London (SIB)- Sejumlah negara bereaksi atas serangan yang menandai intervensi langsung AS dalam perang sipil di Suriah. Inggris dan Australia mendukung penuh serangan rudal Amerika Serikat terhadap pangkalan udara Suriah. Kedua sekutu AS itu meyakini aksi militer merupakan respons tepat untuk serangan kimia yang menewaskan puluhan warga sipil.
"Pemerintah Inggris mendukung penuh aksi AS, yang kami yakini sebagai respons yang tepat untuk serangan senjata kimia biadab yang dilancarkan oleh rezim Suriah dan dimaksudkan untuk menangkal serangan lebih lanjut," demikian pernyataan juru bicara pemerintahan Inggris, seperti dilansir Reuters, Jumat (7/4).
Serangan kimia terjadi di kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib pada Selasa (4/4) waktu setempat hingga menewaskan lebih dari 80 ribu orang, termasuk puluhan anak-anak. AS dan negara-negara Barat lainnya menuding rezim Presiden Bashar al-Assad sebagai dalang di balik serangan kimia itu.
Rezim Suriah membantah tudingan itu dan menyalahkan kelompok pemberontak setempat. Namun Pentagon menunjukkan citra satelit hasil pelacakan radar yang menunjukkan sebuah pesawat tempur Suriah meninggalkan pangkalan udara Shayrat dan mengudara ke area Khan Sheikhun yang menjadi lokasi serangan kimia.
Perdana Menteri Australia Malcolm Turnbull menyebut serangan rudal AS itu mengirimkan 'pesan penting' bahwa dunia tidak akan mentoleransi penggunaan senjata kimia. "Pembalasannya sebanding dan telah bergeser. Kami mendukung Amerika Serikat dalam tindakan cepat itu," ucap PM Turnbull kepada wartawan di Sydney.
Dukungan untuk AS juga datang dari Polandia. "Amerika Serikat tentu adalah penjamin perdamaian dan ketertiban dunia. Dan ada situasi ketika Anda perlu bereaksi, situasi saat Anda perlu langkah aktual," ucap juru bicara kabinet pemerintahan Polandia, Rafal Bochenek, kepada televisi TVP Info. "Kita telah melihat penganiayaan oleh rezim Suriah selama beberapa tahun terakhir -- tidak ada yang bereaksi terhadap hal itu," imbuhnya.
Sedangkan Prancis menyatakan Rusia dan Iran yang merupakan sekutu Suriah perlu memahami bahwa mendukung Assad adalah tidak masuk akal. Prancis menyebut, meluasnya peran militer AS di Suriah menjadi 'peringatan' untuk 'rezim kriminal' di Suriah.
"Penggunaan senjata kimia sangat mengerikan dan seharusnya dihukum karena itu kejahatan perang," tegas Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Marc Ayrault, kepada Reuters dan radio France Info. Ayrault menyatakan, dirinya telah diberitahu Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson sebelum serangan rudal ke Suriah dilancarkan.
PM Israel Benjamin Netanyahu juga angkat suara. Ia mengungkapkan dukungannya atas serangan AS yang dinilainya memiliki 'pesan kuat dan jelas'. Netanyahu mengklaim telah diberitahu soal rencana serangan tersebut. "Israel sepenuhnya mendukung keputusan Presiden Trump dan berharap bahwa pesan yang disampaikan dalam menghadapi rezim Assad ini akan bergaung tidak hanya di Damaskus, namun juga di Teheran, Pyongyang, dan tempat lainnya," demikian pernyataan dari kantor PM Netanyahu.
Tangguhkan Kesepakatan
Rusia menangguhkan perjanjian dengan Amerika Serikat yang disepakati untuk menghindari bentrokan pasukan selama melancarkan serangan udara di Suriah. "Pihak Rusia menangguhkan memorandum pencegahan insiden untuk memastikan keselamatan penerbangan selama operasi di Suriah yang disepakati dengan Amerika Serikat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Rusia.
Penangguhan ini diumumkan tak lama setelah juru bicara pemerintah Rusia, Dmitry Peskov, mengatakan bahwa serangan rudal Amerika Serikat ke pangkalan udara di Suriah dapat merusak hubungan kedua negara. Peskov mengatakan bahwa Presiden Rusia, Vladimir Putin, menganggap serangan ini sebagai agresi terhadap negara yang berdaulat.
Sejak awal serangan ini diluncurkan, berbagai pihak memang sudah mengkhawatirkan peningkatan risiko konfrontasi dengan Rusia dan Iran yang mendukung Assad. Nota kesepahaman ini sendiri diteken pada Oktober 2015, setelah Rusia memulai serangan udara menggempur ISIS di Suriah demi membela pemerintahan Presiden Bashar al-Assad.
Saat itu, di langit Suriah sudah beroperasi serangan udara di bawah komando Amerika Serikat yang juga menggempur ISIS. Sebelumnya, Pentagon mengatakan bahwa koalisi AS sempat harus melakukan manuver memutar untuk menghindari berpapasan langsung dengan pesawat Rusia.
Juru bicara Pentagon saat itu, Peter Cook, mengatakan bahwa rincian nota kesepahaman tersebut tidak akan dirilis secara lengkap atas permintaan Rusia. Namun, nota tersebut mencakup protokol spesifik bagi awak pesawat. Selain itu, terdapat pula kesepakatan mengenai hubungan komunikasi di lapangan agar tak terjadi kesalahpahaman di udara antara kedua koalisi.
Cook kemudian menekankan bahwa AS dan Rusia memang satu visi dalam penggempuran ISIS. Namun, AS tak sependapat dengan dukungan Rusia terhadap pemerintahan Assad. Menurut AS, Assad adalah dalang dari segala masalah di Suriah.
Jangan Serang Suriah
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan untuk menyerang pangkalan udara Suriah. Padahal beberapa tahun lalu, Trump mengkritik habis-habisan rencana Presiden Barack Obama untuk melakukan aksi militer di Suriah.
Tweet-tweet lama Trump dari tahun 2013 kembali muncul ke publik setelah AS melancarkan serangan rudal terhadap pangkalan udara Shayrat, Suriah pada Jumat (7/4) subuh waktu setempat. Pangkalan udara itu dipilih menjadi target karena menjadi lokasi awal mula serangan kimia yang diduga didalangi rezim Suriah di kota Khan Sheikhun, Provinsi Idlib pada Selasa (4/4) waktu setempat.
Saat itu, pemerintahan Obama menyimpulkan bahwa Suriah telah melanggar 'garis merah' atau 'red line' yang ditetapkan Obama, setahun sebelumnya. Garis merah yang dimaksud mengenai penggunaan senjata kimia terhadap rakyat Suriah. Namun saat itu, pemerintahan Obama memutuskan untuk tidak melakukan aksi militer ke Suriah, karena mendukung kesepakatan pemusnahan persediaan senjata kimia Suriah yang dicetuskan Rusia.
Trump saat itu menyerukan kepada Obama untuk tidak menyerang Suriah. "Kita harus menjauhkan diri dari Suriah, 'pemberontak' sama buruknya dengan rezim saat ini," kicau Trump via akun Twitter pribadinya @realDonaldTrump pada 16 Juni 2013.
"Satu-satunya alasan Presiden Obama ingin menyerang Suriah adalah untuk menyelamatkan dirinya dari pernyataan RED LINE yang sangat bodoh. Jangan serang Suriah," ucap Trump lagi pada tweet tertanggal 5 September 2013. "Presiden Obama, jangan serang Suriah. Tidak ada sisi baiknya dan banyak sisi buruknya. Simpan 'mesiu' Anda untuk hari lain (dan lebih penting)," ujar Trump lagi via Twitter pada 7 September 2013.
Dalam pesan Twitter-nya saat itu, Trump juga menyerukan agar Obama mendapat izin dari Kongres sebelum melancarkan aksi militer ke Suriah. "Apa yang akan kita dapatkan dengan mengebom Suriah selain lebih banyak utang dan kemungkinan konflik jangka panjang?" kicau Trump pada 30 Agustus 2013.
Namun pada Kamis (6/4) malam waktu AS, Trump menyampaikan pidato yang isinya menjelaskan alasan AS melancarkan serangan rudal ke Suriah. Keputusan ini menjadi aksi langsung paling keras yang pernah dilakukan AS selama 6 tahun konflik Suriah berlangsung.
"Malam ini, saya memerintahkan serangan militer terarah terhadap pangkalan udara Suriah yang menjadi lokasi diluncurkannya serangan kimia. Ini penting bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat untuk mencegah dan menangkal menyebarnya penggunaan senjata kimia mematikan," tegas Trump.
Keputusan Trump untuk menyerang Suriah ini diambil beberapa hari setelah pemerintah AS menyatakan tak lagi fokus untuk melengserkan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Sikap ini bertentangan dengan negara-negara besar Eropa, yang tetap bersikeras agar Assad meletakkan jabatannya.
Sikap Trump berubah setelah serangan kimia terjadi pada 4 Maret di Khan Sheikhun. "Saya akan memberitahu Anda bahwa ini telah terjadi, bahwa sikap saya terhadap Suriah dan Assad telah sangat berubah. Ketika Anda membunuh anak-anak tak bersalah -- bayi-bayi tak bersalah -- bayi-bayi -- bayi-bayi kecil dengan gas kimia yang sangat mematikan, orang-orang terkejut mendengar gas apa itu, itu telah melanggar banyak garis. Di luar garis merah, banyak-banyak garis," tegas Trump. (Detikcom/l)