Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Budaya Kare-Karean, Berdarah tapi Ceria

- Sabtu, 08 Agustus 2015 17:42 WIB
219 view
Budaya Kare-Karean, Berdarah tapi Ceria
Masyarakat di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, sering disebut sebagai masyarakat Bali asli. Budaya mereka sedikit berbeda dengan masyarakat Bali kebanyakan, terutama pada acara-acara adat tertentu.

Tenganan terbagi dua, yaitu Tenganan Timur dan Tenganan Barat yang juga disebut sebagai Tenganan Dauh Tukad. Selama bulan Juli lalu, yang kebetulan jatuh pada bulan kelima tahun Bali, Usaba Sambah, berlangsung banyak upacara, yaitu Metekrok, Daha Nyambah, Betara Mantuk, Tabuh Rah, Daha Ngejot, Ngepik, Perejangan, Penyuud Usaba Sambah, Penyimpenan, Ngebah Anyunan, dan Kare-karean.

Luka akibat pertarungan dalam upacara Kare-karean atau perang pandan di Desa Tenganan, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem, Bali, diobati dengan ramuan tradisional.

Upacara Kare-karean atau yang dalam bahasa turisme dikenal sebagai perang pandan memang acara khas di Tenganan, tidak dijumpai di tempat lain. Upacara untuk memuliakan Dewa Indra ini dilakukan dalam bentuk pertarungan pria (hanya pria) satu lawan satu. Kedua pihak memegang perisai rotan di tangan kiri dan segepok daun pandan berduri di tangan kanan.

Kedua petarung berusaha melukai punggung lawan dengan daun berduri yang mereka pegang. Wasit akan menentukan kapan pertarungan berakhir. Dan, walau punggung petarung akan berdarah-darah, acara ini sungguh jauh dari kesan kekerasan. Aroma tawa dan saling ejek mewarnai segenap acara.

Kare-karean di Tenganan Barat yang walau hanya berlangsung selama sekitar dua jam saja sungguh menarik perhatian begitu banyak turis lokal ataupun manca negara. Bahkan Mario Blanco, putra pelukis Antonio Blanco pun terlihat di antara penonton. (Geographicnational/d)


SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru