Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Sabtu, 04 April 2026

Propaganda Korut Ditemukan di Halaman Kantor Presiden Korsel

* Menlu AS Soal Korut: Diplomasi Terus Hingga Bom Pertama Jatuh
- Selasa, 17 Oktober 2017 12:37 WIB
416 view
 Propaganda Korut Ditemukan di Halaman Kantor Presiden Korsel
Seoul (SIB)- Propaganda Korea Utara (Korut) ditemukan di halaman istana kepresidenan Korea Selatan (Korsel). Propaganda berbentuk selebaran itu berisi puji-pujian untuk rezim komunis Pyongyang. Seperti dilansir AFP, Senin (16/10), otoritas Korut dan para aktivis Korsel secara rutin menggunakan balon untuk membawa selebaran melewati Zona Demiliterisasi (DMZ) yang memisahkan wilayah Korut dengan Korsel.

Ibu kota Seoul sendiri hanya berjarak 56 kilometer dari DMZ dan jelas masuk jangkauan artileri dari Korut. Seringkali sejumlah selebaran propaganda Korut ditemukan di wilayah Seoul. Meskipun tidak biasanya ditemukan di dalam kompleks Blue House, sebutan untuk istana kepresidenan Korsel.

"Pemimpin hebat Kim Jong-Un menyatakan dengan teguh untuk menjinakkan lansia AS (Amerika Serikat) yang bermental gila, dengan api," demikian bunyi salah satu selebaran propaganda Korut itu, seperti dikutip kantor berita Korsel, Yonhap News Agency.

Komentar itu merujuk pada pernyataan keras Kim Jong-Un menanggapi ancaman Presiden AS Donald Trump, bulan lalu. Selebaran itu menggunakan kata 'dotard' untuk menyebut Trump. Dotard merupakan sebutan untuk seseorang dengan usia lanjut atau lansia yang sudah lemah dan pikun.

Selebaran propaganda Korut lainnya, sebut Yonhap, isinya mengasihani Korsel karena bergantung pada AS untuk pertahanan dan mengklaim AS takut pada Korut. Pihak istana kepresidenan Korsel pun mengomentari temuan selebaran propaganda Korut itu.

"Biasanya, selebaran propaganda terbang terbawa angin ke arah ini dan tidak jelas apakah ada yang spesial soal selebaran ini. Selebaran itu dikumpulkan oleh tim keamanan dan diserahkan kepada badan investigasi," ucap juru bicara kepresidenan Korsel

Penemuan selebaran propaganda itu terjadi saat AS dan Korsel  mulai menggelar latihan militer gabungan di perairan dekat Semenanjung Korea. Latihan gabungan ini tetap digelar di tengah ancaman rudal dan nuklir Korea Utara. Sekitar 40 kapal perang Angkatan Laut milik kedua negara, termasuk kapal induk bertenaga nuklir USS Ronald Reagan, ikut serta dalam latihan gabungan yang digelar pada 16-20 Oktober ini. Juru bicara Kementerian Pertahanan Korsel menyatakan, latihan gabungan ini akan digelar di pantai timur dan barat Semenanjung Korea. Korut sebelumnya menyebut latihan militer gabungan AS-Korsel sebagai 'latihan perang'.

Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson, sebelumnya menyatakan Presiden Donald Trump telah menginstruksikan dirinya untuk melanjutkan upaya diplomatik terhadap Korut. "Upaya-upaya diplomatik akan berlanjut hingga bom pertama dijatuhkan," ucapnya.

Ketegangan di Semenanjung Korea meningkat tajam dalam beberapa minggu terakhir. Korut menggelar serangkaian uji coba rudal, termasuk uji coba bom nuklir keenam dan paling kuat pada 3 September lalu dan meluncurkan dua rudal hingga melintasi wilayah Jepang. Korut juga diyakini tengah bersiap untuk menguji coba rudal jarak jauh, yang diyakini bisa mencapai wilayah pantai barat AS.

Intelijen dan pakar Korsel memprediksi rezim Korut akan kembali menggelar peluncuran rudal dalam waktu dekat. Diduga peluncuran rudal akan digelar bertepatan dengan Kongres Partai Komunis China yang dimulai Rabu (18/10). Dugaan uji coba rudal Korut semakin menguat setelah AS dan Korsel mengumumkan latihan militer gabungan yang dimulai pekan ini.

Berbicara dalam konferensi pers di Seoul, Komandan Angkatan Udara Pasifik AS, Jenderal J O'Shaughnessy, menegaskan senjata nuklir dan program nuklir Korut sungguh menjadi ancaman dan AS tetap teguh bertekad melindungi sekutu-sekutunya.

"Meskipun negara-negara seperti Korea Utara mengancam keamanan dan perdamaian kawasan, kekuatan udara sekutu-sekutu kita harus siap menanggapi dengan kekuatan melimpah, mematikan dan cepat demi menjaga kepentingan kita," tegasnya.

Hingga Bom Pertama Jatuh
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Rex Tillerson mengatakan upaya diplomatiknya dengan Korea Utara akan terus berlanjut selama mungkin meski kedua pihak silih ancam di Pasifik. "Upaya diplomatik itu akan berlanjut hingga bom pertama jatuh," kata Tillerson saat diwawancarai CNN dalam "State of the Union."

Komentar Tillerson dilontarkan sehari sebelum latihan bersama AS-Korea Selatan di lepas Semenanjung Korea. Tindakan itu diklaim Pyongyang sebagai latihan invasi, sementara Amerika menyebutnya sebagai langkah pertahanan.

Tillerson mengatakan Presiden Donald Trump sebenarnya menginginkan cara diplomatik meski sempat menyatakan melalui Twitter bahwa cara itu tidak akan berhasil. Menurut Tillerson, orang nomor satu di AS itu sebenarnya ingin menghindari kekerasan. "Presiden juga telah menegaskan kepada sata bahwa ia ingin menyelesaikan ini secara diplomatik. Dia tidak berupaya untuk memulai perang," kata Tillerson.

Beberapa pekan lalu, Tillerson menyatakan telah mendapatkan jalur komunikasi langsung dengan Korea Utara dan tengah berupaya mendinginkan ketegangan antara kedua pihak. Tak lama setelah komentar Tillerson yang dinyatakan di Beijing itu, melalui Twitter Trump menyebut menterinya "membuang waktu" dengan berupaya bernegosiasi dengan Korea Utara.

Ketegangan terus meningkat antara kedua negara sementara Korea Utara melanjutkan pengembangan senjata nuklirnya dan mengancam akan menggunakan peluru kendali jarak jauh untuk menyerang AS. Sementara itu, Trump balik mengancam akan "menghancurkan habis-habisan" negara terisolasi tersebut.

Ketika ditanya apakah kicauan Trump menghambat upaya diplomatiknya, Tillerson mengatakan AS berhubungan dekat dengan China dan negara tersebut "tidak bingung sama sekali" soal kebijakan AS terhadap Korut. Soal twit itu sendiri, Tillerson mengatakan Trump membuat twit itu untuk "memotivasi tindakan." (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru