Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Kamis, 16 April 2026

AS Bersikap Menunggu Soal Anjungan Minyak Baru Tiongkok

- Rabu, 25 Juni 2014 16:31 WIB
286 view
AS Bersikap Menunggu Soal Anjungan Minyak Baru Tiongkok
WASHINGTON (SIB)- AS mengatakan akan bersikap menunggu sebelum memberikan penilaian mengenai lokasi empat anjungan minyak baru Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan yang disengketakan. Pemerintah Tiongkok tampaknya meningkatkan eksplorasi minyak dan gasnya dua bulan setelah menempatkan sebuah anjungan pengeboran besar di perairan yang juga diklaim sebagai wilayah Vietnam.

Beijing, Jumat (20/6), mengumumkan akan mengirim empat anjungan minyak lagi ke Laut Tiongkok Selatan. juru bicara Kementerian Luar Negeri, Hua Chunying, mengatakan keempat anjungan minyak itu akan dioperasikan di lepas pantai provinsi Guangdong dan Hainan. Dia merujuk kegiatan itu sebagai "aktivitas normal" dan menambahkan tidak perlu untuk memberikan penafsiran terlalu jauh.

Bulan lalu, Tiongkok memicu sengketa bilateral dengan negara tetangganya, Vietnam, dengan menempatkan sebuah kilang anjungan minyak di lepas pantai Kepulauan Paracels dan di dalam zona ekonomi eksklusif Vietnam. Hal itu memicu ketegangan bilateral termasuk kerusuhan anti-Tiongkok di Vietnam, dan konfrontasi antara kapal-kapal Tiongkok dan Vietnam di dekat anjungan minyak itu. Perundingan tingkat tinggi di Vietnam pekan lalu gagal menyelesaikan sengketa itu.

Jumat, juru bicara Departemen Luar Negeri AS Jennifer Psaki mengatakan Washington telah mengetahui tentang Tiongkok yang mengerahkan kilang-kilang minyak tambahan ke beberapa lokasi berbeda di Laut Tiongkok Selatan. "Saat ini tidak banyak informasi tentang ke mana keempat anjungan itu akan dibawa. Jika sebuah kilang ditempatkan di perairan yang disengketakan, itu akan jadi kekhawatiran. Dan, Amerika jelas memiliki kepentingan nasional dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan itu. Pada saat ini kami tidak punya informasi yang cukup mengenai lokasi tujuan anjungan-anjungan minyak ini, jadi kami tidak akan memberikan penilaian sampai kami tahu lebih banyak," ujar Psaki.

AS mengkritik penempatan anjungan minyak pertama pada awal bulan Mei di lepas pantai Kepulauan Paracel dan menyebutnya sebagai provokatif dan menimbulkan ketidakstabilan. Tiongkok, yang memperebutkan teritorial di Laut Tiongkok Selatan dengan Vietnam, Taiwan, Filipina, Malaysia dan Brunei, mengklaim sebagian besar perairan itu, yang disebutnya sebagai bagian wilayahnya menurut sejarah.

Carl Thayer, profesor pada Universitas New South Wales di Australia, yang baru kembali dari pertemuan mengenai sengketa Laut Tiongkok Selatan di Vietnam mengatakan dengan semakin banyaknya anjungan minyak yang ditempatkan Tiongkok, semakin sulit bagi Hanoi untuk memantaunya.

"Empat anjungan minyak akan membuat pasukan paramiliter dan pengawasan perikanan Vietnam kewalahan menjalankan tugas mereka. Vietnam tidak memiliki banyak kapal, mungkin total ada 40 kapal penjaga pantai, dan ukurannya lebih kecil daripada kapal-kapal Tiongkok. Jadi, tidak akan seimbang jika Vietnam berupaya mengadopsi taktik protes yang sama," kata Thayer.

Thayer mengatakan Tiongkok telah mengindikasikan kilang anjungan pengeboran minyak yang disengketakan di Paracels adalah unit eksplorasi komersial dan hanya akan beroperasi antara 2 Mei sampai 15 Agustus, sebagian karena terkait dengan musim topan. Thayer mengatakan setelah 15 Agustus, delegasi tingkat tinggi Vietnam mungkin akan pergi ke Beijing untuk memperbaiki hubungan. Terlepas dari itu, dia mengatakan eksekutif industri energi telah memberitahunya bahwa lokasi anjungan Tiongkok itu bukan tempat ideal untuk mencari gas. (VOA/i)

Simak berita lainnya di Harian Umum Sinar Indonesia Baru (SIB). Atau akses melalui http://epaper.hariansib.co/ yang di up-date setiap hari pukul 13.00 WIB.
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru