Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 29 Oktober 2026

Kasus Zika Sudah Ditemukan di Indonesia tapi Tidak Ada Menyebabkan Kematian

- Minggu, 31 Januari 2016 16:31 WIB
720 view
Kasus Zika Sudah Ditemukan di Indonesia tapi Tidak Ada Menyebabkan Kematian
Jakarta (SIB)- Virus Zika menjadi salah satu ancaman penyakit bersumber nyamuk. Sedang mewabah di Amerika Selatan, apakah Indonesia perlu waspada?

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, drg Oscar Primadi, MPH mengatakan virus Zika memiliki vektor penularan yang sama dengan demam berdarah, yakni nyamuk Aedes aegypti. Karena itu pencegahan yang dilakukan juga tidak terlalu berbeda.

"Soal virus Zika, kita memang harus waspada. Caranya dengan pencegahan, yakni pemberantasan sarang nyamuk karena sama seperti dbd, menularnya juga lewat aedes aegypti," tutur drg Oscar dalam temu media di Kementerian Kesehatan, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (26/1).

Virus Zika merupakan bagian dari kelompok Arbovirus, dan satu keluarga dengan penyakit demam berdarah dan chikungunya. Meski begitu, tingkat keparahan dan kematiannya lebih kecil daripada demam berdarah.

Berdasarkan literatur, gejala virus Zika tergolong ringan hingga sedang. Gejala yang muncul antara lain pegal, linu, nyeri persendian dan demam. Namun temuan terbaru mengatakan virus Zika bisa menyebabkan gangguan saraf bagi janin yang masih dalam kandungan.

Direktorat Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan mengatakan kasus Zika sudah ditemukan di Indonesia, namun tidak ada yang menyebabkan kematian. Gejala yang timbul pun tidak menyebabkan pasien dirawat di rumah sakit.

Terkait banyaknya kasus Zika di Amerika Selatan, drg Oscar mengatakan tim surveilans Kemenkes sudah bekerja. Mereka melakukan pengumpulan data terkait Zika sembari meningkatkan pencegahan penularan.

"Kalau untuk penularan dari luar negeri kita tentunya ada KKP di pintu masuk pelabuhan dan bandara, itu yang kita giatkan," pungkasnya.

dr Ari Fahrial Syam, PhD, FACP dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) memaparkan sebagaimana infeksi virus pada umumnya, saat seseorang terkena virus ini akan mengalami demam mendadak dan lemas. Selain itu di kulit badan, punggung dan kaki akan muncul kemerahan. Nyeri otot dan sendi pun akan dirasakan.

"Beda dengan dengan infeksi virus Dengue, pada infeksi ini mata pasien akan merah karena mengalami radang konjungtiva atau konjungtivitis. Pasien juga akan merasakan sakit kepala," terang dr Ari dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Selasa (26/1).

Pada pemeriksaan laboratorium sederhana, lanjut dr Ari, biasanya hanya menunjukkan penurunan kadar sel darah putih. Ini seperti yang terjadi pada infeksi virus lainnya. "Berbeda dengan infeksi demam berdarah, infeksi virus Zika tidak menyebabkan penurunan kadar trombosit," tambah dr Ari.

Sementara itu masa inkubasi virus Zika hampir mirip dengan infeksi virus Dengue yaitu beberapa hari sampai satu minggu. Karena sekilas mirip DBD, seringkali infeksi virus Zika tidak terdeteksi. Bahkan gejalanya pun lebih ringan dari DBD.

Vaksin untuk virus ini belum ada. Karena itu, jika terkena virus ini, pasien disarankan istirahat dan minum yang cukup, serta makan makanan yang bergizi. Jika demam sangat menganggu bisa mengonsumsi obat penurun demam.

"Obat-obat yang diberikan hanya bertujuan untuk mengatasi gejala yang timbul yaitu jika gatal diberikan obat gatal dan jika demam diberikan obat demam," jelas dr Ari. (detikhealth/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru