Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 15 April 2026

Jajak Pendapat Terbaru: Keyakinan Warga AS Kepada Obama Makin Tipis

- Sabtu, 03 Mei 2014 18:05 WIB
390 view
Jajak Pendapat Terbaru: Keyakinan Warga AS Kepada Obama Makin Tipis
Washington (SIB)- Jajak pendapat terbaru Washington Post-ABC News mengenai peringkat keyakinan rakyat AS terhadap Presiden Obama menunjukkan penurunan ke titik paling rendah, demikian seperti dilansir dari Washington Post, Rabu (30/4) kemarin. Penurunan keyakinan atau keterpercayaan kepada Obama ini terkait dengan Undang-undang Kesehatan. Undang-undang ini tahun lalu lebih beken disebut sebagai Obamacare yang menjanjikan asuransi kesehatan kepada seluruh rakyat AS.

Namun belakangan, ratusan ribu warga AS menerima pemberitahuan dari provider asuransi kesehatan bahwa polis mereka terancam dibatalkan. “Saya minta maaf kepada masyarakat atas pembatalan ini karena selama ini saya selalu memberikan kepastian,” ujar Obama dalam wawancara di NBC News pada November tahun lalu. “Kami harus berupaya memastikan bahwa mereka tahu kami mendengarkan keluhan mereka. Kami akan melakukan apa saja untuk mengatasi kondisi warga yang kehilangan polis kesehatan,” tambah Obama.

Popularitas Obama kini turun menjadi hanya 41 persen, atau turun satu poin dibanding yang dicapainya 42 persen pada November. Sementara mereka yang tidak suka dengan Obama naik menjadi 52 persen dan yang tak mengemukakan pendapatnya sebanyak enam persen. Penurunan keterpercayaan terhadap Obama ini jelas karena ia membubuhkan tanda tangannya pada Undang-undang Pelayanan Kesehatan yang menjadi induk aturan asuransi kesehatan. Seperti pepatah Melayu, Obama ibarat “menepuk air di dulang terpercik muka sendiri”.

Terkait undang-undang pelayanan kesehatan, yang jarang menjadi berita bagus di media, pada November tahun lalu masih sebanyak 44 responden menyatakan setuju dengan penanganan program ini, namun saat ini jumlah mereka yang setuju turun menjadi 37 persen dan sebanyak 57 persen menyatakan tidak setuju.

Kepercayaan rakyat AS kepada Obama cenderung makin meredup sehubungan dengan penanganan situasi di Rusia dan Ukraina. Hanya 34 persen yang setuju dengan cara Obama menangani sengkarut dua negara ini dalam masalah Crimea dan separatis pro-Rusia, sementara 46 persen menyatakan tidak setuju. Bahkan pada Maret lalu, cara penanganan konflik tersebut terbelah antara yang setuju (42 persen) dan yang tak setuju (43 persen).

Lawatan Obama pekan lalu ke Asia (Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Filipina) yang tadinya diagendakan lebih mempromosikan Trans Pacific Partnership (TPP), yakni perdagangan bebas AS dengan beberapa negara Asia Timur dan Tenggara (Indonesia tidak menandatangani perjanjian ini) dan Amerika Latin, tampaknya tak memenuhi harapan Obama.

Perjanjian Trans Pacific Partnership (TPPA) itu dianggap terlalu tinggi standarnya dan lebih menguntungkan AS dari pada pihak Asia.

Ketika Obama tiba di Bandara Narita Tokyo pekan lalu, PM Jepang Shinzo Abe membawa tamunya itu ke restoran sushi. Sambutan ini penuh perlambangan, bahwa rakyat Jepang lebih banyak mengkonsumsi ikan (antara lain dalam menu sushi) dari pada daging sapi. Sedangkan rakyat AS lebih suka daging sapi. Obama ingin Jepang membuka pintu dagangannya lebih lebar supaya daging dan barang-barang lain AS lebih leluasa masuk.

Tanpa basa-basi dan senda gurau seperti kebiasaan Obama, di Tokyo ia langsung bicara soal perdagangan. Sedangkan PM Abe tak mau didikte Obama begitu saja. Karena untuk membuka pintu perdagangan, Obama masih harus menunggu persetujuan Kongres mengenai Trade Promotion Authority (TPA) sebelum melaksanakan TPP.

TPA dimaksudkan sebagai wadah untuk menegosiakan perjanjian dagang yang membantu petani, perternak, wira usahawan dan para pencipta lapangan kerja untuk memperoleh akses kepada konsumen di seluruh dunia. Kini Kongres AS masih mengganjal Obama terkait TPA ini.

Intinya tur kelima Obama ke Asia sejak 2008 kali ini tak menggembirakan dari sisi perdagangan, namun dia menandatangani kerja sama militer dengan Korea Selatan dan Filipina. Sektor militer dan perdagangan ini amat penting dalam strategi Obama di Asia.

Jika negosiasi perdagangan dengan para penandatanganTPP (Australia, Amerika Serikat, Brunei, Chile, Canada, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Singapura dan Vietnam) belum berhasil dan terlihat macet pada kunjungan Obama kali ini, maka rakyat AS bisa meragukan Obama dalam penerapan strategi Asia-nya. (WashingtonPost/Inc/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru