Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Jumat, 09 Oktober 2026

Serangan Udara AS Tewaskan 25 Warga Sipil Suriah, Termasuk 7 Anak

* Sekjen PBB: Sudah Saatnya Hentikan Neraka di Bumi
- Selasa, 27 Februari 2018 17:57 WIB
382 view
Serangan Udara AS Tewaskan 25 Warga Sipil Suriah, Termasuk 7 Anak
SIB/Rtr
Dua anak muda memeriksa kerusakan di satu bangunan yang hancur dihantam serangan udara di Douma, timur Ghouta, Damaskus, Suriah. Sekjen Perserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar resolusi Dewan Keamanan PBB soal gencatan senjata se
Damaskus (SIB) -Serangan-serangan udara ke daerah kantong terakhir ISIS di Suriah timur telah menewaskan sedikitnya 25 warga sipil. Mereka yang tewas termasuk tujuh anak-anak. Menurut kelompok pemantau HAM Suriah, Syrian Observatory for Human Rights, serangan-serangan itu dilakukan pada Minggu (25/2) waktu setempat di desa Al-Shaafah dan sekitarnya, di sebelah utara bekas benteng ISIS, Albu Kamal di dekat perbatasan dengan Irak. Kepala Observatory, Rami Abdel Rahman mengatakan, serangan udara itu dilakukan oleh Amerika Serikat dan koalisi internasional yang memerangi ISIS.

"Dua puluh lima warga sipil, termasuk tujuh anak-anak, tewas di desa Al-Shaafah dan di wilayah-wilayah gurun pasir sekitarnya dalam serangan-serangan koalisi pada Minggu," ujar Abdel Rahman seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (26/2). "Desa ini merupakan kantong terakhir yang dikuasai ISIS di Suriah timur," imbuhnya mengenai Al-Shaafah, yang terletak di tepi timur Sungai Efrat. Abdel Rahman mengaku tidak tahu berapa jumlah militan ISIS yang tewas dalam serangan udara koalisi AS tersebut.

Dalam beberapa pekan terakhir, serangan-serangan udara terhadap militan ISIS yang bersembunyi di wilayah-wilayah terpencil di provinsi Deir Ezzor, telah menewaskan puluhan warga sipil. Kebanyakan dari mereka merupakan kerabat para militan ISIS. Pasukan Kurdi yang didukung koalisi AS telah berupaya mengusir para militan ISIS dari tepi timur Sungai Efrat, sedangkan pasukan rezim Suriah yang didukung Rusia ditempatkan di sebelah barat Sungai Efrat.

Sudah Saatnya Hentikan Neraka
Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan agar resolusi Dewan Keamanan PBB soal gencatan senjata selama 30 hari di Suriah, bisa dilaksanakan segera. Pemimpin badan dunia itu memuji keluarnya resolusi DK PBB pada Sabtu (24/2) waktu setempat tersebut setelah perdebatan sengit di dewan. Namun ditekankannya, resolusi itu harus diterapkan segera. "Resolusi Dewan Keamanan hanya berarti jika itu diimplementasikan secara efektif dan karena itulah saya mengharapkan resolusi segera diimplementasikan dan dipertahankan," tutur Guterres.

Guterres mengatakan, dengan gencatan senjata, badan-badan kemanusiaan PBB akan bisa mengantarkan bantuan dan mengevakuasi para korban luka dari Ghouta Timur, kawasan di pinggiran Damaskus yang dikuasai pemberontak. Kawasan tersebut gencar diserang militer Suriah dalam beberapa hari terakhir ini, hingga menewaskan ratusan warga sipil. Sekitar 400 ribu orang bermukim di wilayah tersebut.

"Ghouta Timur tak bisa menunggu, sudah saatnya menghentikan neraka di bumi ini," cetus Guterres dalam pidato pembukaan sesi tahunan ke-37 Dewan HAM PBB di Jenewa, Swiss seperti dilansir kantor berita Reuters, Senin (26/2).

Sebelumnya, Guterres menyebut situasi di Ghouta Timur seperti "neraka di muka bumi." Dalam pernyataan di depan anggota Dewan Keamanan PBB di New York, hari Rabu (21/02), Guterres menyerukan penghentian pertempuran di kawasan yang dikuasai pemberontak tersebut. "Seruan saya kepada semua pihak yang terlibat perang adalah, hentikan pertempuran sesegera mungkin," kata Guterres.

Pemimpin badan dunia itu menambahkan, gencatan senjata sangat penting untuk memungkinkan penyaluran bantuan kemanusiaan kepada warga sipil di Ghouta Timur yang terjebak konflik. Kata 'neraka' yang digunakan Sekjen PBB tersebut untuk menggambarkan situasi dan kondisi yang sangat mengenaskan di kawasan ini. Seorang warga setempat, Firas Abdullah mengatakan, "Rudal dan mortir dijatuhkan ke kami seperti hujan." "Tak ada tempat untuk bersembunyi di Ghouta Timur ini ... kami tak bisa lepas dari mimpi buruk," ujarnya. (AFP/Rtr/dtc/q)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru