Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 18 April 2026

Kidung 'Hidup Ini Kesempatan' dalam Ritual Budaya Etnik Satya Girsang

Redaksi - Selasa, 28 Januari 2020 19:00 WIB
712 view
Kidung 'Hidup Ini Kesempatan' dalam Ritual Budaya Etnik Satya Girsang
Foto: SIB/Dok
Satya Naftaly Girsang
Medan (SIB)
Satya Naftaly Girsang merasa kehidupannya masih ‘pincang’ jika belum menginspirasi lingkungannya ke arah lebih baik. Pria kelahiran Seribudolok, 12 Juni 1935 itu meyakini bahwa janjiNya pasti tergenapi seperti Amsal 16:31. “Uban itu menjadi mahkota agung di kerajaanNya,” jelasnya di Medan, Senin (27/1).

Pria yang masih gagah dengan pendengaran, penglihatan dan suara berintonasi itu melafalkan isi nats tersebut, ...Rambut putih adalah mahkota yang mulia, yang didapat pada jalan kebenaran. Rambut yang beruban ialah mahkota yang mulia, yang didapati pada jalan kebenaran.

Memegang teguh amanat orangtuanya, Tuan Padiraja Girsang - Kontaihur Br Saragih, ia pun berhasrat agar keturunannya mengikuti alur kehidupan yang diberkatiNya. “Orangtua saya terus mengingatkan, berpeganglah padaNya. Jangan sekali-kali mengambil, apalagi menikmati apapun yang bukan hakmu,” ingatnya.

Petuah orangtuanya dikolaborasikan untuk melayani sesama seperti yang diajarkanNya. “Seperti syair ‘Hidup Ini Adalah Kesempatan’ yang mengharap agar seluruh pribadi dipakaiNya,” sebut pria yang bermahkota Raja Silimakuta III tersebut.

Sambil mengidungkan ‘Hidup Ini Adalah Kesempatan’, ia mengingatkan seluruh tumpah darah di Tanah Air untuk menjayakan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) serta jangan berpikir yang ‘aneh-aneh’. “Sesuai Roma 13:4, Alkitab mengajak manusia tunduk pada pemerintah yang sah dan Rasul Paulus kembali menegaskan bahwa pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu,”
paparnya mengulang nats yang mengharuskan semua orang takluk pada pemerintahan yang sah sebagai perwakilan Yang Kuasa di bumi.

Menurutnya, dengan memahami dan mengamalkan seperti syair ‘Hidup Ini Adalah Kesempatan’ tersebut ia yakin nats Lukas 10:20 akan tergenapi pada manusia. Ayat tersebut berisi ... bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga. “Bagaimana nama kita mau terdaftar jika tidak mengikuti perintahNya,” tegasnya.

Dalam kehidupan berketuhanan, ia menegaskan tentang ritual berakhlak dan adab dalam kehidupan sosial. Satu di antaranya dengan memedomani kehidupan sesuai falsafah leluhur.

Sebagai penerus keturunan Raja Silimakuta Purba Girsang, ia memadukan tuntunanNya dengan adat budaya sebagai sumber filosofi seperti yang disimpulkan dalam pertemuan Forum Silaturahim Keraton Nusantara tersebut di Sumenep dan di Padang. “Dalam pertemuan Silaturahim Keraton Nusantara tersebut, semuanya berbulat hati untuk melestarikan warisan budaya menjayakan NKRI. Menggenapi sikap itu, sebagai pribadi, harus berpegang padaNya,” tutupnya. (R9/q)

SHARE:
komentar
beritaTerbaru
Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Iran Kembali Tutup Selat Hormuz

Teheran(harianSIB.com)Militer Iran menyatakan Selat Hormuz kembali ditutup pada hari Sabtu (18/4/2026). Hal ini disampaikan komando militer