Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 10 April 2026
Polisi Israel-Warga Palestina Kembali Bentrok

Israel Batasi Lagi Warga Palestina Masuki Masjid Al-Aqsa

- Sabtu, 29 Juli 2017 17:43 WIB
468 view
Jerusalem (SIB)- Polisi Israel, untuk kedua kalinya, melarang para pria berusia di bawah 50 tahun untuk shalat di Masjid Al-Aqsa di Jerusalem. Larangan itu muncul kembali setelah pecah bentrokan antara warga Palestina dan polisi Israel, yang menyebabkan sejumlah orang harus dirawat karena menderita luka-luka.
"Pemeriksaan keamanan dilakukan dan ada indikasi bahwa gangguan dan demonstrasi akan berlangsung hari ini," kata polisi dalam sebuah pernyataan di kompleks Haram al-Sharif, yang dikenal orang Yahudi sebagai Bukit Bait Suci atau Bukit Kuil, Jumat (28/7).

"Hanya pria berusia di atas 50 tahun dan perempuan semua usia yang diizinkan. Akses di sejumlah jalan di sekitar Kota Tua dibatasi dan semua tindakan pengamanan yang diperlukan diambil untuk mencegah dan menanggapi setiap aksi kekerasan."

Kompleks Haram al-Sharif meliputi masjid Al-Aqsa dan Kubah Shakhrah (Dome of the Rock). Bentrokan kembali meletus antara polisi Israel dan warga Palestina di situs suci Jerusalem, Kamis (27/7). Bentrokan terjadi saat ribuan umat Muslim Palestina memasuki Masjid Al-Aqsa dan hendak mengakhiri pemboikotan terkait kebijakan keamanan yang diambil Israel. 

Seorang koresponden AFP  menyaksikan bentrokan tersebut meletus tak lama setelah warga untuk pertama kalinya setelah dua minggu lalu, masuk ke kompleks masjid tersebut. Bulan Sabit Merah Palestina melaporkan, ada 46 korban luka di dalam kompleks Haram al-Sharif. Namun, hingga berita ini ditayangkan, latar belakang pecahnya bentrokan tersebut belum terungkap dengan jelas. 

Bentrokan pecah saat sekelompok polisi berjalan di tengah kerumunan umat Muslim Palestina. Disebutkan, warga Palestina melemparkan botol plastik dan dibalas pasukan Israel dengan menembakkan granat setrum. Ribuan warga sedang berjalan ke masjid hendak menunaikan shalat subuh, saat bentrok terjadi.
Kegiatan itu sebenarnya menjadi penanda berakhirnya aksi boikot, setelah Israel menghapus langkah-langkah keamanan kontroversial, pasca-insiden 14 Juli yang menewaskan dua polisi. Untuk merespons kekerasan yang terjadi itu, polisi Israel kembali membatasi usia jemaah yang hendak mengikuti shalat.

Sementara itu Raja Abdullah dari Yordania mendesak PM Israel Benjamin Netanyahu mengadili petugas keamanan Kedutaan Besar Israel di Amman, yang menembak mati dua warga Yordania. Selain itu, Raja Abdullah juga mengatakan hubungan Israel-Yordania terancam akibat insiden tersebut.

Di sisi lain, petugas keamanan yang identitasnya dirahasiakan itu telah dipulangkan ke Israel menggunakan kekebalan diplomatik. Hal itu, sebut Raja Abdullah, merupakan "tindakan provokatif dan mengesalkan yang memicu ketidakstabilan keamanan antara kedua negara, selain memancing ekstremisme."

"Kami menuntut Perdana Menteri Israel memenuhi komitmennya dan memastikan pelaku pembunuhan diadili, serta tidak menjadikan insiden ini sebagai pertunjukkan politik demi keuntungan pribadi," kata Raja Abdullah, dikutip Reuters.

Petugas keamanan tersebut dilaporkan menembak pemuda Yordania Mohammad Jawawdah di kedutaan besar Israel di Amman, pada Minggu (23/7) serta tidak sengaja menewaskan warga Yordania lainnya yang tengah berada di lokasi. Israel menyebut petugas keamanan itu hanya membela diri setelah diserang Jawawdah menggunakan obeng.

Pernyataan yang sedikit berbeda diungkapkan polisi Yordania. Disebutkan bahwa sang petugas keamanan melepaskan tembakan ke arah Jawawdah setelah keduanya terlibat perkelahian. Namun demikian, tidak disebutkan bagaimana warga Yordania lainnya ikut tertembak. Raja Abdullah yang mengunjungi keluarga Jawawdah guna menyampaikan bela sungkawa, menyebut negara "akan melakukan apapun" untuk mendapatkan keadilan bagi kedua korban yang tewas.

Yordania dan Israel terikat perjanjian perdamaian dan negara Arab tersebut jarang mengungkapkan kemarahan mereka terhadap tetangganya itu, secara terbuka. Selain insiden penembakan itu, Raja Abdullah juga mengingatkan insiden lainnya di mana seorang warga Yordania tewas ditembak tentara Israel di perbatasan pada Maret 2014 silam. Tidak ada penyelidikan atas kasus tersebut. "Cara Israel menangani peristiwa di kedutaan dan insiden penembakan sebelumnya, bisa memengaruhi hubungan diplomatik kedua negara," kata Abdullah. (CNNI/kps/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru
5 Toko di Gunungsitoli Terbakar

5 Toko di Gunungsitoli Terbakar

Gunungsitoli(harianSIB.com)Kebakaran hebat melanda deretan toko di Jalan Gomo, Kota Gunungsitoli, Kamis (9/4/2026). Sedikitnya lima unit tok