Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Januari 2026

Kenali 5 Faktor Risiko Kanker Paru, Salah Satunya Merokok

- Minggu, 18 November 2018 13:24 WIB
879 view
Jakarta (SIB) -Data GLOBOCAN 2018 mencatat setidaknya ada 2.088.849 kasus baru dan 1.761.007 kematian akibat kanker paru di seluruh dunia baik pada pria maupun wanita. Di Indonesia, sebanyak 22.440 kasus baru kanker paru atau 18 persen dari keseluruhan kasus kanker ditemukan tertinggi pada pria.

Merokok menjadi penyebab utama dari kanker ini, baik pada perokok aktif maupun perokok pasif. Selain merokok, ada beberapa faktor lainnya, beberapa bisa dikendalikan seperti berhenti merokok misalnya, dan yang lainnya tak bisa dikendalikan seperti riwayat keluarga.

Baru-baru ini Nita Octobijanthy, istri komedian Indro Warkop diberitakan meninggal karena kanker paru yang lama diidapnya. Dirangkum dari beberapa sumber, berikut faktor risiko kanker paru:

Walau kanker paru juga bisa terjadi pada orang yang tidak merokok, namun sebagian besar kanker paru disebabkan oleh merokok. Semakin banyak dan semakin lama seseorang merokok, semakin tinggi pula risikonya terkena kanker paru. Perokok pasif juga memiliki risiko yang sama besarnya seperti perokok aktif.

Para dokter percaya bahwa rokok dapat merusak sel-sel yang berada di dalam paru-paru. Saat seseorang menghirup asap rokok yang penuh dengan zat pemicu kanker atau karsinogen, perusakan tersebut dapat langsung terjadi.

Pada awalnya mungkin tubuh mampu untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Namun jika kerusakan tersebut terjadi berulang-ulang, kerusakan pada sel-sel normal dalam paru-paru semakin meningkat. Seiring waktu kerusakan tersebut menyebabkan sel-sel jadi abnormal dan pada akhirnya bisa menjadi kanker.

Gas radon diproduksi dari pemecahan natudal dari uranium dalam tanah, batu dan air yang pada akhirnya menjadi udara yang kita hirup tiap harinya. Kadar berbahaya dari gas radon bisa berakumulasi di beberapa gedung termasuk rumah sekalipun.

Radon biasanya bergerak naik melalui tanah ke udara di atas dan masuk ke rumah melalui retakan dan lubang lain di dalam fondasi rumah. Terpapar gas ini dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan kanker paru, dikutip dari American Cancer Society.

Radon gas di udara terurai menjadi unsur radioaktif kecil (radon progeny) yang dapat menempel di lapisan paru-paru, di mana mereka dapat mengeluarkan radiasi. Radiasi ini dapat merusak sel paru-paru dan akhirnya menyebabkan kanker paru.

Selain gas radon, ada juga asbestos dan karsinogen lainnya. Lahan pekerjaan yang terpapar oleh asbestos dan zat lain yang diketahui dapat menyebabkan kanker, seperti arsenik, kromium dan nikel juga dapat meningkatkan risiko terkena kanker paru.

Risiko ini akan berlipat ganda apabila seseorang juga menjadi perokok aktif. Polusi udara yang mengandung banyak zat beracun lainnya juga bisa memicu kanker ini.

Pada semua kanker dan penyakit, umumnya risiko menjadi lebih besar apabila memiliki riwayat keluarga. Tak terkecuali kanker paru. Jika ada orangtua, saudara kandung dan anak yang memiliki kanker paru, biasanya kemungkinan seseorang tersebut terkena kanker paru jadi lebih besar.

Biasanya kasus pada pengidap kanker paru yang tidak merokok, selain terpapar asap rokok adalah akibat riwayat keluarga.

Para dokter meyakini bahwa ada kekhasan gen tertentu yang dimiliki oleh wanita Asia yang tidak merokok (atau bukan perokok aktif). Dokter ahli paru dari RS Persahabatan Jamal Zaini menjelaskan kepada detikHealth beberapa waktu lalu, bahwa banyaknya ditemukan mutasi gen Epidermal Growth Factor Receptor (EGFR) pada sel kanker bukan perokok.

Adanya mutasi ini menyebabkan kanker tak bisa lagi hanya ditangani dengan kemoterapi atau operasi. Pasien kanker harus mengonsumsi obat spesifik yaitu Tyrosine Kinase inhibitor (TIK) dalam bentuk tablet minum.

"EGFR terletak di permukaan yang mengatur pertumbuhan dan perkembangan sel. Paparan bahan pencetus kanker (karsinogen) menyebabkan EGFR tumbuh tanpa kontrol hingga menjadi sel kanker. Obat TIK berfungsi menekan laju pertumbuhan EGFR untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker," tuturnya.

Senada dengan dr Jamal, Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Prof Dr dr Aru Wicaksono Sudoyo SpPD KHOM FINASM FACP menyebut kanker paru yang diidap oleh wanita dengan dua ciri tersebut umumnya lebih ganas dan lebih sulit untuk diobati dan ditangani. Walau begitu, masih belum diketahui jelas mengapa hal tersebut terjadi, namun hal ini sedang dalam penelitian hingga sekarang.

"Itu yang kita dapatkan pada istrinya Indro 'Warkop' itu. (Kanker paru) itu sesuatu yang juga seringnya tanpa gejala, tahu-tahu sudah nyebar saja. Tidak pake batuk-batuk, sesak segala macem seperti itu," imbuh dia. (detikhealth/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru