Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 01 April 2026

PM Lebanon Klaim Rezim Suriah Ingin Membunuhnya

- Sabtu, 02 Desember 2017 20:19 WIB
413 view
PM Lebanon Klaim Rezim Suriah Ingin Membunuhnya
Beirut (SIB) -Perdana Menteri Lebanon Saad al Hariri menyatakan bahwa rezim Suriah yang ia nyatakan sebagai pembunuh ayahnya, juga ingin membunuhnya. Hal tersebut ia ungkapkan pada sebuah wawancara yang diterbitkan di majalah Prancis, Paris Match.
Vladimir Putin dari Rusia dan Hassan Rouhani dari Iran, bukan rekan sekutu mereka dari Suriah, Bashar al-Assad.

"Saya memiliki banyak musuh, ekstremis, dan rezim Suriah, yang terakhir telah mengeluarkan hukuman mati terhadap saya, mereka menuduh saya melakukan campur tangan di negara mereka," kata PM Hariri, yang diwawancarai di kediamannya di Beirut, dilansir oleh AFP, Jumat (1/12).

Selain itu, PM Hariri juga mencontohkan "cengkeraman" Iran di negaranya melalui gerakan Syiah yang kuat di Lebanon melalui Hizbullah dan ancaman terhadap hidupnya sebagai penyebab keinginannya untuk mengundurkan diri. Namun atas permintaan Presiden Lebanon Michel Aoun, Hariri menunda pengunduran dirinya dan kembali ke Beirut setelah absen selama tiga minggu.

"Saya ingin dunia memahami bahwa Lebanon tidak dapat lagi mentoleransi gangguan partai seperti Hizbullah dalam urusan negara-negara Teluk, di mana 300 ribu orang Lebanon tinggal. Mereka sangat penting bagi perekonomian kita. Kita tidak harus membayar tindakan Hizbullah," tambah Hariri.

Selain itu, Hariri juga membuat pernyataan bahwa rezim Suriah berada di balik pembunuhan ayahnya yang merupakan mantan PM Lebanon, Rafiq Hariri. Ayahnya tewas dalam sebuah pengeboman mobil di pinggir laut Beirut, sebuah tuduhan yang dibantah oleh Damaskus.

Sekadar diketahui, Presiden Lebanon Michel Aoun mengatakan bahwa Saad al Hariri dipastikan tetap menjadi perdana menteri di negaranya. Krisis politik di Lebanon pasca-pidato Hariri untuk mengundurkan diri akan diselesaikan dalam beberapa hari. "Kami baru saja selesai melakukan pembicaraan dengan semua kekuatan politik, di dalam dan di luar pemerintahan. Ada kesepakatan luas," tukas Presiden Aoun saat kunjungannya di Italia.

Cegat Rudal Militan Houthi
Otoritas Arab Saudi mencegat dan menghancurkan sebuah rudal balistik yang ditembakkan dari wilayah Yaman. Kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengklaim menembakkan rudal tersebut. Ini merupakan serangan rudal kedua yang dilancarkan Houthi ke wilayah Saudi dalam sebulan terakhir.

Juru bicara koalisi militer pimpinan Saudi, Turki al-Maliki menyatakan, rudal tersebut menargetkan kota Khamis Mushait, Saudi selatan. "Pasukan Pertahanan Udara Kerajaan Saudi mencegat rudal yang mengarah menuju Khamis Mushait," ujar al-Maliki.

Kelompok pemberontak Houthi lewat saluran televisi yang dikelolanya, Al-Masira mengklaim serangan rudal tersebut. Namun berbeda dengan keterangan juru bicara koalisi Saudi, Houthi menyebut rudal tersebut mengenai sebuah target militer di wilayah Saudi.

Beberapa jam sebelum serangan rudal tersebut, pemimpin Houthi, Abdulmalik al-Huthi mengancam akan melakukan pembalasan atas blokade yang dilakukan koalisi Saudi terhadap Yaman. Blokade tersebut mulai diterapkan awal November lalu sebagai respons atas rudal yang ditembakkan Houthi namun berhasil dihalau oleh otoritas Saudi di dekat bandara di Riyadh. "Jika blokade terus berlanjut, kami tahu target apa yang akan menimbulkan penderitaan hebat dan bagaimana menjangkaunya," cetus al-Huthi dalam pidatonya yang disiarkan Al-Masira.

Pemerintah Saudi menuding rivalnya, Iran mendukung dan mempersenjatai Houthi. Beberapa waktu lalu, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman bahkan menyatakan dukungan Iran tersebut bisa dianggap sebagai tindakan perang. Namun pemerintah Iran membantah telah menyalurkan senjata untuk Houthi. (Detikcom/l)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru