Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 28 Oktober 2026

Protes Pemilihan Presiden, Ratusan Warga Singapura Rencanakan Unjuk Rasa

- Sabtu, 16 September 2017 13:39 WIB
575 view
Protes Pemilihan Presiden, Ratusan Warga Singapura Rencanakan Unjuk Rasa
SIB/Wallace Woon/Pool Photo via AP
DILANTIK: Halimah Yacob mengambil sumpah jabatan saat berdiri bersama PM Singapura, Lee Hsien Loong (kiri) dan Ketua Hakim Sundaresh Menon saat peresmian menjadi Presiden Singapura di Istana Kepresidenan Singapura, (14/9).
Singapura (SIB) -Tidak semua warga Singapura rupanya gembira dengan tinta sejarah yang diukir Halimah Yacob sebagai perempuan presiden pertama negara pulau itu. Seperti dilaporkan oleh situs berita Mothership.sg, Jumat (15/9), sejumlah warga "Negeri Singa" itu berencana menggelar aksi unjuk rasa pada Sabtu (16/9).

Aksi langka ini ditujukan untuk memprotes proses pemilihan presiden, di mana warga Singapura tidak memiliki kesempatan untuk memilih. Halimah sendiri adalah calon tunggal yang membuat dia otomatis terpilih menjadi presiden ke-8 Singapura.

Protes akan digelar di Taman Hong Lim, satu-satunya area di mana unjuk rasa diizinkan di Singapura. Aksi ini diperkirakan akan berlangsung selama dua jam dari pukul 4.30 sampai 6.30 sore waktu setempat. Demonstrasi itu akan digelar dalam bentuk sit-in yang berarti tidak ada pembicara yang akan menyampaikan orasinya.

Sejauh ini sudah ada 150 orang yang berencana menghadiri aksi yang diprakarsai oleh aktivis sosial ternama Gilbert Goh yang sudah berkali-kali menggelar aksi unjuk rasa. Halimah telah disumpah sebagai Presiden Singapura, Kamis (14/9).

Dalam pidato pelantikannya, politisi berusia 63 tahun ini menyadari adanya silang pendapat mengenai proses dia terpilih. Halimah berjanji akan menjadi presiden untuk seluruh rakyat Singapura tanpa memandang perbedaan suku dan agama.

Sosok Halimah populer di Singapura namun tidak sedikit warga yang menyuarakan kekesalan mereka karena mereka tidak dapat menggunakan hak pilihnya.
Memang untuk menjadi calon presiden di Singapura tidaklah mudah. Ada segudang kriteria yang sangat ketat yang harus dipenuhi.

Syarat-syarat umum di antaranya haruslah warga Singapura yang telah berumur sekurang-kurangnya 45 tahun, tidak pernah mengalami kebangkrutan, tidak pernah dipenjara atau didenda karena tindak kriminal. Selain itu juga harus memiliki integritas, karakter dan reputasi yang baik. Juga ada syarat-syarat khusus yang berpotensi menjegal bakal calon presiden yang ingin bertarung.

Untuk pejabat publik seperti Halimah harus memenuhi sejumlah syarat, salah satunya ialah telah menjabat di sejumlah posisi penting politik selama sekurang-kurangnya tiga tahun. Sementara itu untuk bakal calon dari kalangan swasta harus memiliki shareholders equity sekurang-kurangnya 500 juta dollar Singapura.

Inilah syarat yang gagal dipenuhi dua pesaing Halimah lainnya yaitu pengusaha Farid Khan dan Saleh Marican karena shareholders equity perusahaan yang mereka pimpin tidak mencapai angka yang disyaratkan. Posisi Presiden Singapura adalah seremonial namun jauh lebih kuat dari presiden seremonial di negara lain.

Presiden Singapura mempunyai hak veto terhadap simpanan keuangan negara dan anggaran negara, penunjukan pejabat publik seperti Ketua Mahkamah Agung (MA), Jaksa Agung, Panglima Angkatan Bersenjata dan Kepala Staf Tiga Angkatan. Presiden juga dapat memveto Rancangan Undang-Undang (RUU) yang diajukan parlemen.

Bukan sekali ini pilpres Singapura berlangsung dengan calon tunggal. Pilpres 1999 dan 2005 juga dimenangkan mantan Duta Besar Singapura untuk AS, SR Nathan tanpa kontes. Calon tunggal sendiri atau kemenangan walkover bukanlah fenomena baru di dunia politik.

Di Amerika Serikat, sejumlah anggota Kongres terutama yang sudah bertahun-tahun menjadi petahana umumnya terpilih otomatis sebagai calon tunggal tanpa pesaing. Misalnya di tahun 2010, Senator John Thune, dari negara bagian South Dakota terpilih dengan 100 persen karena tidak ada pesaing.

Thune adalah salah satu senator ternama Partai Republik yang digadang-gadang sebagai capres masa depan. Dia juga saat ini adalah orang nomor tiga terkuat di Senat dengan jabatannya sebagai Ketua Konferensi Senat Republiken. Tidak ketinggalan Pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, juga terpilih dengan walkover tanpa pesaing di pemilihan parlemen 1991,1997, 2001, 2006 dan 2011. (kps/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru