Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

Hizbullah Lakukan Agresi, Arab Saudi Anggap Lebanon Deklarasikan Perang

* Putra Mahkota Arab Saudi Tuding Iran Lakukan Agresi Militer
- Rabu, 08 November 2017 15:50 WIB
388 view
Hizbullah Lakukan Agresi, Arab Saudi Anggap Lebanon Deklarasikan Perang
Riyadh (SIB) -Menteri urusan Teluk Arab Saudi, Thamer al-Sabhan, mengatakan, Lebanon telah mendeklarasikan perang melawan Arab Saudi setelah mendeteksi adanya agresi melawan Kerajaan Arab Saudi oleh kelompok Hizbullah yang didukung Iran. "Kami akan memperlakukan pemerintah Lebanon sebagai pemerintah yang mendeklarasikan perang terhadap Arab Saudi karena agresi Hizbullah," kata al-Sabhan menanggapi keputusan yang diambil Lebanon baru-baru ini, seperti dikutip dari Al Arabiya, Selasa (7/11).

Menurut al-Sabhan, milisi Hizbullah terlibat dalam tindakan teroris yang mengancam Kerajaan Saudi. Sebagai balasan, Saudi akan menggunakan semua cara politik dan lainnya untuk menghadapi ancaman Hizbullah yang disebut sebagai "Partai Setan." "Kami mengharapkan pemerintah Lebanon bertindak untuk mencegah Hizbullah," ujar al-Sabhan. Sabhan juga menuduh Hizbullah menyelundupkan narkoba ke Arab Saudi dan melatih pemuda Arab Saudi dalam terorisme.

Al-Sabhan membantah tudingan tentang Saudi memaksa Saad Hariri mundur dari jabatannya sebagai perdana menteri Lebanon. Menurutnya, tudingan itu sebagai kebohongan yang bertujuan menghancurkan Lebanon. "Lebanon diculik oleh milisi Hizbullah dan Iran ada di belakangnya," ujarnya.

Hariri dalam pidato pengunduran dirinya mengatakan dia menjadi incaran pembunuhan dan menuduh Hizbullah yang didukung Iran menabur ketidakstabilan di dunia Arab.  Hariri adalah sekutu dekat Arab Saudi. Negeri berpaham Sunni ini menjadi rival kuat Iran, pendukung utama Syiah Hizbullah, di Timur Tengah.

Sebelumnya Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, menuding Iran melakukan agresi militer terhadap kerajaan Saudi. Tudingan ini terkait kecurigaan Iran menyuplai roket kepada kelompok pemberontak Houthi di Yaman yang sedang dilanda konflik.

Pernyataan Pangeran Mohammed ini disampaikan saat berbicara lewat telepon dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Boris Johnson. Keduanya membahas soal serangan rudal dari wilayah Yaman ke Riyadh, Saudi, akhir pekan kemarin.

"Keterlibatan Iran dalam menyuplai rudal kepada Al-Houthi merupakan agresi militer langsung oleh rezim Iran," ucap Pangeran Mohammed seperti dikutip kantor berita Saudi Press Agency (SPA). Lebih lanjut, Pangeran Mohammed menyebut suplai roket kepada Houthi yang didukung Iran bisa 'dianggap sebagai aksi perang terhadap Kerajaan' Saudi.

Pada Sabtu (4/11), Angkatan Udara Saudi mencegat sebuah rudal balistik yang ditembakkan ke Riyadh dari wilayah Yaman yang dikuasai kelompok pemberontak Houthi. Baik Saudi maupun Amerika Serikat (AS) menuding Iran, sekutu Houthi, terlibat dalam serangan itu. Iran telah menyangkal tudingan itu dan menyebut pernyataan Saudi dan AS sebagai pernyataan yang 'provokatif dan menghancurkan' serta bersifat 'fitnah'.

Dalam wawancara dengan CNN, Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, menuding militan Hizbullah dari Libanon yang menembakkan rudal itu dari wilayah Yaman yang dikuasai Houthi. Rudal yang ditembakkan ke arah ibu kota Riyadh itu jatuh di area sebelah utara bandara setempat. "Rudal yang diluncurkan ke wilayah Saudi, itu merupakan rudal Iran yang diluncurkan Hizbullah dari wilayah yang diduduki Houthi di Yaman," sebut Al-Jubeir.

Menurut Al-Jubeir, rudal itu mirip dengan rudal yang diluncurkan ke Saudi pada Juli lalu. Al-Jubeir menyebut rudal itu diproduksi di Iran, dibongkar dan diselundupkan ke Yaman, lalu dirakit kembali oleh personel Garda Revolusioner Iran dan Hizbullah. "Kemudian diluncurkan ke Arab Saudi," ucapnya.

Menanggapi serangan rudal itu, Saudi menutup seluruh perbatasan Yaman, baik udara, darat maupun laut. Langkah ini diperkirakan akan semakin memperburuk krisis kemanusiaan yang kini melanda Yaman. PBB menyebut konflik Yaman membuat sekitar 7 juta orang berada di ambang kelaparan dan nyaris 900 ribu orang terinfeksi kolera.

Namun Iran membantah tuduhan menyuplai rudal bagi pemberontak Houthi. Jurubicara Kementerian Luar Negeri Iran, Bahram, Qassemi, menyatakan tuduhan Saudi sangatlah jahat, tidak bertanggung jawab, dan provokatif. Qassemi berkata bahwa Yaman hanya berusaha melindungi kemerdekaannya dari agresi Saudi. "Saudi, yang memiliki ambisi iblis dengan serangan militernya, mulai membuat tuduhan yang konyol dan tidak berdasar," kecam Qassemi. Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif dalam sosial medianya menyatakan bahwa justru Riyadh yang berusaha menyatakan perang lewat provokasi dan agresinya.

Konflik Yaman pecah pada 2014 saat Houthi merebut Sana'a yang notabene ibu kota Yaman dan mulai bergerak ke selatan menuju Aden. Akibat serangan itu, Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi yang diakui internasional terpaksa menyingkir. Khawatir dengan pergerakan dan jumlah Houthi, yang diduga didukung Iran, Saudi dan sejumlah negara Arab yang menganut paham Sunni melakukan intervensi pada 2015. (Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru