Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 07 April 2026

Gebyar Old & New dengan Kesenian Etnik

- Rabu, 07 Januari 2015 17:26 WIB
464 view
Gebyar Old & New dengan Kesenian Etnik
Kacab PT Jasa Raharja Sumut Markus Horo SH - Bendahara PPM PD II Sumut Lies
Medan (SIB)- Meski jadi bagian dari syukuran Old & New 2015 namun Kepala Cabang PT Jasa Raharja (Persero) Sumut Markus Horo SH tetap mengutamakan pengeratan silaturahim dengan publik. Ketika hadir dalam pencanangan Menuju Indonesia Tertib Bersatu, Keselamatan Nomor Satu di Lapangan Merdeka Medan, Rabu, (31/12/14), pria yang belum setahun berdinas di Sumut setelah terakhir kali bertugas di Jambi itu terlibat dalam kemeriahan acara namun tetap menjalankan tugasnya sebagai pihak yang mengupayakan penekanan kecelakaan lalu lintas (laka lantas). “Kerja keras dan mengeratkan silaturahim di tahun 2015,”  ujarnya didampingi Bambang Panular dan Pahala Sirait.

Kegiatan syukuran memasuki tahun 2015 berlanjut Jumat, (2/1) yang dirangkai dengan HUT Jasa Raharja di kompleks perusahaan plat merah tersebut di Medan. Kali ini, sesuai dengan tema yang diusung, audiens adalah para mitra dan warga umum. “Tetapi yang membahagiakan saya dan keluarga besar Jasa Raharja, para senioren yakni pensiunan karyawan Jasa Raharja, hadir. Tidak sekadar nostalgia, tapi peremuan antara orangtua dan anak,” ujar Markus Horo yang begitu aktif di kegiatan tersebut.

Memaksimalkan kibor tunggal yang diminta menghibur ratusan massa, acara dihentikan karena memberi kesempatan pada yang melakukan Salat Jumat.

Memasuki sesi kedua kegiatan setelah rehat, acara dilanjut. Markus Horo mengajak hampir seluruh para pensiunan untuk berbagi suka. Berulang kali pria familiar itu meminta instrumen lagu dengan beat dinamis. “Kita goyang. Tak sekadar goyang tapi olahraga kecil-kecilan,” ujarnya berdambingan dengan Bendara Pemuda Panca Marga (PPM) Pengurus Daerah (PD) II Sumut Lies yang juga bagian dari keluarga besar Jasa Raharja.

Hal lain yang dimaksimalkannya adalah, perkusi yang dimainkan lagu untuk membangkitkan nasionalisme dan melestarikan kesenian etnik. Dalam kesenian etnik itu ada kearifan lokal. Pria yang punya buah hati yang studi di Bogor itu menunjuk sejumlah daerah di Indonesia yang punya keunggulan etnik masing-masing.

Di Nusa Tenggara Timur, tempat kelahirannya, setiap kegiatan tetap mengetengahkan unsur etnik antara lain danding, mbata, sae dan Tari Caci. Di Pulau Sumba yang terkenal dengan kuda liar, ada balapan kuda kelas nasional yang rutin digelar di Waikabubak, Kabupaten Sumba Barat. Tak jauh dari lokasi tersebut ada pesta Pasola yakni perayaan tradisi ini berawal dari Wanokaka, Loli dan Wewewa.  “Pasola yang satu ini biasa berlangsung di tengah-tengah sawah,” jelas Markus Horo.

Pria yang sudah berdinas di hampir seluruh derah di Tanah Air itu punya keyakinan teguh dalam menjalankan tugas.  “Dalam setiap langkah, saya memegang keyakinan seperti dalam Markus 9:23 itu,” ujarnya sambil mengurai nats Tidak Ada yang Mustahil Bagi Orang yang Percaya.

Konsistensi memegang teguh padaNya dan memedomani kearifan lokal di daerah mana berdinas membuat Markus Horo menyatu dengan lingkungannya. “Para senioren, para orangtua telah menjejakkan langkah awal. Generasi sekarang harus memedomani hingga generasi muda mengestafetkan untuk melestarikan kearifan lokal  untuk kejayaan nusa bangsa!” (r9/i)

SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru