BAGHDAD (SIB)- Kelompok militan Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah menguasai kota strategis dalam pertempuran lanjutan di Irak. Kaum Sunni pun telah merebut kota Qaim dan perbatasan setelah membunuh 30 tentara Irak.
Melansir ITV, Minggu (22/6), beberapa kota seperti Rawah yang terletak di Sungai Efrat, dan kota terdekat dari Anah juga dilaporkan telah disita oleh para kelompok militan. Para pengamat mengklaim, perebutan wilayah di perbatasan ini dapat memungkinkan pemberontak untuk mendirikan sebuah rute sebagai persiapan dalam menyerang ibu kota Irak, Baghdad.
Kemajuan ini membuat militan berencana berbaris ke bendungan utama di kota Haditha. Pejabat militer Irak telah menanggapi ancaman tersebut dengan mengirimkan 2.000 tentara untuk melindungi stasiun tenaga hidrolik. Ribuan pejuang militan Syiah diarak melalui jalan-jalan Baghdad pada Sabtu, 21 Juni 2014 untuk menunjukkan pembangkangan mereka terhadap militan.
Sebelumnya, ISIL dilaporkan menguasai wilayah perbatasan Irak dengan Suriah. Wilayah itu dikuasi setelah pertempuran antara ISIL dan prajurit Irak. Pertempuran antara kedua pihak yang berseteru ini menewaskan 30 prajurit Irak. Dikuasainya perbatasan ini merupakan pukulan telak bagi pemerintahan Perdana Menteri Nouri al-Maliki. Pihak berwenang Irak mengatakan, ISIL berhasil merebut kota perbatasan Qaim setelah bertempur dengan pasukan Irak sejak Jumat 20 Juni 2014. Kota ini jaraknya mencapai 230 kilometer sebelah barat Baghdad.
Pejuang ISIL Cari Istri dari Rumah ke RumahDi saat pasukan Irak dan kelompok Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) memperebutkan kompleks penyulingan minyak di Baiji, sebelah utara Baghdad, ada hal yang lebih menakutkan warga kota ketimbang desingan peluru dan ledakan bom. Di dalam kota Baiji, yang sepenuhnya dikuasai ISIL, para penduduk kota mengatakan, hal paling menakutkan adalah para pejuang ISIL mendatangi rumah-rumah penduduk menanyakan jumlah perempuan yang belum menikah.
"Saya katakan kepada mereka hanya ada dua perempuan di rumah ini dan keduanya sudah menikah," kata Abu Lahid, salah seorang penduduk kota Baiji. "Mereka mengatakan banyak para pejuang ISIL yang belum menikah dan menginginkan seorang istri. Mereka memaksa masuk dan memeriksa KTP kedua perempuan di rumah saya," lanjut Abu Lahid.
ISIL mengatakan, para pejuangnya dilarang mengganggu masyarakat setempat jika mereka adalah Muslim Sunni. Namun, di banyak tempat para pejuang ISIL menerapkan aturan sosial mereka sendiri di kota-kota yang mereka duduki.
Warga kota Mosul pada awalnya menyambut kedatangan ISIL yang menyingkirkan semua pos penjagaan militer yang sudah berdiri bertahun-tahun dan mengekang kebebasan warga. Namun belakangan, ISIL menerapkan aturannya sendiri misalnya memerintahkan pedagang dan petani menurunkan harga barang-barang yang mereka jual.
Di beberapa kota yang sudah dikuasainya, ISIL mulai menerapkan aturan ketat mulai dari cara berpakaian perempuan, menonton televisi, hingga larangan merokok. Berdasarkan sejarah yang terjadi di Irak, aturan ketat yang diterapkan ISIL, lama-kelamaan justru akan berakibat buruk terhadap mereka sendiri. Sebagai contoh, saat Al Qaeda Irak memaksa para perempuan menikahi pejuang mereka di tengah perang Syiah-Sunni antara 2004-2008, mereka justru dibenci warga Sunni sendiri. "Saya masih memilih rumah saya didobrak prajurit AS daripada Al Qaeda. Sebab dengan prajurit AS, peluang kami bertahan hidup lebih besar," kata seorang pemuda Sunni di Baghdad saat itu.
Adanya perasaan takut terhadap Al Qaeda itulah yang membuat AS bisa membentuk milisi bersenjata anti-Al Qaeda, Sahwa, yang anggotanya justru adalah Muslim Sunni sama seperti para pejuang Al Qaeda.
Bukan tak mungkin aksi keras dan brutal yang ditempuh ISIL saat ini akan membuat nasib mereka sama seperti Al Qaeda Irak pada masa lalu. Saat ini, kelompok-kelompok militan Sunni masih diikat dalam satu tujuan, yaitu menggulingkan PM Nuri al-Maliki yang bereka benci karena dianggap memarjinalkan komunitas Sunni Irak. Namun, persatuan ini bisa koyak dalam sekejap saat Nuri al-Maliki turun atau diturunkan pada suatu hari nanti.
Satu faktor lain yang berpotensi memecah kesatuan para pejuang Sunni itu adalah keberadaan Pasukan Naqshabandi, yang dipimpin mantan wakil Saddam Hussein, Izzat al-Douri. Mereka menaikkan poster besar Saddam Hussein di Mosul yang oleh ISIL diperintahkan agar diturunkan dalam waktu 24 jam. Saat ini Naqshabandi menuruti permintaan ISIL itu, tetapi belum tentu di lain waktu.
(ITV/okz/Independent/kps/i)