nats tersebutlah Markus Horo mengisi hari-hari di tengah kerja yang bejibun. Menyesuaikan dengan irama kerja sesuai tradisi di daerah ini, pria yang sudah berdinas di hampir seluruh daerah Indonesia tersebut menggali kearifan lokal dalam setiap langkahnya. “Kekayaan Papua sangat luar biasa, mulai dari bumi dan kebudayaan. Bahkan saat Agustus, warga antusias menyambut hari yang paling bersejarah bagi warga di Nusantara.”

Sama seperti di Nusa Tenggara Timur, asal Markus Horo. Di Pulau Flores untuk memperingati HUT Kemerdekaan RI, ragam pesta diadakan berlangsung antara lain danding, mbata, sae dan Tari Caci. Di Pulau Sumba yagn terkenal dengan kuda liar, ada balapan kuda kelas nasional yang rutin digelar di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat.

Tak jauh dari lokasi tersebut ada pesta Pasola yakni perayaan tradisi ini berawal dari Wanokaka, Loli dan Wewewa. Acara digelar sebagai ungkapan syukur atas berlimpahnya hasil panen. “Pasola yang satu ini biasa berlangsung di tengah-tengah sawah,” jelas Markus Horo sambil mengatakan warga Nusa Tenggara Timur yang hidup dan tersebar di 566 pulau dengan ragam bahasa mampu melestarikannya. “Generasi muda pun diharap melestarikan kearifan lokal masing-masing untuk kejayaan Republik Indonesia!” (r9/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru