Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Oktober 2026

Divonis Cuci Darah, Haruskah Dilakukan Seumur Hidup?

* Hati-hati, Obesitas Bisa Picu Penyakit Ginjal Kronis
- Minggu, 12 Maret 2017 22:17 WIB
267 view
Jakarta (SIB)- Saat seseorang 'divonis' cuci darah oleh dokter, apakah itu artinya seumur hidup harus menjalani cuci darah? Yuk simak penjelasan dokter.
"Cuci darah itu seperti obat. Jadi seseorang dengan gagal ginjal, ibaratnya seperti knalpot yang mesinnya rusak, bahan berbahaya nggak bisa keluar. Karena itu mengeluarkannya dengan cuci darah," ujar dr Akbari Wahyudi Kusumah, SpU dari RS Mayapada Lebak Bulus di sela-sela live chat 'Ginjal dan Permasalahannya' di  Jl Warung Jati Barat Raya, Jakarta Selatan, Rabu (8/3).

Dengan cuci darah, sambung dr Akbari, maka ginjal yang keracunan cepat pulih. Nah, harus dicari tahu dulu penyebab kerusakan ginjal dari pasien tersebut. Pada gagal ginjal akut, dikelompokkan berdasarkan lokasi pada saluran kemih yang mengalami gangguan yaitu penyebab pre-renal, renal dan post-renal.

"Gagal ginjal pre-renal terjadi di luar ginjal, yang mana karena gangguan di organ lain seperti jantung, hati, maupun usus. Jika masalah di organ lain teratasi maka kondisinya bisa pulih. Hanya dengan cuci darah sekali, biasanya sudah membaik kalau masalah di organ lain sudah diobati," terang dr Akbari.

Pada gagal ginjal renal, maka ginjalnya yang bermasalah karena toksin. Ini bisa karena obat, misalnya penggunaan obat anti-nyeri yang berlebihan, obat transplantasi dan antibiotik. Kata dr Akbari, di obat-obat tertentu memiliki zat kontras yang bisa mengganggu ginjal, akan tetapi ini sifatnya hanya sementara.
"Yang bahaya itu pada orang yang gampang sekali konsumsi obat anti-nyeri, di mana minum obat anti-nyeri seperti makan kacang. Nyeri mens, langsung minum. Sakit kepala sedikit, langsung minum," lanjut dokter berkacamata ini.

Selain itu, pada orang dengan penyakit otoimun di mana ginjal menyerang tubuhnya sendiri, mereka harus menjalani cuci darah terus-menerus. Kondisi otoimun ini penyebabnya masih belum diketahui.

"Pada gagal ginjal post-renal, terjadi disaluran kencing setelah ginjal, disebabkan faktor-faktor yang mempengaruhi aliran urine, karena ada sumbatan di salurannya," tutur dr Akbari.

Untuk itu dokter akan mengatasinya antara lain dengan membuat saluran baru ataupun membersihkan batu-batu di saluran yang menyumbat.

"Jadi cuci darah itu tergantung penyebabnya masing-masing. Cuci darah itu untuk membuang racun akibat kegagalan fungsi ginjal, bukan memperbaiki ginjal," sambung dr Akbari.

Hati-hati
Obesitas berkaitan dengan banyak masalah kesehatan. Salah satunya yakni gangguan pada ginjal yaitu penyakit ginjal kronis (PGK).

"Obesitas berpotensi menyebabkan gangguan kesehatan seperti penyakit diabetes dan hipertensi. Nah, dua penyakit ini merupakan faktor risiko dari PGK," kata dr Dharmeizar Sp PD-KGH selaku ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI).

"Ada perubahan di mana penyebab PGK awalnya karena radang ginjal. Tapi sekarang dikarenakan diabetes dan hipertensi," sambung dr Dharmeizar dalam acara peringatan Hari Ginjal Sedunia oleh International Society of Nephrology dan International Federation of Kidney Foundation di Hotel Hermitage, Jalan Cilacap, Menteng, Rabu (8/3).

Nah, untuk menghindari PGK, langkah yang bisa dilakukan yakni dengan mencegah obesitas melalui penerapan menjalani gaya hidup sehat. Tak lupa, dr Dharmeizar mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran tubuh dengan olahraga teratur.

Dalam kesempatan sama, Kasubdit Penyakit Jantungd an Pembukuh Darah, Direktorat P2PTM Kemenkes RI, dr Zamhir Setiawan MEpid mengatakan peningkatakan gaya hidup sehat sudah digalakkan Kemenkes melalui program 'Cerdik'.

"Cek kesehatan berkala, enyahkan rokok dengan membatasi tempat rokok, rajin aktivitas fisik. Lalu diet sehat dengan kalori seimbang, istirahat cukup dan kelola stres dengan komunikasi terhadap diri sendiri," kata dr Zamhir. (Detikhealth/c)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru