Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Soprano dari Jawa dan Bali Isi Konser Requiem KV 626 Wolfgang Amadeus Mozart di Medan

- Selasa, 18 November 2014 11:42 WIB
680 view
 Soprano dari Jawa dan Bali Isi Konser Requiem KV 626 Wolfgang Amadeus Mozart di Medan
Medan (SIB)- Sejumlah penyanyi konser kelas dunia asal Jawa dan Bali mengisi konser bertajuk Requiem KV 626 Wolfgang Amadeus Mozart di Medan. Di antara para soprano dan mezo sopran itu adalah Pharel Jonathan Johannes Silaban, Christine Theodosia Lubis dan Heny Janawati serta Ferry Chandra. Para artis tampil dalam maksud memeriahkan perayaan memasuki 25 tahun pengabdian Paduan Suara (PS) Consolatio yang diadakan pada Sabtu, 22 November 2014 di Gelanggang Mahasiswa USU Jalan Universitas Kampus USU Medan. Konser pun ditujukan pada publik tentang konsistensi Consolatio dalam dunia PS di Tanah Air.

Pendiri dan sekaligus konduktor konser Ir Tony Siagian dan Armanda Sitompul ST mengurai, konser yang mengetengahkan karya besar Wolfgang Amadeus Mozart yaitu Requiem KV 626 itu pun dimaksudkan bahwa di daerah ini ada PS yang mampu mewujudkan karya kelas dunia.

Sebelumnya, Armanda Sitompul ST dan Kesatria Sipayung ST memastikan, kehadiran para artis konser dari luar Sumatera dalam kaitan memberi suguhan yang tidak pada biasanya dalam penampilan rutin PS Consolatio di akhir tahun. “Christine Theodosia Lubis, Heny Janawaty, Pharel Jonathan Johannes Silaban dan Ferry Chandra adalah para penyanyi pemilik suara sopran dan mezo sopran,” jelasnya sambil menjelaskan sebagaimana layaknya satu pertunjukan konser yang mengadopsi kualitas kelas dunia, pengunjung diminta mengikuti tata tertib satu konser.  “Untuk ketertiban menyaksikan satu konser yang menyuguhkan lagu kelas dunia, penonton diwajibkan mengikuti tata aturan konser. Informasi dan registeriasi menyaksikan acara dimaksud melalui Kesatria Sipayung ME di 081396682150 dan Hizkia Pasaribu 085360100174,” tulis email Armanda Sitompul.

Christine Theodosia Lubis kelahiran Tanjungbalai 1 Desember 1981. Memperdalam pengetahuan vokalnya di Institut Kesenian Jakarta hingga tahun 2003 di bawah bimbingan maestra Catharina Wiriadinata Leimena. Soprano tersebut semakin terlatih dengan konser kelas Asia dan dunia.

Yang menghentak adalah Pharel Jonathan Johannes Silaban. Berdarah Batak dan lahir di Medan pada 19 Februari 1991 tapi tenoris itu ngetop dan lebih banyak mengabdi dari Jakarta. Apalagi Aning Katamsi sebagai pembimbingnya mengharuskan binaannya tetap kontiniu tampil.

Dalam karier pementasannya, Pharel  pernah membintangi Mendadak Kaya karya dari Ananda Sukarlan yang telah dipertunjukkan di Jakarta dan Bandung.
Christine Lubis pernah mengikuti beberapa master kelas vokal dari Italia dan Portugal seperti Nunzia Santodirocco dan Massimilano Damato di tahun 2003. Heny Janawaty tak jauh beda.

Mezzo-soprano yang selalu mengisi konser orkestra dunia di Indonesia itu, dalam pertunjukan Requiem KV 626 Wolfgang Amadeus Mozart di Medan akan menjadi solist alto.

Perempuan yang memulai karier dari Denpasar, Bali itu pernah menangis gara-gara Carmen karya musikus Prancis, Georges Bizet, yang pertama dipentaskan pada 1875 di Paris. Saat itu, Heny Janawaty menjadi bintang dalam menampilkan pementasan tersebut.

Ferry Chandra juga punya catatan gemilang sebagai arsitek dan solois bass-baritone. Pria kelahiran Bandung, Jawa Barat itu belajar vokal dari Tommyanto Kandisaputra dan Catharina Wiriadinata Leimena. Pencapaian dalam pementasannya saat berperan sebagai Marcello di Puccini Opera La Boheme dengan Susvara Opera Company dan opera lain seperti  II Trovatore dari Verdi sebagai Count Di Luna dan sebagai Death dari Holst "Svitri".

Tetapi catatan gemilangnya ketika Ferry Chandra menyanyikan arias yang paling besar karya Mozart Opera. (rel/r9/f)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru