Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 30 Oktober 2026

Remaja Perokok Elektrik Berpotensi Menjadi Perokok Berat

- Minggu, 20 November 2016 15:15 WIB
701 view
Remaja Perokok Elektrik Berpotensi Menjadi Perokok Berat
AS (SIB)- Kaum remaja yang mencoba rokok elektrik dikatakan tidak hanya memiliki kecenderungan mencoba rokok tembakau, namun juga berpotensi menjadi perokok berat dalam dua tahun setelah mereka mulai menggunakan rokok elektrik. Studi tersebut diungkapkan oleh peneliti dari University of Southern California yang dipublikasikan dalam Jurnal Asosiasi Kedokteran Amerika. "Studi terbaru kami menunjukkan bahwa remaja yang menghisap rokok elektrik tidak hanya mencoba rokok, namun juga berpotensi menjadi perokok aktif dan kemungkinan perokok berat," demikian ungkap Adam Leventhal, direktur Laboratorium Emosi dan Kecanduan Universitas Southern California, Minggu (13/11).

Rokok elektrik adalah alat yang menguapkan cairan, yang biasanya mengandung nikotin dan komponen rasa. Kegiatan menghisap rokok elektrik umumnya disebut vaping.

Hasil studi terbaru tersebut didapat melalui penelitian terhadap 3.084 pelajar di 10 Sekolah Menengah Atas (SMA) di Los Angeles yang ikut dalam dua survei pada musim gugur dan musim semi. Pada awal studi, ada 2.075 (67%) pelajar mengaku mereka tidak pernah mencoba rokok elektrik. Sekira 730 pelajar lainnya (23%) pernah menghisap rokok elektrik dan 133 pelajar mengaku menghisap rokok elektrik dua hari dalam 30 hari sebelumnya. Sementara 146 remaja (5%) mengaku menjadi pengguna rutin rokok elektrik, yang berarti mereka menghisap rokok elektrik lebih dari tiga hari dalam beberapa bulan terakhir
Satu dari lima pelajar yang pada awal studi memiliki kebiasaan merokok elektrik, belakangan ternyata menghisap rokok tembakau setidaknya tiga kali per bulan pada akhir periode studi. Sebanyak 12 persen dari perokok elektrik rutin ternyata juga merokok tembakau setidaknya satu hari dalam sebulan. Secara keseluruhan, prevelansi (kelaziman) merokok elektrik dan perokok tembakau masih rendah.

Temuan ini didapati setelah para periset melakukan survei di sekitar 300 sekolah menengah atas di wilayah California selatan. Pada tahun 2014, sekitar setengah dari jumlah murid tersebut mengatakan bahwa mereka telah mencoba rokok elektrik. Pada survei lanjutan di tahun 2015, tercatat bahwa 40 persen dari jumlah siswa tersebut telah mencoba rokok elektrik, dan menjadi perokok aktif setahun kemudian.

Setelah menyesuaikan dengan data gender, etnik dan tingkat pendidikan orang tua, para periset memprediksi bahwa remaja usia belasan yang mencoba rokok elektrik mempunyai kesempatan enam kali lebih banyak untuk merokok tembakau, dari pada mereka yang tidak pernah mencoba rokok elektrik sama sekali. Ketika para periset melihat remaja-remaja yang mengatakan tidak mempunyai keinginan untuk merokok tembakau, pada survei pertama, maka risiko ketertarikan mereka untuk mengganti rokok elektrik dengan tembakau sepuluh kali lebih besar, dibanding dengan mereka yang tidak pernah mencoba vaping.

Dikutip dari Reuters, kepala penelitian Jessica Barrington-Trimis mengatakan risiko remaja yang tertarik untuk merokok, tidak hanya terjadi pada remaja yang memang ingin mencoba merokok tembakau langsung. Survei ini sendiri menggunakan siswa kelas 11 dan 12 sebagai partisipan, dengan usia tertua 18 tahun.

Tahun lalu, The American Academy of Pediatrics telah merekomendasikan agar rokok elektrik atau vaping dibuat dengan aturan yang sama dengan produk-produk tembakau. Hal itu diajukan karena kekhawatiran rokok elektrik akan menggiring remaja untuk merokok tembakau secara aktif, dan dampak negatifnya terhadap otak. Bulan lalu, Badan Pengawasan Obat dan Makanan Amerika juga telah membuat aturan yang melarang penjualan rokok elektrik kepada pembeli di bawah usia 18 tahun.

Meski begitu, seorang profesor dari Boston University School of Public Health, Michael Siegel, mendukung penilaian bahwa rokok elektrik dapat menjadi cara para perokok konvensional untuk berhenti. Siegel mengatakan, tidak sepakat dengan studi ini karena penelitian ini tidak membuktikan rokok elektrik menjadi pemicu para remaja untuk mencoba rokok reguler.

Siegel, yang tidak terlibat dalam studi ini, melihat bahwa survei pertama yang dilakukan tidak menjelaskan mengenai berapa banyak remaja yang menggunakan vaping, namun hanya menanyakan apakah mereka telah menggunakan rokok elektrik. "Yang mungkin terjadi adalah anak-anak (yang menjadi partisipan) ini bukanlah pengguna vaping ruting, makanya mereka beralih ke rokok sebenarnya. Kalau mereka secara reguler menggunakan vaping, mereka tidak akan beralih ke rokok tembakau," kata Siegel.

Menurut laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, penggunaan rokok elektrik meningkat pesat di antara remaja Amerika dalam beberapa tahun terakhir. Kepopulerannya bahkan melampaui produk rokok tembakau yang banyak dihisap kawula muda. Diperkirakan, sekira 3 juta pelajar kelas menengah dan atas menggunakan produk rokok bertenaga batre tersebut tahun lalu. (Rtr/R17/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru