Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 03 April 2026

5 Film Indonesia Paling Populer dan Terbaik 2014

- Minggu, 04 Januari 2015 16:05 WIB
1.053 view
Jakarta (SIB)- Ada seratusan lebih film Indonesia rilis tahun 2014 namun 5 di antaranya paling populer dan masuk jajaran terbaik:

Senyap (Sutr. Joshua Oppenheimer)


Walau dikerjakan orang asing, Joshua Oppenheimer (sebelumnya membuat Jagal/The Act of Killing, 2012), Senyap atau The Look of Silence tak mungkin selesai tanpa kru-kru tak bernama asal Indonesia yang ikut mengerjakan film ini bareng Oppenheimer. Mereka hingga kini masih tak ingin identitasnya diungkap. Hal ini menimbulkan ironinya sendiri: bangsa ini rupanya belum bisa beranjak dari trauma atas malapetaka tragedi 1965.

Di film Senyap kita melihat kerabat korban pembunuhan mencari tahu apa yang terjadi saat malapetaka itu berlangsung, termasuk bertemu para pelaku pembunuhan. Di film, kita melihat sebuah upaya rekonsiliasi nyata tengah dipertontonkan.

Tabula Rasa (Sutr. Adriyanto Dewo)

Film ini belum sampai tahap food-porn. Dan memang rasanya tak diniatkan begitu. Yang lebih menonjol adalah kisah persahabatan antara Hans (Jimmy Kobogau) yang asli Papua dan Emak (Dewi Irawan) pemilik rumah makan Padang. Kisah mereka menjadi titik paling bercahaya dalam film ini. Kita merasakan hubungan ibu dan anak yang khas antara keduanya. Hans menjadi pengganti anak bagi si Emak.

Debut sutradara Adriyanto Dewo ini sebuah tontonan yang menyenangkan. Mengatakan nonton film ini bikin lapar, atau ingin ke restoran Padang usai nonton film ini, sejatinya mengerdilkan esensi film ini. Tabula Rasa lebih dari sekadar film tentang masakan. Ia film tentang manusia, tentang kita.

Selamat Pagi, Malam (Sutr. Lucky Kuswandi)

Di Jakarta pada suatu malam kita bertemu tiga sosok wanita: Ci Surya (Dayu Wijanto), Gia (Adinia Wirasti), dan Indri (Ina Panggabean). Film ini berkisah tentang mereka. Namun, film karya kedua Lucky Kuswandi (sebelumnya membuat Madame X, 2010) ini bukan tentang wanita paruh baya yang mengetahui suaminya yang sudah meninggal punya selingkuhan; bukan juga tentang cinta lama bersemi kembali di antara pasangan lesbi; serta bukan pula soal nasib seorang perempuan yang tengah mencari cinta.

Ini adalah film tentang kita, manusia Jakarta kiwari. Di antara ketiga tokoh utama kita terselip banyak komentar sosial. Dan ketika pagi tiba, saat ketiganya mengucapkan "selamat pagi" pada malam yang telah mengubah hidup mereka, kita pun mengucap selamat atas tontonan yang bagus.

Cahaya dari Timur: Beta Maluku (Sutr. Angga Dwimas Sasongko)

Film ini membuktikan satu hal: kisah inspiratif rupanya masih belum basi untuk jadi film. Entah sudah berapa film inspiratif menghiasi layar bioskop kita sejak Laskar Pelangi sukses besar tahun 2008 silam. Lebih banyak yang kemudian dibuat asal jadi, sekadar ingin menginspirasi (entah ingin membuat nasionalisme tergugah atau ingin meraih cita-cita setinggi langit), namun tak betul-betul menjadi tontonan yang baik sebagai karya sinema.

Yang membuat film karya Angga Diwmas Sasongko ini unggul, kita diperlihatkan sosok tokoh utama yang bukan seorang manusia sempurna. Tapi manusia biasa. Sani (diperankan dengan amat baik oleh Chicco Jericho) bukanlah seorang hero yang 100 persen serba baik. Namun, dari kelemahan dan kelebihannya itu justru kita banyak belajar.

Killers (Sutr. Mo Brothers)

Di Killers kita bertemu dua orang pembunuh. Satu di Jepang, satu lagi di tanah air. Killers mempertanyakan moralitas membunuh sambil mengulik jurang kepribadian manusia pada titik terdalam dengan pertanyaan: Benarkah ada hasrat membunuh dalam setiap orang? Film ini tidak hanya tak nyaman ditonton karena suguhannya yang sadis ataupun penuh darah. Lebih dari itu, serentetan pertanyaan tak nyaman yang digelontorkan sepanjang film sejatinya, bagi saya, lebih mengguncang. (t/r9/c)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru