Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 11 September 2026

Kekuatan Warisan Leluhur dan Kesenian Nias Bertumpu pada Kearifan Lokal

- Sabtu, 14 Januari 2017 13:28 WIB
472 view
Gunungsitoli (SIB)- Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala (Sepur) Kanwil Parsenibud Sumut Dra Risma Ria Hutabarat mengatakan, kekuatan warisan leluhur Nias, mulai dari benda dari era megalitikum hingga nonbenda seperti kesenian etnik memiliki nilai eksotisme eksklusif yang tak ternilai. "Pada sisi kearifan lokal, warisan leluhur tersebut sangat berpontensi mendukung dan memperkaya ekonomi kreatif warga. Karenanya, sangat tepat jika seluruh warga, khususnya warga Nias yang berada di Nias, memeliharanya. Warga Nias yang di luar wilayah, membantu memromosikan pada publik hingga kekayaan budaya dan warisan nonbenda dinikmati maksimal," ujarnya pada seratusan masyarakat adat, penggiat seni tradisi Se-Nias di Gunungsitoli, Selasa - Rabu, (20 - 21/12). Kegiatan diadakan dalam maksud sosialisasi Kebijakan Pengelolaan Cagar Budaya seperti tertuang dalam Undang-UndangNomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Penggiat seni etnik, baik melalui kesenian pop maupun lewat adibusana berbahan tenun khas Batak itu mengatakan, masyarakat adat khususnya yang terkait langsung dengan benda cagar budaya, diharap memahami keunggulan yang dimiliki leluhurnya hingga warisan dimaksud dijaga keeksotikannya. Di kegiatan yang melibatkan penggiat budaya dari lima kabuapaten kota yang ada di Nias tersebut, bertindak sebagai  nara sumber Deni Sutrisna dari BPCB Aceh, Lucas Partanda Koestoru dari Balai Arkeolog Medan dan Martina Silaban dari Museum Provinsi Sumatera Utara. "Selain memberi masukan sesuai UU 11 tahun 2010, kegiatan pun untuk sharing, tukar pengalaman dan pendadaran pengetahuan pengelolaan warisan leluhur," ujar Risma Hutabarat.

Dalam kegiatan itu, sejumlah pertanyaan kritis dari peserta mengemuka seperti diutarakan Fa'aharo Zendrato dari Nias yang berharap kiranya dalam promosi tentang Nias, tak hanya mengekspos secara parsial. "Nias Selatan sudah demikian populer," ujarnya tapi wilayah lain bahkan Nias induk belum.

Bawamatteo Jupel dari Nias Selatan bilang, kekayaan warisan leluhur benda termasuk seni di wilayahnya demikian banyak tapi tak sedikit warganya yang tidak tahu langkah apa yang dilakukan dalam perawatan dan pelestarian warisan tersebut. Sion Harefa dari Nias Utara ingin agar warisan benda dan nonbenda yang terkait agama, sama-sama mendapat perhatian. Seperti Candi Portibi yang terus dilekatkan pada satu agama. Hal serupa diutarakan  Pendeta Fatisokhi Gea  yang ingin warisan bersejarah terkait agama dimaksimalkan agar melalui iman pun perawatannya semakin sempurna. Rozaman Bulo menimpali banyak warga tidak tahu harus berbuat. "Misalnya menemukan benda sejarah, terus tak tahu harus berbuat apa. Akhirnya, sia-sia," ujarnya
Waruwu dan  Herman Zebua dari Nias Utara berharap kiranya otoritas melibatkan lebih banyak masyarakat karena kenyataan selama ini publik yang dekat dengan benda budaya tak tahu manfaatnya. "Apalagi karena kondisi ekonomi lemah, masyarakat cenderung menilai peninggalan nenek moyang dianggap tak penting," papar Herman Zebua.

Beatrik Wau minta adanya tindakan nyata dari otoritas, seperti rutin mengadakan pementasan di lokasi warisan budaya. Ia menunjuk rumah adat ada di banyak tempat di Nias. Di lokasi itu, ujarnya harus ada konsentrasi massa dengan diadakan pergelaran kesenian etnik. Selama ini, menurutnya, pementasan hanya diadakan di Bawomataluo padahal tempat-tempat lain seperti Hilisimaetano dan Hilinafao memiliki potensi yang tak kalah istimewa. "

Situs Megalitik di Nisel yang usianya ratusan tahun, atau Gua di Tello yang lebih tua, sudah dapat diusulkan menjadi warisan dunia ke Unesco," harapnya.
Ya' Zebadratu dan  Temariaso Lohu yang juru pelihara batu megalitik Nias Selatan minta perhatian untuk menambah tenaga penjaga cagar budaya mengingat perawatannya sangat kompleks. "Banyak batu-batu megalikikum sudah tumbang bahkan ada yang tidak bisa diberdirikan oleh manusia lagi. Kondisi itu memprihatinkan dan membuat wisatawan kecewa," ujarnya. "Infrastruktur ke lokasi pun sangat memprihatinkan. Wisatawan mengeluh sebab tidak ada tempat persinggahan," tutup Temariaso Lohu.

Fau dari Nias Selatan dan Aseali Waruwu dari Nias minta perhatian lebih maksimal pada warisan budaya yang seperti tidak diperhatian seperti rumah adat yang di dekat sungai harus dibongkar karena tergerus arus bahkan kompleks makam bersejarah,  Makam Waruwu belum mendapat sentuhan dari sisi pelestarian budaya.

Kegiatan yang diikuti peninjauan ke lokasi terdekat itu dihadiri sejumlah penggiat seni dari Kanwil Parsenibud Sumut di antaranya Rismaria Hutabarat, Junaidi Purba SE, Dahniar Lindawati Purba SSos, Roslida Juliati, Yaniswar dan Ivonne Visekarina SHum. (T/R9/l)





SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru