Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan
Rabu, 15 April 2026

Khashoggi Dibunuh Karena Punya Info Penggunaan Senjata Kimia Saudi di Yaman

* Intel Inggris Tahu dan Coba Cegah Operasi Saudi Terhadap Khashoggi
- Selasa, 30 Oktober 2018 17:46 WIB
425 view
Istanbul (SIB)- Jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, dibunuh karena mengetahui Arab Saudi menggunakan senjata kimia dalam konflik di Yaman. Mendiang Jamal Khashoggi, dilaporkan akan mendapat bukti penting soal penggunaan senjata kimia oleh militer Saudi dalam konflik Yaman sesaat sebelum dia tewas dibunuh di Istanbul, Turki, awal Oktober lalu. 

Hal itu dituturkan seorang sahabat Khashoggi seperti dikutip tabloid Inggris, The Sunday Express dan dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Senin (29/10). Identitas sahabat Khashoggi ini tidak disebut lebih lanjut. The Sunday Express menyebutnya sebagai akademisi Timur Tengah.

Laporan The Sunday Express ini menyebut Khashoggi hendak mendapatkan 'bukti dokumenter' yang membuktikan klaim soal Saudi pernah menggunakan senjata kimia dalam konflik di Yaman. Diketahui bahwa Saudi menjalankan operasi militer melawan kelompok Houthi yang didukung Iran dalam konflik Yaman. 

"Saya bertemu dengannya (Khashoggi-red) seminggu sebelum kematiannya. Dia tidak senang dan dia khawatir," sebut sahabat Khashoggi ini. "Ketika saya bertanya kepadanya mengapa dia khawatir, dia tidak begitu ingin menjawab, tapi akhirnya dia memberitahu saja bahwa dia akan mendapatkan bukti bahwa Arab Saudi pernah menggunakan senjata kimia," ungkap sahabat Khashoggi tersebut seperti dikutip The Sunday Express. "Dia (Khashoggi-red) mengatakan dirinya berharap dia akan mendapatkan bukti dokumenter," imbuhnya. "Yang bisa saya katakan kepada Anda adalah hal selanjutnya yang saya dengar, dia menghilang," ucap sahabat Khashoggi tersebut.

Disebutkan The Sunday Express dalam laporannya bahwa bulan lalu muncul klaim bahwa 'Saudi menggunakan amunisi fosforus putih yang disuplai AS terhadap tentara dan bahkan warga sipil di Yaman'. "Meskipun aturan menyatakan zat kimia itu mungkin saja digunakan untuk memberikan tabir asap (smokescreens), jika digunakan secara ilegal itu bisa membakar hingga ke tulang," sebut The Sunday Express dalam laporannya.

Dalam laporannya, The Sunday Express mengutip pakar perang kimia Kolonel Hamish de Bretton-Gordon yang menekankan bahwa 'tidak ada yang seefektif senjata kimia dalam membersihkan area-area perkotaan dari tentara dan warga sipil -- (Presiden Suriah Bashar) Assad pernah menggunakan fosforus untuk alasan ini'. "Jika Khashoggi, faktanya, memiliki bukti bahwa Arab Saudi secara sengaja menyalahgunakan fosforus untuk alasan ini, tentu akan sangat mempermalukan rezim dan memberikan motif paling dekat soal mengapa Riyadh mengambil tindakan terhadapnya," sebut Bretton-Gordon.

Belum ada tanggapan resmi dari otoritas Saudi maupun Turki terhadap laporan ini. Diketahui bahwa fosforus merupakan unsur kimia non-logam yang beracun dan mudah terbakar. Penggunaan fosforus putih dilarang di bawah Konvensi Jenewa, terutama terhadap warga sipil dan terhadap target-target militer yang sah di area-area dengan populasi mayoritas warga sipil.

Intel Inggris Tahu dan Coba Cegah
Intelijen Inggris disebut telah mengetahui rencana operasi Arab Saudi terhadap wartawan Jamal Khashoggi jauh sebelum dia dibunuh di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Intelijen Inggris sempat memperingatkan Saudi untuk membatalkan operasi terhadap Khashoggi itu, namun diabaikan. 

Seperti dilansir kantor berita Turki, Anadolu Agency, Senin (29/10), informasi itu dilaporkan oleh tabloid Inggris, The Sunday Express, yang mengutip sumber intelijen Inggris yang tidak disebut namanya. Laporan ini ditulis oleh editor diplomatik The Sunday Express, Marco Giannangeli.

Dilaporkan juga oleh The Sunday Express bahwa 'seorang anggota lingkar dalam kerajaan (Saudi)' yang memerintahkan penculikan Khashoggi. The Sunday Express menyebut bahwa dinas intelijen Inggris mengetahui rencana penculikan Khashoggi beberapa pekan sebelumnya.

"(Intelijen Inggris) Awalnya menyadari sesuatu terjadi pada pekan pertama September, sekitar tiga minggu sebelum Khashoggi berjalan ke dalam konsulat pada 2 Oktober, meskipun dibutuhkan lebih banyak waktu bagi informasi detail lainnya untuk muncul," sebut sumber tersebut.

"Detail ini termasuk perintah utama untuk menangkap Khashoggi dan membawanya kembali ke Arab Saudi untuk ditanyai. Namun, tampaknya pintu dibiarkan terbuka untuk perlakuan alternatif atas hal yang dipandang sebagai persoalan besar," tutur sumber itu kepada The Sunday Express. 

Informasi yang disampaikan sumber ini didasarkan pada informasi dari Markas Komunikasi Pemerintah Inggris (GCHQ), salah satu badan intelijen Inggris. Lebih lanjut, disebutkan sumber tersebut bahwa perintah utama untuk menangkap dan membawa Khashoggi kembali ke Saudi dari Istanbul diberikan oleh seorang anggota lingkar dalam Kerajaan Saudi, yang identitasnya tidak disebut.

"Kami tahu perintah datang dari seorang anggota lingkar dalam kerajaan tapi tidak memiliki informasi langsung soal keterkaitan mereka dengan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman. Apakah ini berarti dia (Putra Mahkota Saudi-red) bukan pemberi perintah sebenarnya, kita tidak tahu," ujar sumber itu.

Sumber yang dikutip The Sunday Express juga menyebut bahwa MI6 atau Dinas Intelijen Rahasia Inggris sebenarnya telah memperingatkan intelijen Saudi untuk membatalkan operasi terhadap Khashoggi itu, namun diabaikan. "Pada 1 Oktober, kami menyadari pergerakan sebuah kelompok, yang termasuk anggota-anggota Ri'asat Al-Istikhbarat Al-Amah (GID) ke Istanbul, dan menjadi cukup jelas apa tujuan mereka," sebut sumber intelijen tersebut kepada The Sunday Express.

"Melalui berbagai saluran, kami memperingatkan bahwa ini bukan ide yang baik. Peristiwa yang terjadi selanjutnya menunjukkan bahwa peringatan kami diabaikan," imbuh sumber intelijen tersebut. 

Saat ditanya mengapa MI6 tidak memberi peringatan kepada mitra intelijen Amerika Serikat, sumber tersebut menyatakan 'keputusan telah diambil bahwa kami telah melakukan apa yang kami bisa'.

Pekan lalu, otoritas Saudi mengakui bahwa Khashoggi (60) tewas dalam pembunuhan yang telah direncanakan di Konsulat Saudi di Istanbul, usai menyangkal selama beberapa minggu. Namun pertanyaan soal keberadaan jenazah Khashoggi dan siapa pemberi perintah pembunuhan masih belum terjawab. 

Jaksa Saudi Tiba di Istanbul
Sementara itu, Jaksa penuntut Arab Saudi dilaporkan tiba di Kota Istanbul, Turki, pada Senin (29/10), untuk menyelidiki kematian Jamal Khashoggi, wartawan pengkritik Raja Salman. Kantor berita Anadolu melaporkan jaksa penuntut Saudi akan memeriksa kantor konsulat Saudi di Istanbul, tempat Khashoggi tewas setelah sebelumnya dinyatakan hilang tiga pekan lalu.

Selain itu, jaksa Saudi juga dikabarkan akan bertemu dengan kepala jaksa Istanbul meski belum jelas waktu pertemuan keduanya. Sejauh ini, jaksa Turki juga telah mempersiapkan permintaan ekstradisi 18 tersangka yang telah di tangkap otoritas Saudi sebagai bagian dari penyelidikan.

Dikutip Reuters, belasan tersangka itu termasuk 15 orang dari tim khusus, yang menurut pemerintah Turki sengaja dikirim ke Istanbul oleh dengan misi membunuh Khashoggi. Ankara juga menyatakan pihaknya telah berbagi informasi penyelidikan Khashoggi bersama sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Jerman, Perancis, dan Rusia.

Setelah sempat menyangkal, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam konsulatnya di Istanbul pada 2 Oktober lalu. Meski begitu, Riyadh menegaskan bahwa pemerintah tidak terlibat dalam konspirasi pembunuhan tersebut. Saudi menganggap pembunuhan Khashoggi merupakan "sebuah kesalahan sangat besar" yang dilakukan "pihak-pihak" di luar otoritas dan tanggung jawab mereka.

Saudi bersumpah akan menyelidiki secara menyeluruh insiden ini. Raja Salman secara terbuka menyebut pembunuhan Khashoggi sebagai peristiwa menjijikkan. Sementara jaksa Saudi untuk pertama kalinya pada pekan lalu menyatakan pembunuhan Khashoggi telah direncanakan sebelumnya, berdasarkan bukti-bukti hasil penyelidikan aparat Turki. (Sunday Express/Detikcom/h)
SHARE:
Tags
komentar
beritaTerbaru