Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 31 Januari 2026
Pakar Hukum Prof Dr Budiman Ginting SH MHum:

Dari Pandangan Hukum Semua Manusia Sama

- Selasa, 24 Januari 2017 20:00 WIB
266 view
Medan (SIB) -Pakar hukum USU Prof Dr Budiman Ginting SH MHum mengatakan, kalau semua mementingkan sukunya masing-masing itu rentan terjadinya perpecahan. Dari pandangan hukum semua manusia sama dan tidak ada beda-beda, jadi sebagai pemimpin harus mampu merekat ikatan budaya di seluruh nusantara ini, mulai Sabang sampai Merauke.

"Saya setuju dengan sebutan kita darurat kebhinekaan",kata Budiman Ginting menjawab wartawan di Medan, Selasa (17/1) terkait dengan 12 Antropolog sampaikan petisi ke presiden yang  menyatakan bahwa Indonesia darurat kebhinekaan dan tingkat intoleransi tinggi.

Dunia pendidikan harus jadi benteng, agar sekte-sekte jangan muncul yang mengutamakan kelompok, etnis dan agama. Harus dipandang sama semua. Bangsa Indonesia beragam suku bangsa dan agama.Jadi pimpinan itu harus bisa jadi tolok ukur untuk menilai, bagaimana nanti dalam sebuah jabatan. Tidak membeda-bedakan suku dan agama. Harus bisa diletakkan secara fungsional.

Antropolog itu mengatakan, kalau gagal mengelola Kebhinekaan, usia Indonesia mungkin hanya tinggal 10 tahun lagi?Kata Budiman, bisa saja kemungkinan itu muncul, tapi saya kira tidak akan sampai ke arah sana. Dengan syarat, semua tokoh dan pemuka agama, tokoh masyarakat, tokoh lintas budaya, harus mengedepankan kebersamaan . Jangan hanya mementingkan kelompok saja. Ada istilah suku Jawa, "tepok selero",  artinya jangan selera dan suka kita saja kita bawa, sementara selera orang lain kita sampingkan. Harus kita usahakan kebersamaan dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dalam dialog-dialog juga sering terjadi, hanya kepentingan kelompoknya yang diutamakan. Itu tak boleh.

Kelompok-kelompok agama yang muncul juga bisa jadi pemicu, karena banyak aliran yang radikal. Ada pula yang menggalang kekuatan, yang mempererat sesama dia, ini juga salah. Lebih baik dengan pola budaya bangsa yang selama ini ada, agama bukan jadi pemecah,katanya.

Dikatakan Budiman, kita harus menjaga toleransi keanekaragaman dan keberagaman .Ini yang harus kita jaga sehingga NKRI tidak pecah. Mudah-mudahan asal kuat budaya bangsanya, saya yakin masih bisa. Kalau dibilang 10 tahun lagi, itu terlalu riskan.

Jadi sebenarnya, kalau bukan agama kita, jangan dibahas agama orang lain. Itu saja intinya. Jangan sampai campuri agama orang lain,kata Budiman.

Dikatakan Budiman ,kerukunan umat beragama, artinya saling menghargai baru bisa. Jangan mengurusi dapur orang lain.

Menurut Budiman, di perkotaan memang rentan perpecahan, kalau di pedesaan saya kira ikatan Kekerabatan masih kuat untuk mengekang setiap gesekan dari luar. Antropolog perkotaan perlu memperkuat sinerjitasnya , ilmuwan lain diajak supaya sering mengadakan dialog untuk mempererat pemahaman terhadap budaya  bangsa kita ini. Sehingga perbedaan budaya bisa menuju kekuatan yang bisa menangkis budaya-budaya luar.

Menjaga kebhinakean ini menjadi tugas  pemimpin negara, pemimpin daerah, mulai dari Presiden sampai Lurah dan semua elemen bangsa. Harus menjadi teladan dalam bersikap dan perilaku yang bisa dicontoh masyarakat luas.Juga diingatkan, agar kita punya filter terhadap media sosial yang berkembang. Selain banyak ilmu dengan medsos, ada juga yang jelek-jelek. Kita harus bisa meredam yang jelek itu,katanya. (A01/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru