Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Selasa, 10 Maret 2026

Presiden Taiwan Berkunjung ke AS, Cari Dukungan untuk Halau Tekanan China?

* Dituduh Dukung Taiwan Merdeka, Politisi Jepang Dilarang Masuk Hong Kong
- Minggu, 12 Agustus 2018 16:19 WIB
478 view
Presiden Taiwan Berkunjung ke AS, Cari Dukungan untuk Halau Tekanan China?
SIB/SCMP / FACEBOOK KENICHIRO WADA
DILARANG MASUK: Dewan Kota Shiroi Prefektur Chiba, Kenichiro Wada, yang dilarang masuk Hong Kong lantaran dituduh mendukung kemerdekaan Taiwan setelah tiba di Bandara Internasional Hong Kong, Kamis (9/8).
Taipei (SIB) -Presiden Taiwan Tsai Ing-wen akan berkunjung ke Amerika Utara, Tengah dan Selatan bulan ini dalam upaya mempertahankan dukungan dari para negara sekutu asingnya dan memperkuat hubungan dengan Amerika Serikat. Seperti dikutip dari VOA Indonesia, Sabtu (11/8), langkah itu dianggap sangat penting untuk menghadapi tekanan yang meningkat dari China

Tsai, pada Minggu 12 Agustus akan bertolak ke Paraguay, satu-satunya sekutu Taiwan di Amerika Selatan, dan negara kecil di Amerika Tengah, Belize. Ia dijadwalkan singgah di beberapa kota di Amerika Serikat, Los Angeles dan Houston, untuk mengikuti acara yang oleh sebagian kalangan diharapkan akan memperlihatkan kekuatan hubungan Taiwan-AS.

Para pakar menyatakan Tsai perlu bersikap baik terhadap Belize dan Paraguay, dua dari 18 sekutu resminya yang tersisa, dan mempertahankan momentum belakangan ini dalam hubungan Taiwan-Amerika Serikat. China telah mengecam safari politik itu karena menganggap Taiwan adalah bagian dari wilayahnya, bukan negara yang berhak memiliki kebijakan diplomasi sendiri dengan Washington.

Para pejabat partai Komunis di Beijing semakin melemahkan hubungan luar negeri Taiwan sejak Tsai menjabat pada tahun 2016. Mereka marah pada Tsai yang menolak mengakui pemerintahan Beijing dan kebijakan One China Policy.

Hubungan Lintas Selat atau Cross-strait relation (label yang diberikan untuk mengidentifikasi relasi Taiwan-China) mencapai titik terburuknya sejak Presiden Tsai Ing-wen dari Partai Progresif Demokratik Taiwan menolak kebijakan Satu China atau One-China Policy dari Tiongkok.

Di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping, Beijing menggaungkan konsep One-China Policy sebagai upaya untuk menyerap kembali Taiwan sebagai bagian dari Tiongkok. Bahkan, muncul kekhawatiran kalau China mungkin akan mencapai tujuan itu dengan memilih opsi militer.

Akibatnya, Taiwan menghentikan pembicaraan dan pertukaran dengan China. Di sisi lain, China membalas dengan mengintensifkan kehadiran militernya di dekat laut Taiwan. Tetapi, Tsa Ing-wen tetap dapat mencegah Negeri Tirai Bambu semakin mendekat, berkat bantuan Amerika Serikat yang mengkhawatirkan bahwa 'jatuhnya' Taiwan ke tangan Tiongkok menjadi gerbang bagi Beijing untuk semakin memperluas pengaruhnya ke Laut China Selatan dan kawasan Asia Pasifik.

DILARANG MASUK HONG KONG 
Seorang politisi Jepang yang dituduh mendukung dan mendorong kemerdekaan Taiwan dilarang masuk ke Hong Kong. Larangan tersebut dikenakan pada Kenichiro Wada, anggota dewan kota dari kota Shiroi, prefektur Chiba, Jepang. Wada dituduh oleh media pro-Beijing telah mengadvokasi kemerdekaan Taiwan. 
Wada mengatakan, sekitar 10 staf imigrasi membawanya segera setelah dia tiba di Bandara Internasional Hong Kong, pada Kamis (9/8) dan memberitahukannya tentang pelarangan tersebut, namun tanpa memberikan alasan. "Saya turut menyesalkan pemerintah Hong Kong yang salah menganggap saya sebagai musuhnya, karena pemberitaan media yang tak akurat, seperti yang dilakukan surat kabar Wen Wei Po," tulis Wada pada laman akun media sosialnya. "Tapi saya percaya kesalahpahaman ini akan terselesaikan suatu hari nanti," lanjutnya. 

Seorang juru bicara Departemen Keimigrasian Hong Kong mengatakan, pihaknya tidak akan memberi komentar terhadap kasus-kasus individual. Dia juga tidak mengatakan apakah larangan tersebut sebagai permintaan Beijing atau Hong Kong, maupun mengenai kemungkinan adanya daftar orang-orang yang ditolak masuk. Namun dia mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan keputusan sesuai dengan undang-undang kota dan kebijakan imigrasi yang berlaku. 

Sebelumnya, Wada telah mengunjungi Hong Kong pada Maret lalu untuk memberikan dukungan kepada pengkritik demokrat, Au Nok-hin dalam pemilihan dewan legislatif, yang kemudian terpilih. Kedatangan Wada tersebut telah memicu kritik dari surat kabar pro-pemerintah Beijing dan juga Kementerian Luar Negeri. Kementerian tersebut mengecam tindakan Wada yang datang dan mengintervensi pemilihan di Hong Kong. 

Mereka menyebut Wada telah bertindak sembrono melanggar hukum internasional. Kementerian tersebut juga mengaku telah melayangkan nota keberatan kepada konsulat jenderal Jepang di Hong Kong. Selain Wada, sejumlah politisi dan aktivis luar negeri pernah ditolak masuk ke Hong Kong dalam beberapa tahun terakhir diyakini karena alasan politik. (liputan6/kps/f)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru