Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Lestarikan Budaya Batak, Sumut Perlu Tiru Aceh, Jambi dan Jawa

* AHCP Gagasi ‘Pekan Budaya Batak’, Angkat Ulos dan Aneka Kuliner Tapanuli
- Sabtu, 29 Oktober 2016 12:33 WIB
378 view
Lestarikan Budaya Batak, Sumut Perlu Tiru Aceh, Jambi dan Jawa
Medan (SIB) -Kalangan praktisi dan pemerhati budaya Batak di daerah ini menilai Sumut perlu menggagasi gelaran khusus berupa Pekan Budaya Batak (PBB) yang diselenggarakan secara aktif rutin setiap tahunnya, baik dalam rangka penyemarakan Festival atau Pesta Danau Toba, maupun digelar secara khusus seperti Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) di Aceh, Pekan Budaya Bali dan even khusus semacamnya di Jambi, Sumbar, Jawa dan daerah propinsi lain termasuk kawasan Indonesia Timur.

Mantan Wakil Sekretaris Badan Pariwisata Daerah (Bawisda) Sumut Maranti Tobing selaku pengurus lembaga adat Batak Eko Laklak Center dan Ketua Yayasan Alam Harmoni Citra Perkasa (AHCP) Murni Huber Tobing, secara terpisah menyebutkan pelestarian nilai-nilai budaya Batak harus menjadi prioritas yang dipadu dengan pelestarian nilai kearifan lokal (local wisdom) melalui even rutin yang didukung pemerintah, masyarakat dari lintas kalangan dan profesi, serta para dunia usaha.

"Selain Pesta atau Festival Danau Toba selama ini, Sumut sudah saatnya juga menggelar even khusus pelestarian budaya berupa Pekan Budaya Batak, minimal selama sepekan. Pada even ini perlu digelar berbagai aksi atau kompetisi maupun ajak kreasi untuk menampilkan semarak produk kerajinan ulos, aksi ukir gorga, aneka tarian tradisional Batak, olah raga khas Batak, lagu-lagu Batak kuno, fotografi dan sejarah Batak dan lainnya. Bahkan juga ditampilkan aneka cerita rakyat atau dongeng Batak," papar Maranti Tobing kepada SIB, Kamis (27/10).

Sikap serupa dicetuskan Murni Tobing yang gemar berkoleksi aneka sovenir dan cenderamata hasil hasta karya Batak, bahwa berbagai menu makanan berupa penganan (aneka jenis kue) dan minuman sehat (higienis) dan halal yang diproduksi masyarakat Batak, juga perlu disajikan dalam acara Pekan Budaya Batak.
Misalnya produk kuliner seperti kue ombus-ombus, itak gurgur, dolung-dolung, lampet, nira manis, ikan dengke arsik (Na Niarsik), ikan ala sushi (Na Niura), 'tahu' susu kerbau (dali horbo), kacang garing Sihobuk dan sebagainya.

"Produk hasta karya (kerajinan tangan) dan produk makanan-minuman ini, selain akan menjadi menu publik yang halal di pasar-pasar kuliner umum atau di pusat-pusat jajanan wisata, juga akan menjadi produk oleh-oleh bagi para turis (Wisman-Wisnu) yang kembali ke negeri atau daerahnya setelah datang ke daerah ini atau ke Danau Toba," ujar Murni sembari menambahkan acara Pekan Budaya Batak itu bisa digelar secara bergiliran di ke-tujuh kabupaten sekitar Danau Toba.
Selaku kordinator Festival Kuliner Batak 2016, Murni secara khusus menyatakan prihatin karena pusat atau pasar-pasar kuliner di daerah ini kian dirambah menu-menu 'asing' yang berasal dari luar Sumut, yang membanjiri menu-menu di restoran lokal, kafe-kafe atau kantin umum dan juga warung-warung makan-minum. Demikian juga depot-depot  wisata yang lebih banyak menjual barang-barang sovenir produk daerah Jawa atau Bali. Sedangkan depot atau toko yang menjual produk Batak seperti ukiran gorga atau kreasi mandra ulos masih tampak minim.

Ke depan, untuk mendorong urgensi Pekan Budaya Batak ini, Murni juga menggagasi sistem apresiasi dalam pelaksanaan acara Pekan Kebudayaan Batak nantinya. Apresiasi itu misalnya berupa hadiah uang atau paket untuk penguatan modal produksi warga UKM bidang kuliner atau hasta karya tradisional Batak. Selain menggalang dan menggalakkan kembali potensi seni dari tradisi pengolahan kuliner atau kerajinan hasta karya tradisional, Pekan Budaya Batak juga diharapkan kian mendorong citra Batak ke kancah tingkat dunia melalui bursa dan promosi wisata nasional. (A04/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru