Washington (SIB) -Para demonstran menggelar aksi demo di depan Gedung Putih, Amerika Serikat untuk memprotes Presiden Donald Trump. Aksi ini dilakukan menyusul pemecatan mendadak Direktur FBI James B. Comey. Aksi demo tersebut digelar pada Rabu (10/5) waktu setempat, sehari setelah Trump memecat Comey dan mengatakan bahwa ini waktunya untuk "awal baru" bagi FBI. Comey dipecat di saat FBI tengah menyelidiki apakah tim kampanye kepresidenan Trump berkolusi dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilihan presiden AS pada November 2016 lalu guna menguntungkan Partai Republik. Comey mengetahui pemecatan dirinya lewat pemberitaan di televisi dan sempat mengira bahwa itu hanya lelucon.
Dalam aksinya seperti dilansir NBC News, Kamis (11/5), para demonstran menyerukan pemerintah untuk menunjuk jaksa khusus guna menyelidiki dugaan kolusi Rusia dengan tim kampanye Trump. Sejumlah demonstran bahkan menyerukan pemakzulan Trump. Salah seorang demonstran, Martina Leinz, staf kampus Johns Hopkins University di Washington DC, mengatakan dirinya dan para koleganya ikut demo tersebut saat istirahat jam makan siang. "Saya di sini karena belum pernah dalam sejarah di mana demokrasi kita sangat terancam seperti saat ini," ujar wanita berumur 55 tahun itu. "Memalukan. Memalukan," teriak para demonstran lainnya yang juga meneriakkan Trump sebagai pemimpin fasis. "Ho ho, Donald Trump harus pergi," demikian teriakan kompak para demonstran.
Dikatakan Michael Breen, direktur organisasi nirlaba Truman National Security Project, demo tersebut digelar menyusul pemecatan Comey. "Organisasi saya tidak banyak menggelar aksi protes. Saya bukan aktivis," tutur Breen. "Namun kami rasa ini momen luar biasa," ujarnya mengenai pemecatan Comey.
Sebelumnya, dalam laporannya pada Januari lalu, seperti dilansir Reuters, FBI menyimpulkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan upaya khusus untuk 'mengganggu' pilpres AS tahun 2016 lalu. Upaya khusus Rusia itu, disebut FBI, bertujuan untuk membantu Trump memenangkan pilpres.
Laporan terbaru dari CNN pada Selasa (9/5) malam menyebut, jaksa federal AS telah merilis 'grand jury subpoena' atau surat pemanggilan untuk mantan penasihat keamanan nasional Trump, Michael Flynn. Jaksa federal AS ingin memeriksa rekam jejak bisnis Flynn yang dicurigai terlibat dalam intervensi Rusia dalam pilpres. Semasa kampanye, Flynn diketahui pernah berkomunikasi dengan Duta Besar Rusia untuk AS, Sergei Kislyak. Sebelum akhirnya mengaku, Flynn sempat berbohong soal komunikasi dengan Kislyak itu kepada Wakil Presiden Mike Pence. Flynn pun mengundurkan diri, namun kemudian terungkap bahwa sebenarnya Trump yang lebih dulu memecatnya.
Rusia berulang kali menyangkal telah mengintervensi pilpres AS. Pemerintahan Trump juga menyangkal adanya kolusi dengan Rusia. Pemecatan Comey ini menjadi kontroversi karena dilakukan sehari setelah mantan pelaksana tugas Jaksa Agung AS Sally Yates menuturkan kepada Senat AS bahwa dirinya sudah memperingatkan Gedung Putih pada 26 Januari bahwa Flynn berisiko diperas oleh Rusia. Namun Gedung Putih mengabaikan peringatan itu.
Cerminkan Ketakutan Trump
Sehari setelah pemecatan Direktur Biro Penyelidik Federal (FBI) James Comey oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump, muncul aksi untuk rasa di negeri itu. Sejumlah orang menyampaikan aspirasinya dalam bentuk demonstrasi. Pemandangan itu terlihat di sejumlah kota di AS, di antaranya di Washington dan juga Chicago. Seperti diberitakan Reuters, Kamis (11/5), para pendemo mendesak digelarnya penyelidikan independen atas dugaan kolusi antara tim kampanye Donald Trump dalam pemilihan presiden AS 2016 dan pihak Rusia. Sambil mengibar-ngibarkan sejumlah atribut demo diiringi nyanyian, pendemo berkumpul di depan Gedung Putih. Demo serupa pun dilaporkan terjadi di wilayah kantor Senat di negara-negara bagian di AS.
Mereka berpendapat, langkah kontroversial Trump ini telah membahayakan penyelidikan yang sedang dilakukan FBI. "Saya masih belum memiliki cinta untuk Comey," kata Cody Davis (29) salah satu peserta aksi di dekat Trump International Hotel and Tower di Chicago. "Alasan saya di sini hari ini bukan karena dia (Comey) dipecat, tapi karena sangat jelas mengambarkan Trump takut akan sesuatu," kata Davis.
Comey telah dikritik oleh kubu Demokrat saat menangani penyelidikan seputar kasus Mantan Menteri Luar Negeri Hillary Clinton yang menggunakan email pribadi saat menjalankan tugasnya. Kendati menuai protes, pejabat di Gedung Putih membantah adanya motivasi politik di balik pemecatan tersebut.
Trump pun mengatakan, Comey tidak melakukan pekerjaan dengan baik dan telah kehilangan kepercayaan dari semua orang di Washington. Para kritikus di berbagai demonstrasi membandingkan pemberhentian Comey dengan "Pembantaian Malam Sabtu" pada tahun 1973, di mana Presiden Richard Nixon mencopot jaksa khusus independen yang menyelidiki skandal Watergate.
MoveOn.Org dan koalisi kelompok liberal buru-buru mengadakan demonstrasi di kantor senator di lebih dari selusin negara bagian, termasuk New York, Kentucky, Arizona, California dan Florida.
"Donald Trump baru saja memecat satu orang di AS yang memimpin penyelidikan tentang Donald Trump yang paling menyeluruh dan terus-menerus," kata Jo Comerford, Direktur kampanye MoveOn.org, dalam sebuah pernyataan.
Isu tersebut juga dibahas pada pertemuan balai kota yang diadakan oleh anggota Kongres di seluruh negeri. Bagi beberapa pendukung Trump, kontroversi itu terlalu berlebihan. Denny Herman dari Wamego, Kansas, menilai Comey pantas dipecat, dan penyelidikan tentang Rusia tidak akan terpengaruh. Dia pun mengatakan, tidak perlu ada jaksa khusus. "Hanya omong kosong liberal," katanya sambil bersantai di sebuah bar. Namun di pusat kota Chicago, beberapa lusin orang menggebrak panci dan wajan, melambaikan kertas-kertas yang bertuliskan "Anda tidak bisa memecat yang sebenarnya" dan meneriakkan "Selidiki Sekarang!" Beberapa ratus orang juga berkumpul di luar Gedung Putih dan meminta ada jaksa khusus.
"Saya merasa seperti apa yang terjadi kemarin benar-benar mengejutkan," kata pengunjuk rasa Kelli Rowedder. Rowedder adalah seorang guru berusia 34 tahun dari Washington yang ambil bagian dalam aksi. "Partai Republik tidak akan berdiri dan melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan tanpa ada pihak yang menekan mereka," tegas Rowedder.
(CNN/Detikcom/Kps.com/h)