Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Senin, 13 April 2026

Anak-anak Irak Direkrut Jadi Prajurit ISIL, Warga Irak Putus Asa

* Pesawat Suriah Bom Irak, 57 Warga Sipil Tewas
- Jumat, 27 Juni 2014 17:23 WIB
556 view
Anak-anak Irak Direkrut Jadi Prajurit ISIL, Warga Irak Putus Asa
BAGHDAD (SIB)- Kelompok militan Islamic State in Iraq and the Levant (ISIL) memanfaatkan anak-anak untuk dijadikan prajurit di Irak. Sebelumnya tuduhan sama diarahkan kepada ISIL di Suriah. Satu rekaman video menunjukkan konvoi kelompok ISIL yang memasuki Kota Mosul, pada Selasa (24/6), memperlihatkan bocah-bocah kecil yang membawa senjata. Mereka juga turut dalam truk yang dipenuhi militan ISIL.

Sebelumnya kelompok pemerhati HAM Human Rights Watch mengklaim bahwa kelompol ISIL merekrut anak-anak untuk dijadikan prajurit di Suriah. Anak-anak itu ditugaskan sebagai penembak jitu. Demikian diberitakan The Independent, Kamis (26/6). Namun untuk wilayah Irak, belum diketahui apa peran yang dipegang pasukan anak-anak ini. Tetapi mereka jelas dipersenjatai dengan sengaja oleh ISIL.

Jumlah anak-anak yang tewas dalam konflik yang terus berlangsung di Irak saat ini, masih belum bisa diprediksi. Tetapi banyak rekaman video beredar dan menunjukkan bocah-bocah tersebut turut dalam perang. ISIL terus meninggalkan jejak kehancuran di setiap wilayah yang mereka lalui. Mereka melakukan tindakan pemenggalan, eksekusi yang berlangsung massal di wilayah utara Irak. Kejahatan yang dilakukan ISIL diketahui sudah dilaporkan ke PBB. Sementara ribuan warga berlari menyelamatkan diri dan mengupayakan agar mereka tidak tertangkap oleh pendukung ISIL.

Warga Irak Putus Asa
Para militan Sunni terus melancarkan serangan-serangan di sejumlah wilayah Irak. Pertempuran antara pasukan Irak dan para militan pun terus terjadi. Kondisi ini menimbulkan keputus-asaan bagi rakyat Irak yang terperangkap di tengah konflik tersebut.

Seorang wanita Irak, Amsha dan keluarganya memutuskan untuk meninggalkan rumah mereka di kota Tal Afar, Irak utara setelah serangan mortir pada suatu malam menewaskan tetangganya. Wanita berumur 24 tahun itu beserta delapan anggota keluarganya kini tinggal di satu tenda di kamp Germawa di provinsi Dohuk, yang dihuni mayoritas warga Kurdi.

Amsha menggambarkan malam-malam penuh teror yang dialaminya, ketika para militan Sunni terlibat baku tembak dengan pasukan Irak. "Kami seperti mau gila dengan serangan-serangan itu. Pesawat-pesawat pemerintah terbang berputar-putar dan kami tidak tahu kapan mereka akan menembak atau di mana," tutur Amsha seperti diberitakan AFP, Kamis (26/6).

"Tetangga kami tewas dalam serangan di suatu malam ketika dia akan pergi ke toilet, dan kami semua tak bisa tidur karena kami tidak tahu apakah kami bisa bangun kembali," ujarnya.

Setelah beberapa hari terjadi pertempuran, Amsha dan keluarganya angkat kaki dari rumah mereka, sampai akhirnya mereka pun tiba di Germawa. Kamp tersebut menampung hampir 700 orang warga yang mengungsi. Mereka berasal dari kota Tal Afar dan Mosul, kota pertama di Irak yang jatuh ke tangan para militan Sunni. Dikatakan Amsha, dirinya memilih kabur karena takut akan serangan-serangan militan dan pasukan Irak. "Kami terjebak di tengah-tengah... Kami cuma ingin bisa tidur dan tahu bahwa kami akan bangun kembali di pagi hari," kata Amsha sembari menangis.

Dituturkan Amsha, dirinya tidak peduli soal siapa yang memimpin negara. "Saya tak peduli siapa yang memimpin: Arab, Kurdi, Sunni, Syiah. Kami cuma menginginkan masa depan," pungkas mahasiswi tersebut.

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mencatat, krisis Irak yang dipicu kelompok militan Sunni Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) ini, telah merenggut sedikitnya 1.075 nyawa selama kurun waktu antara 5 Juni hingga 22 Juni.

Pesawat Suriah Bom Irak, 57 Warga Sipil Tewas
Pesawat Suriah dilaporkan mengebom kota dekat perbatasan di Irak, menewaskan sedikitnya 57 warga sipil. Tindakan ini disebut bentuk bantuan negara-negara Syiah sekutu Irak dalam menghadapi serbuan militan ISIL. Sebelumnya, Iran sudah lebih dulu mengirimkan ratusan tentara mereka.

Diberitakan CNN, Rabu (25/6) selain menewaskan puluhan orang, lebih dari 120 lainnya juga terluka saat bom dijatuhkan di beberapa wilayah perbatasan di provinsi Anbar, Irak, Selasa waktu setempat. Wilayah-wilayah ini diketahui telah dikuasai dengan mudah oleh ISIL setelah tentara Irak kocar-kacir.

Menurut kepala dewan provinsi Anbar, Sabar Karkhout, serangan jet Suriah itu mengenai pasar dan pom bensin, di antaranya di wilayah Rutba, al-Walid danal-Qaim. "Rezim Suriah melakukan serangan barbar terhadap warga sipil di Anbar," kata Karkhout.

Juru bicara militer Irak Mayor Jenderal Qassim Atta membantah laporan serangan jet Suriah ini. "Kami tahu batas udara masing-masing. Kami tidak mencatat adanya infiltrasi udara kami oleh pesawat asing, semua jet dan helikopter yang terbang di atas wilayah ini adalah milik Irak," kata Atta. Namun warga bersikeras bahwa itu adalah pesawat Suriah. Warga melihat sendiri dengan mata telanjang atau teropong, ada gambar bendera Suriah di badan pesawat. "Selain itu, pesawat juga terbang dari Suriah dan kembali ke Suriah," tegas Karkhout. Hal yang sama disampaikan oleh kepala Misi Bantuan PBB untuk Irak, Nickolay Mladenov, yang mengatakan pesawat pengebom itu bukan milik Irak. Namun dia tidak menjelaskan pesawat milik siapa itu.

Iran Kirim Drone
Jika benar serangan ini dilakukan oleh Suriah, berarti sekutu-sekutu Irak mulai bergerak membantu. Sebelumnya Iran telah menurunkan pasukan mereka ke Irak untuk melindungi situs-situs suci Syiah seperti Karbala dan Najaf. Laporan terbaru yang dikutip dari New York Times, Teheran telah mengirimkan pesawat nirawak dan perangkat militer untuk Irak.

Menurut sumber pejabat Amerika Serikat, Iran menurunkan dua drone Ababil untuk melakukan mata-mata di wilayah yang dikuasai ISIL. Selain itu, setiap harinya Iran mengirimkan dua pesawat yang masing-masing membawa perangkat militer seberat 70 ton.

"Ini jumlah yang besar. Memang bukan persenjataan berat, tapi ini bukan hanya amunisi dan senjata ringan," kata pejabat AS yang enggan disebut namanya itu.

Sementara permintaan AS agar pemerintahan Perdana Menteri Nouri al-Maliki melakukan rekonsiliasi dengan Sunni masih juga belum dikabulkan. Maliki malah menuduh kelompok Sunni telah berkolaborasi dengan militan untuk menggulingkannya dari tampuk kekuasaan. "Irak tengah menghadapi serangan teroris lintas-batas yang didukung oleh negara-negara tetangga," kata Maliki. (CNN/AFP/kps/dtc/i)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru