Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Usul Bentuk Densus 88 Protek Seniman, YouTube Musuh Besar Musisi Indonesia

- Senin, 25 Mei 2015 21:53 WIB
344 view
Usul Bentuk Densus 88 Protek Seniman, YouTube Musuh Besar Musisi Indonesia
Jakarta (SIB)- Penjualan album musik Indonesia saat ini tengah lesu lantaran banyaknya pembajakan melalui kepingan kaset fisik ataupun upload lagu secara digital. Menurut Giring Ganesha, salah satu musuh terbesar industri musik Indonesia adalah maraknya peredaran lagu secara digital melalui situs YouTube. "Apa sih musuh terbesar musik di Indonesia? YouTube. Karena masih ada yang upload karya orang, padahal punya DVD aslinya," kata vokalis Band Nidji itu  di Jakarta,Minggu, (24/5). Di tempat terpisah, Addie MS minta dibentuk tim sekaliber Densus 88 untuk memrotek seniman Tanah Air dan karya-karyanya.

Giring bilang, daripada memutar lagu atau menonton video klip melalui kepingan kaset, masyarakat malah lebih memilih untuk menonton di situs YouTube. "Jadi, kalau teman-teman masih mau lihat Nidji, Noah, atau Ungu, ayo stop," kata dia.

Giring menceritakan, saat pergi ke klinik gigi, dirinya tak sengaja melihat ada salah satu staf yang memutar lagu melalui situs tersebut.  "Sebenarnya, kalau kita menghargai karya anak bangsa sendiri, harusnya mulai sadar, bisa beli kaset (originalnya)," ucap pria berusa 33 tahun itu.

Di lain hal komposer dan aranjer Addie MS mengusulkan agar pemerintah membentuk semacam pasukan khusus untuk memberantas pembajakan karya cipta di industri musik. Addie mengatakan, pasukan khusus tersebut akan bertugas layaknya satuan Densus 88 yang menangani terorisme. "Enggak lain musti bikin task force (satuan tugas) seperti Densus 88. Teroris itu kan enggak kelihatan, tapi itu bisa ditekan dengan cukup baik dengan Densus 88. Narkotika (sudah) ada BNN dibentuk. Pembajakan, lebih terang-terangan, butuh pasukan khusus," kata suami vokalis Memes itu seperti disiarkan Kompasl.Com..

Addie menilai pembajakan sudah tak dapat ditolerir lagi. Menurut dia, masyarakat jangan sampai menutup mata dan menganggap pembajakan tak pernah merugikan para pelaku industri musik di Tanah Air. "Di lapak-lapak dijual bebas, itu pencurian, enggak ada yang peduli bagaimana karya itu dibuat. Kadang kami begadang, sampai enggak ada waktu sama keluarga. Keluar duit buat produksi!"

Pembajakan karya seni, terutama musik, dinilai pemimpin grup Twilite Orchestra itu memiliki dampak kerugian yang hampir sama dengan tindak terorisme, 
narkotika, dan korupsi. Banyak pihak yang dirugikan secara materi bahkan psikis. Jadi menurut Addie, Indonesia harus memiliki pasukan khusus untuk memberantas pembajakan. "Saya tadinya berharap tiap ganti pemerintahan, pembajakan tertangani secara serius. Bukan cuma musik, tapi film atau buku. Orang di sini seenak-enaknya aja. Seperti rimba raya, hutan belantara, siapa mau nyolong karya siapa, enggak ada yang peduli. Jadi musti ada pasukan khusus untuk mengatasi hal itu," tutup pira berusia 55 tahun tersebut. (t/r9/w)
 
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru