Moskow (SIB)- Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui bahwa tentara-tentara Rusia memang berada di wilayah Crimea, Ukraina sebelum dan selama referendum berlangsung di wilayah itu. Ini merupakan pertama kalinya Putin mengakui keberadaan pasukan Rusia di wilayah Ukraina. "Tujuan kami adalah memastikan kondisi untuk sebuah pemungutan suara yang bebas," kata Putin seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (17/4). Hal tersebut disampaikan Putin untuk menjelaskan tentang tentara-tentara berseragam militer tanpa lencana yang muncul di Crimea pada akhir Februari lalu. Saat itu, sebagian besar dari mereka berjaga di sekeliling pangkalan-pangkalan militer Ukraina. "Di belakang pasukan pertahanan lokal adalah tentara-tentara kami. Mereka bertindak dengan benar, tegas dan profesional," tutur Putin. "Kami harus melindungi masyarakat dari kemungkinan penggunaan senjata di pangkalan-pangkalan militer Ukraina," tandasnya.
Putin juga menegaskan bahwa dialog merupakan satu-satunya cara untuk mengakhiri krisis di Ukraina. "Hanya dengan dialog, dengan prosesur demokrasi dan bukan dengan penggunaan militer, tank-tank dan pesawat-pesawat, maka ketertiban bisa diterapkan di negeri tersebut," tegas Putin.
Sementara itu, pasukan Ukraina berhasil menghalau satu serangan bersenjata ke pangkalan militer mereka di kota Mariupol di wilayah tenggara negeri itu. Menteri Dalam Negeri Ukraina, Arsen Avakov, Kamis (17/4) mengatakan, dalam penyerbuan yang gagal itu tiga penyerang tewas dan 13 lainnya cedera. Avakov mengatakan 63 orang lainnya juga ditangkap. Sekitar 300 orang menyerbu pangkalan militer Ukraina itu pada Rabu (16/4) malam, menggunakan pistol dan bom molotov. Mendagri Ukraina Arsen Avakov mengatakan, tak satupun prajurit Ukraina terluka dalam serangan itu.
Rusia Didesak Hentikan Dukungan Terhadap Aktivitas Terorisme di UkrainaKetegangan antara Ukraina dengan Rusia masih terus belanjut. Kali ini, otoritas Ukraina mendesak Rusia untuk menghentikan dukungannya terhadap aktivitas terorisme di wilayahnya. "Tuntutan utama kami adalah mengurangi ketegangan situasi di Ukraina bagian timur. Kami ingin Rusia menarik tentaranya dari perbatasan timur Ukraina. Kami ingin Rusia tidak lagi mendukung aktivitas teroris di Ukraina bagian timur," ujar Menteri Luar Negeri Ukraina, Andriy Deshchytsya seperti dilansir AFP, Kamis (17/4).
Otoritas Ukraina menuding Rusia sengaja mengerahkan pasukan khusus secara diam-diam ke wilayah Ukraina bagian timur dan selatan yang menjadi markas militan pro-Rusia. Para militan tersebut dikerahkan untuk melawan pemerintah Ukraina dan mengganggu stabilitas negara tersebut.
Rusia juga dituduh menggerakkan dan menyiagakan puluhan ribu tentaranya di perbatasan Ukraina. Hal ini disampaikan Deshchytsya ketika baru mendarat di Jenewa, Swiss untuk menghadiri diskusi dengan Rusia, Amerika Serikat dan Uni Eropa. "Kami ingin mereka (Rusia) memastikan bahwa Crimea merupakan bagian integral dari Ukraina. Kami ingin Rusia menarik tentaranya dari Crimea dan menolak keputusan parlemen yang mengizinkan pemerintah Rusia untuk menggunakan tentara Rusia di wilayah Ukraina," ucapnya. Rusia mencaplok wilayah Crimea pada Maret Lalu. Tindakan Rusia ini menuai kecaman banyak pihak, termasuk PBB dan juga Amerika Serikat. Namun Rusia menempatkan banyak tentaranya di wilayah tersebut, dengan dalih untuk melindungi etnis Rusia dari kaum nasionalis Ukraina.
Mewakili otoritas Ukraina, Deshchytsya menyatakan siap berdialog dengan otoritas Rusia guna membahas masalah ini, demi meredakan ketegangan dua negara. Deshchytsya menegaskan, Rusia tidak memiliki hak untuk mendikte pemerintah Ukraina dalam mengatur negaranya.
"Kami ingin melanjutkan pembicaraan dengan Rusia. Kami ingin menyampaikan argumen dan bukti bahwa satu-satunya caranya untuk menstabilkan situasi di Ukraina dan sekitarnya pada saat ini, yang paling mungkin adalah cara diplomatik. Jika Rusia terus melanggar hukum internasional, maka tentu akan memberikan dampak negatif terhadap hubungan dengan Rusia, dan Rusia mungkin akan menerima hasil yang buruk," tandas Deshchytsya.
Tentara Ukraina MembelotKrisis keamanan yang terjadi di Ukraina semakin tak menentu ujungnya. Kondisi tersebut diperburuk dengan bergabungnya segelintir tentara Angkatan Darat Ukraina ke kelompok pro-Rusia. Adanya pembelotan dari pasukan Ukraina, terjadi saat konvoi pasukan Pro Rusia berlangsung di Slovyansk.
Seorang mantan tentara Ukraina bahkan dengan lantang menyatakan dirinya sudah tidak setia dengan Ukraina dan memilih membelot ke Rusia. “Kami adalah tentara Ukraina yang sudah membelot ke pihak pendukung Rusia,†tutur salah seorang pasukan yang berbelot di atas tank konvoi di Slovyansk, seperti dikutip dari Shanghai Daily, Kamis (17/4).
Tidak hanya seorang, diperkirakan ada enam orang yang membelot ke Rusia. Mereka pun merayakan aksinya tersebut dengan duduk diatas tank berbendera Rusia yang dibawa konvoi. Mengetahui hal tersebut pihak militer Ukraina masih belum bisa memastikan siapa dari anggotanya yang memilih membelot. Mereka saat ini masih melakukan investigasi
.(AFP/dtc/kps/c)